Kemampuan penggunaan lahan (kpl) dapat dijadikan indikator kekritisan suatu daerah aliran sungai (das). berdasarkan keputusan menteri kehutanan dan pcrkebunan no. 284/kpts-11/1999 tanggal 7 mei 1999 sub das krueng lnong yang merupakan bagian dari das krueng aceh terma suk kategori das prioritas l kenyataan ini menjelaskan secara de yure bahwa sub das krueng inong merupakan daerah yang segera harus ditangani secara serius, gradual dan terpadu. makin meningkatnya pertumbuhan penduduk indonesia menyebabkan semakin bertambah pula kebutuhan terhadap pangan serta lahannya. untuk menghindari kesalahan dalam pemilihan areal untuk kebutuhan tcrsebut, diperlukan klasifikasi lahan sesuai dengan kemampuannya sehingga tidak menyebabkan erosi atau banjir. seiring dengan kemajuan teknologi komputer akhir-akhir ini salah satu diantaranya adalah sistem informasi geografis (sig) atau geographycal information system (gis) yang telah dikembangkan sebagai sistem pengelolaan data dan informasi geografis, dapat pula diaplikasikan dalam usaha perencanaan pengelolaan dan pengembangan das. tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengklasifikasi dan menghitung luasan tiap kemampuan penggunaan lahan (kpl) yang tcrjadi dalam sub das krueng lnong melalui analisa sistem informasi geografis serta mempelajari teknologi sig sebagai perangkat bantu dalam sistem monitoring lahan secara digital. penelitian ini dilaksanakan dengan enam tahap, yaitu; (i) persiapan peta, citra landsat 7 tm, dan data pendukung lainnya, (2) pengecekan peta dasar, tematik, dan data pendukung lainnya, (3) editing dan tabulasi, (4) overlay/pertampalan/tumpangsusun peta-peta digital, (5) pengklasifikasian kemampuan penggunaan lahan (kpl), dan (6) analisa klasifikasi kemampuan penggunaan lahan. untuk mendapatkan nilai dugaan besarnya erosi digunakan persamaan usle yang merupakan perkalian nilai erosivitas, erodibilitas, kemiringan, pengelolaan tanaman, dan konservasi tanah. daerah penelitian mempunyai luas 42.295,370 ha dan nilai erosivitas yang diperoleh dalam 10 tahun terakhir (1994 - 2003) adalah 2004,817 cm/thn dengan jenis tanah komplek podsolik merah kuning, latosol dan litosol merupakan jenis tanah yang paling banyak terdapat (22.332,135 ha). keadaan topografi pada daerah penelitian sebagian besar bergunung (32.889,989 ha) dengan penutupan lahan terluas adalah hutan (31.846,491 ha) serta kedalaman tanah yang cukup baik karena mempunyai kedalaman di alas 90 cm seluas 36.568,710 ha. erosi aktual terbesar sebesar 1.154,775 ton/ha/thn, sedangkan yang terkecil sebesar 0,073 ton/ha/'thn. tingkat bahaya erosi tinggi mencapai 45,628 persen dari luas areal dimana terdapat lima kelas tingkat bahaya erosi, yaitu; sangat ringan (0) 9,583 persen, ringan (i) 3,012 persen, sedang (ii) 17,122 perscn, berat (iii) 4 1,608 persen, dan sangat berat (iv) 28,675 persen. terdapat 174 area yang diperoleh berdasarkan hasil overlay peta erosivitas, erodibilitas, penutupan lahan, kemiringan, dan kedalaman tanah. kelas kemampuan penggunaan lahan vile merupakan kelas terluas yaitu seluas 27.452,877 ha (64,908 persen), kelas kpl tersebut diperoleh berdasarkan nilai erosi, kemiringan, dan kedalaman tanah tertentu. ini menunjukkan bahwa daerah tersebut lebih baik tidak dijadikan daerah pertanian atau perkebunan, karena lebih dari setengah luas daerah tersebut termasuk dalam kelas vile yang hanya sesuai dijadikan padang rumput atau hutan yang disertai dengan tindakan pengelolaan yang tepat dan lebih intensifl
Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
KLASIFIKASI KEMAMPUAN PENGGUNAAN LAHAN MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS PADA SUB DAS KRUENG INONG KABUPATEN ACEH BESAR. Banda Aceh Fakultas Pertanian,2005
Baca Juga : KLASIFIKASI KEMAMPUAN PENGGUNAAN LAHAN MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS PADA SUB DAS KRUENG INONG KABUPATEN ACEH BESAR (Riza A Satria, 2024)
Abstract
Baca Juga : EVALUASI SISTEM KLASIFIKASI KESESUALANRNLAHAN UNTUK TANAMAN KEDELAI DI KABUPATEN BIREUEN (Hasan Sareh, 2024)