Salah satu permasalahan di nanggroe aceh darussalam pasca gempa bumi dan tsunami, khususnya di barak-barak pengungsian adalah air minum. penyediaan air minum yang bersih dan bebas dari bakteri pembawa penyakit dilakukan oleh berbagai pihak baik dari pemerintah dan lembaga-lembaga non pemerintah. hasil uji di lapangan membuktikan air minum yang dikonsumsi oleh para pengungsi masih terkontaminasi oleh bakteri-bakteri penyebab penyakit. barak pengungsian lambaro, aceh besar menjadi lokasi penelitian ini. banyak pengungsi di barak tersebut tidak memperhatikan kesehatan air minum karena kurangnya informasi tentang waktu perebusan, lama dan kondisi penyimpanan yang baik, untuk mendapatkan air yang layak minum. air minum yang telah direbus bisa terkontaminasi kembali oleh bakteri penyebab penyakit disebabkan kurang memperhatikan kondisi atau wadah penyimpanan selama air minum disimpan. tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui waktu perebusan yang tepat serta pengaruh lama dan kondisi penyimpanan terhadap kualitas air minum dan mengetahui apakah air minum yang disuplai pemerintah atau ngo di barak pengungsian lambaro layak minum atau tidak. rancangan percobaan yang digunakan adalah split-split plot design yang terdiri dari tiga faktor perlakuan dan tiga kali ulangan. faktor i adalah lama waktu perebusan (t) yang terdiri dari 4 taraf yaitu t 1 = perebusan selama 0 menit pada suhu 100 °c, t2 = perebusan selam 2,5 menit pada suhu 100 °c, t3 = perebusan selama 5 menit pada suhu 100 "c, dan t, = perebusan selama 10 menit pada suhu 100 "c, faktor ii adalah lama penyimpanan (p) terdiri dari 3 taraf yaitu 1 = penyimpanan selama 0 hari setelah perebusan (5 jam), p2 = penyimpanan selama 1 hari setelah perebusan (29 jam). dan p3, =penyimpanan selama 2 hari setelah perebusan (59 jam). faktor iii adalah kondisi penyimpanan (w) terdiri dari 2 taraf yaitu w1, = kondisi/botol tertutup dan w2, = kondisi/botol terbuka. analisis yang dilakukan adalah uji jumlah eschericia coli, uji klorin bebas, dan total padatan terlarut. hasil penelitian ini menunjukkan bahwa jumlah eschericia coli terbanyak dan dikategorikan beresiko tinggi terhadap gangguan kesehatan, terdapat pada kondisi penyimpanan terbuka, lama penyimpanan 2 hari, dan lama waktu perebusan 10 menit (w2p3t4, kelompok 1i) dan pada kondisi terbuka, lama penyimpanan 2 hari, dan lama waktu perebusan 2,5 menit (w2p,3t4, kelompok 2). sedangkan terhadap perlakuan yang lain, setelah dianalisis menunjukkan jumlah eschericia coli yang tidak beresiko terhadap gangguan kesehatan. ditemukannya eschericia col pada sampel air yang telah mengalami perlakuan penyimpanan menunjukkan indikas adanya pencemaran ulang (rekontaminasi) air yang terjadi selama penyimpanan terutama pada penyimpanan kondisi terbuka di barak pengungsian lambaro. jumlah klorin bebas terhadap lama waktu perebusan, kondisi dan lama penyimpanan pada air minum tidak berpengaruh nyata, sedangkan nilai tds terhadap lama penyimpanan dan internksi lama waktu perebusan berpengaruh nyata, hal ini disebabkan waktu perebusan dan lama penyimpanan akan meninggalkan residu pada air sehingga total padatan terlarut yang ada semakin berkurang. dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa air minum yang disuplai oleh ngo/pdam ke barak lambaro layak untuk diminum karena memenuhi syarat air minum menurut kepmenkes ri no.907/sk/vll/2002.
Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
PENGARUH WAKTU PEREBUSAN, LAMA DAN KONDISI PENYIMPANAN TERHADAP KUALITAS AIR MINUM DI BARAK PENGUNGSIAN LAMBARO, ACEH BESAR. Banda Aceh Fakultas Pertanian,2006
Baca Juga : ANALISA SIFAT MEKANIK BAMBU SETELAH PROSES PEREBUSAN (Rina Mirdayanti, 2022)
Abstract
Baca Juga : UJI KOMPERATIF KLIEN KORBAN TSUNAMIRNYANG MENDAPAT DAN TIDAK MENDAPAT KONSELING DENGAN UJI MANNN WHITNEY DAN KRUSKAL WALLIS (Pitri Nofriza, 2022)