Tanaman kelapa ini hidup di daerah tropis yang merupakan salah satu produk tanaman unik karena disamping komponen daging buahnya yang langsung dapat dikonsumsi, juga air buahnya yang dapat langsung diminum tanpa melalui pengolahan. keunikan ini ditunjang oleh sifat fisik dan komposisi kimia daging dan air kelapa, sehingga produk ini sangat digemari konsumen baik anak-anak maupun orang dewasa. selain itu dari segi ekonomis hampir seluruh tanaman kelapa dapat dimanfaatkan untuk menambah nilai ekonomi masyarakat mulai dari sabut kelapa, tempurung, lidi sampai dengan batang kelapa yang bisa dipakai sebagai alternatif pengganti jembatan. memanjat pohon kelapa mempunyai resiko yang besar karena pohon kelapa yang dipanjat mencapai puluhan meter. pemetik buah kelapa tidak hanya memanjat pohon, menjangkau dedaunan dan buah, tetapi pemetik harus mempunyai naluri yang terlatih dalam menentukan buah yang cukup matang untuk di panen dan yang bisa diproduk. untuk memudahkan dalam pemanjatan, pada batang kelapa dibuat kowakan atau tataran dengan jarak 0,5 meter. luka-luka bekas kowakan atau tataran ini harus sering dibersihkan supaya tidak membusuk sehingga batang kelapa tidak lekas menjadi keropos atau menjadi sarang hama kwangwung. prosedur pada penelitian ini adalah observasi lapang meliputi pengamatan pekerjaan pemanjatan kelapa secara tradisional yaitu dengan memanjat langsung. data primer yang diambil adalah ukuran antropometri subjek dan ukuran batang kelapa. selanjutnya pengambilan data yang dilakukan adalah pada saat aktivitas pekerjaan pemanjatan yaitu pemanjatan secara tradisional (memanjat langsung secara tradisional) dan pemanjatan menggunakan alat pemanjat kelapa portabel, video pekerjaan memanjat pohon kelapa, range of motion (rom) rapid upper limb assesment (reba) pengukuran beban kerja kuantitatif dan pengukuran beban kerja kualitatif hasil penelitian menunjukkan hasil selang alami gerak dengan metode rom menujukkan pemanjatan secara tradisional mendapatkan zona yang berbahaya dibandingkan dengan menggunakan alat dibuktikan dengan didapat tingkat zona yang merata antara zona nyaman hingga waspada pada penggunaan alat portabel.skor reba menunjukkan nilai 4-5 dari hasil penggunaan alat portabel, jauh lebih aman dibandingkan tradisional dengan skor 10-11. hasil dari nbm menunjukkan pemanjatan secara tradisional memiliki jumah keluhan yang lebih tinggi daripada pemanjatan menggunakan alat. hasil analisis kualitatif yang diperoleh yaitu rata-rata irhr (increase ratio of heart rate) kerja pada proses memanjat tradisional dalam kategori berat dan proses memanjat menggunakan alat dalam kategori berat. hasil analisis kuantitatif yang diperoleh pada proses pemanjatan yaitu dihasilkan nilai wec pada kedua proses pemanjatan adalah 1,82-1,93 kkal/menit. nilai tec yang diperoleh pada kedua proses pemanjatan adalah 2,78-2,90 kkal/menit. total energi per berat badan (tec’) yang diperoleh pada kedua proses pemanjatan adalah 3,22-2,37 kkal/kg. dapat disimpulkan kategori pengerjaan kegiatan secara tradisional dan menggunakan alat adalah berat.
Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
ANALISIS ERGONOMI ALAT PANJAT KELAPA PORTABEL DAN TRADISIONAL. Banda Aceh fakultas teknik pertanian,2024
Baca Juga : UJI KINERJA DAN ANALISIS EKONOMI ALAT PANJAT PINANG (ARECA CATECHU L.) PORTABLE (FITRIA WAHDINI, 2025)
Abstract
This coconut plant lives in tropical areas which is one of the unique plant products because in addition to the components of the fruit flesh that can be consumed directly, the fruit water can also be drunk directly without processing. This uniqueness is supported by the physical properties and chemical composition of coconut flesh and water, so that this product is very popular with consumers, both children and adults. In addition, from an economic perspective, almost all coconut plants can be used to increase the economic value of the community, starting from coconut fiber, shells, ribs to coconut trunks that can be used as an alternative to bridges. Climbing coconut trees has a high risk because the coconut trees that are climbed reach tens of meters. Coconut pickers do not only climb trees, reach leaves and fruit, but pickers must have a trained instinct in determining which fruit is ripe enough to be harvested and which can be produced. To facilitate climbing, a kowakan or level is made on the coconut trunk with a distance of 0.5 meters. Holes or wounds on the trunk must be cleaned frequently so that they do not rot so that the coconut trunk does not quickly become porous or become a nest for kwangwung pests. The procedure in this study was field observation including observation of traditional coconut climbing work, namely by climbing directly. The primary data taken were the anthropometric measurements of the subjects and the size of the coconut trunk. Furthermore, data collection was carried out during climbing work activities, namely traditional climbing (direct climbing traditionally) and climbing using portable coconut climbing tools, videos of coconut tree climbing work, Range of Motion (ROM) Rapid Upper Limb Assessment (REBA) quantitative workload measurement and qualitative workload measurement. The results of the study showed that the results of the natural interval of motion with the ROM method showed that traditional climbing got a dangerous zone compared to using tools, as evidenced by the level of zones that were evenly distributed between the comfort zone and the alert zone when using portable tools. The REBA score showed a value of 4-5 from the results of using portable tools, much safer than traditional with a score of 10-11. The results of the NBM showed that traditional climbing had a higher number of complaints than climbing using tools. The results of the qualitative analysis obtained are the average IRHR (Increase Ratio of Heart Rate) of work in the traditional climbing process in the heavy category and the climbing process using tools in the heavy category. The results of the quantitative analysis obtained in the climbing process are the WEC values produced in both climbing processes are 1.82-1.93 kcal/minute. The TEC value obtained in both climbing processes is 2.78-2.90 kcal/minute. The total energy per body weight (TEC') obtained in both climbing processes is 3.22-2.37 kcal/kg. It can be concluded that the category of traditional and tool-based activities is heavy.
Baca Juga : PERANCANGAN SISTEM CHARGER GADGET DENGAN MENGGUNAKAN VERTICAL WIND TURBINE GENERATOR PORTABEL (Andika Ilma, 2016)