Konflik manusia dan satwa liar merupakan segala interaksi antara manusia dan satwa liar yang akan memberikan dampak negatif kepada kehidupan sosial ekonomi manusia, seperti adanya pemangsaan terhadap hewan domestik, lalu penyerangan terhadap manusia, dan harimau yang terisolasi. konflik manusia dan manusia (kmh) selalu saja terjadi hampir di seluruh dunia serta dapat menimbulkan kerugian dari kedua belah pihak. di aceh selatan konflik manusia dan harimau sumatera terus berlangsung sampai saat ini. khususnya pada kecamatan tapaktuan dan kecamatan kluet timur konflik manusia dan harimau sumatera sudah sangat meresahkan masyarakat. konflik manusia dan harimau sumatera ini sudah merugikan kedua belah pihak, berbagai cara telah dilakukan masyarakat setempat untuk melakukan pengusiran harimau sumatera agar tidak lagi turun ke pemukiman dan perkebunan masyarakat lagi. penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis hewan ternak yang menjadi mangsa harimau sumatera dan penyebab terjadinya konflik manusia dan harimau, untuk mengetahui nilai kerugian yang dialami masyarakat yang hewan ternaknya menjadi mangsa harimau sumatera, dan untuk mengetahui upaya yang telah dilakukan oleh pihak lembaga dalam mengatasi konflik manusia dan harimau agar tidak terjadi lagi permasalahan harimau memakan ternak masyarakat di kecamatan tapaktuan dan kecamatan kluet timur. penelitian ini menggunakan metode teknil purposive sampling. hasil dari penelitian menunjukkan bahwa konflik antara manusia dan harimau di kedua kecamatan menyebabkan kerugian ekonomi yang signifikan, dengan total kerugian mencapai rp. 99.000.000.00 juta di kecamatan kluet timur dan rp 135.000.000.00 juta di kecamatan tapaktuan. jenis hewan ternak yang sering menjadi sasaran harimau adalah sapi dan kambing. upaya mitigasi yang telah dilakukan meliputi sosialisasi dan penyuluhan oleh balai konservasi sumber daya alam aceh (bksda aceh), dan lembaga swadaya masyarakat (lsm), pelaporan dan pembentukan kelompok swadaya masyarakat (ksm) untuk membantu dalam penanganan konflik ini, pembuatan pagar sesuai ketentuan dan melakukan aktivitas di kebun secara berkelompok; serta peningkatan dukungan dari pemerintah dalam hal fasilitas dan infrastruktur, termasuk bantuan untuk pembuatan kandang yang aman.
Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
KAJIAN KONFLIK MANUSIA-HARIMAU SERTA KAITANNYA DENGAN AKTIVITAS PETERNAKAN PADA MASYARAKAT DI KABUPATEN ACEH SELATAN. Banda Aceh Fakultas Pertanian Kehutanan,2024
Baca Juga : ANALISIS TINGKAT RISIKO KONFLIK HARIMAU (PANTHERA TIGRIS SUMATRAE) DENGAN MANUSIA SERTA MITIGASINYA DI DAS KLUET KECAMATAN KLUET TIMUR KABUPATEN ACEH SELATAN (FEBY AULIA, 2022)
Abstract
Human and wild animal conflict is any interaction between humans and wild animals that will have a negative impact on human socio-economic life, such as predation on domestic animals, attacks on humans, and isolated tigers. Human-human conflict (KMH) always occurs almost all over the world and can cause losses for both parties. In South Aceh, the conflict between humans and Sumatran tigers continues to this day. Especially in Tapaktuan District and East Kluet District, the conflict between humans and Sumatran tigers has really disturbed the community. The conflict between humans and Sumatran tigers has been detrimental to both parties. The local community has used various methods to expel Sumatran tigers so that they no longer descend into residential areas and community plantations. This research aims to determine the types of livestock that are prey to Sumatran tigers and the causes of human-tiger conflict, to determine the value of losses experienced by communities whose livestock are prey to Sumatran tigers, and to determine the efforts that have been made by institutions in overcoming human conflict. and tigers so that there will be no more problems with tigers eating people's livestock in Tapaktuan District and East Kluet District. This research uses a purposive sampling technique method. The results of the research show that conflict between humans and tigers in both sub-districts causes significant economic losses, with total losses reaching Rp. 99,000,000.00 million in East Kluet District and IDR 135,000,000.00 million in Tapaktuan District. The types of livestock that are often targeted by tigers are cows and goats. Mitigation efforts that have been carried out include outreach and counseling by the Aceh Natural Resources Conservation Center (BKSDA Aceh), and Non-Governmental Organizations (NGOs), reporting and forming Community Self-Help Groups (KSM) to assist in handling this conflict, building fences according to provisions and carrying out activities in the garden in groups; as well as increased support from the government in terms of facilities and infrastructure, including assistance in building safe cages.
Baca Juga : ANALISIS RESPON ORANGUTAN SUMATERA TERHADAP SIMULASI ANCAMAN DI STASIUN PENELITIAN KETAMBE (FERNANDO RAMANDHA RAHMAN, 2025)