Ubi kayu merupakan salah satu alternatif sumber karbohidrat yang cukup penting, karena kandungan gizinya relatif tinggi sehingga mempunyai harapan untuk dikembangkan sebagai makanan sclingan pengganti beras. ubi kayu tanaman yang berasal dari brazil ini juga sering disebut dengan ketela pohon. pengeringan merupakan salah satu rantai penanganan pasca panen ubi yang sangat kritis. pengeringan secara tradisonal selama ini merupakan salah satu penyebab turunnya mutu bahan hasil penanganan pasca panen. pengeringan seperti ini membutuhkan waktu yang relatif lama. oleh karena itu, dibutuhkan teknologi yang efektif dalam proses pengeringan, yaitu dengan menggunakan pcngering buatan yang diversifikasi energi dengan memanfaatkan energi alternatif berupa energi matahari sebagai sumber panas dan biomassa scbagai suplemen panas. penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik pengeringan gaplek ubi kayu yang menggunakan pengering surya tipe efek rumah kaca dengan sumber panas tambahan berbahan bakar sekam. tempat dan waktu penelitian dilakukan di laboratorium pasca panen jurusan teknik pertanian fakultas pertanian universitas syiah kuala, darussalam, banda aceh pada bulan juli sampai agustus 2010. alat yang digunakan pada penelitian adalah pengering surya tipe efak rumah kaca, termometer, timbangan analitik, anemometer, solarimeter, stopwatch. bahan yang digunakan ubi kayu. hasil penelitian memperlihatkan pengujian selama 2 hari pengeringan gaplek ubi kayu, suhu rata-rata ruang pengering hari i yang mendistribusikan panasnya ke rak pengering belum mencapai pada suhu pengeringan yang diharapkan karena pada hari i rendahnya suhu disebabkan oleh kuantitas air bahan yang diuapkan masih terlalu besar, sehingga dapat menurunkan suhu pada ruang dan rak pengering, sehingga suhu rata-rata yang terbaik diperoleh pada pengukuran hari ii, yaitu pada rak 6 dan 7 sebesar 46.6c. hal ini disebabkan karena adanya pengaruh radiasi matahari yang lebih dominan memancarkan panasnya pada 2 rak ini, panas dari suplemen pembakaran biomassa dan laju aliran udara ruang pengering yang membawa uap air menuju pembuangan. untuk temperatur lingkungan, dimana pada hari i temperatur rata-rata sebesar 334'c dan pada hari ii temperatur rata-rata sebesar 34,6"c. rh pada hari i pada ventilasi a, nilai rh tertinggi 79% dan terendah 29,7%. rh tertinggi pada ventilasi b 85,7% dan terendah sebesar 27.3%. untuk lingkungan rh tertinggi sebesar 85,7% dan terendah 55,5%. distribusi rh pada hari i kedua ventilasi memperlihatkan sangat berbeda dengan lingkungan, dimana rh ventilasi a dan ventilasi b berfluktuasi secara signifikan dibandingkan lingkungan. pada ventilasi a, rh tertinggi diperoleh sebesar 85,2%, terendah diperoleh sebesar 32.2%. pada ventilasi b, rh tertinggi diperoleh sebesar 92,4% dan yang terendah sebesar 26.3%, dan untuk lingkungan, rh tertinggi sebesar 92.7% dan terendah sebesar 51,6%. dari kedua hari pengujian, iradiasi surya rata-rata tertinggi diperoleh pada hari pertama dan terendah pada hari kedua, hal ini membuktikan bahwa nilai iradiasi matahari yang diperoleh tidak konstan karena pengaruh cuaca. nilai kecepatan udara antara ruang pengering dan lingkungan memperlihatkan pola yang berbeda. pada hari i ruang pengering nilai tertinggi diperoleh sebesa r 0,6 m/s dan terendah 0,i m/s, untuk lingkungan nilai tertinggi diperoleh sebesar 3,6 m/s dan terendah 0,4 m/s. pada hari ii ruang pengering nilai tertinggi diperoleh sebesar 0,5 m/s dan terendah 0.i m/s, untuk lingkungan nilai tertinggi diperoleh sebesar 2.6 m/s dan terendah 0,4 m/s. dari pengujian yang dilakukan selama 2 hari, kadar air gaplek ubi kayu yang terendah diperoleh pada rak a8 sebcsar 3,5 %, tertinggi pada rak b5 sebesar 10,5 %. untuk lingkungan, kadar air akhir yang diperoleh menunjukkan masih tinggi, yang belum mencapai batas yang diharapkan. kadar pati yang diperoleh dari ubi basah sebesar 71.4 % menjadi pati tepung 24,6 %. waktu yang dibutuhkan untuk pengeringan gaplek ubi kayu dengan menggunakan alat pengering ini yaitu 18 jam (2 hari), diperoleh nilai kapasitas laju pengeringan sebesar 0,83 kg/jam dengan suhu rata-rata ruang pengering sebesar 40 "€ 45 c. untuk total konsumsi sekam padi pada alat pengering surya yaitu sebesar 15,6 kg dan untuk minyak tanah sebesar 330 ml. jumlah energi listrik yang digunakan untuk menggerakkan kipas pada alat pengerin g ini sebesar 2177280 joule.
Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
KAJIAN PENGERINGAN GAPLEK UBI KAYU (MANNIHOT ESCULENTA CRAFT) DENGAN MENGGUNAKAN PENGERING SURYA TIPE EFEK RUMAH KACA. Banda Aceh Fakultas Pertanian,2010
Baca Juga : MODIFIKASI DAN UJI KINERJA PENGERING SURYA UNTUK UBI KAYU (MANIHOT ESCULENTA) DENGAN PENAMBAHAN KINCIR ANGIN SAVONIUS SEBAGAI PENGGERAK KIPAS (Rian Juli Yanda, 2014)
Abstract
Baca Juga : KAJI VARIASI TEKNOLOGI KOLEKTOR SURYA SEBAGAI ALAT PENGERING (RAMANDA SISKA YUDHA, 2020)