Universitas Syiah Kuala | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI
Ahmad Mirza, PENERIMAAN DIRI REMAJA TUNANETRA DAN TUNADAKSA DI SLB BANDA ACEH. Banda Aceh ,2024

Penerimaan diri dipandang sebagai kemampuan individu untuk menerima keadaan fisik, mental, dan sosialnya secara positif, meskipun memiliki keterbatasan. tujuan penelitian ini untuk memahami makna penerimaan diri remaja penyandang tunanetra dan tunadaksa di sekolah luar biasa (slb) di aceh. penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dengan subjek yang dipilih secara purposive sampling. subjek penelitian adalah remaja penyandang tunanetra dan tunadaksa yang bersekolah di slbn pembina provinsi aceh, slb negeri banda aceh, dan slb bukesra aceh. hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat penerimaan diri remaja tunanetra dan tunadaksa berbeda-beda, sebagian menunjukkan bahwa mereka masih dalam tahapan untuk menerima dirinya dan selebihnya sudah pada tahapan penerimaan diri yang cukup baik. proses penerimaan diri yang paling banyak dilalui adalah fase penolakan (denial). faktor yang mempengaruhi adalah dukungan keluarga, keyakinan, hubungan pertemanan, dan dukungan dari pihak sekolah. sementara faktor penghambat adalah internalisasi stigma, kurangnya dukungan sosial, dan tantangan psikososial.



Abstract

Self-acceptance is seen as an individual's ability to accept their physical, mental, and social circumstances positively, despite having limitations. The purpose of this study was to understand the meaning of self-acceptance of adolescents with visual impairments and disabilities in special schools (SLB) in Aceh. This research uses a qualitative approach with descriptive methods. Data collection techniques were conducted through interviews with subjects selected by purposive sampling. The research subjects were blind and disabled adolescents who attended SLBN Pembina Aceh Province, Banda Aceh State Special School, and Bukesra Aceh Special School. The results showed that the level of self-acceptance of blind and disabled adolescents varied, some showed that they were still in the stage of accepting themselves and the rest were already at a fairly good stage of self-acceptance. The most widely travelled self-acceptance process is the denial phase. Influencing factors are family support, beliefs, friendship relationships, and support from the school. While inhibiting factors are internalisation of stigma, lack of social support, and psychosocial challenges.



    SERVICES DESK