Universitas Syiah Kuala | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI
Jihan Aura, UJI KETAHANAN BEBERAPA GALUR TANAMAN PADI LOKAL ACEH TERHADAP XANTHOMONAS ORYZAE PV. ORYZAE PENYEBAB RNPENYAKIT HAWAR DAUN BAKTERI. Banda Aceh ,2024

Penyakit hawar daun bakteri yang disebabkan oleh bakteri xanthomonas oryzae pv. oryzae (xoo) merupakan penyakit utama pada tanaman padi. kehilangan produksi padi di indonesia akibat penyakit ini berkisar antara 15-80%. bakteri xoo dapat menyerang baik pada fase vegetatif maupun generatif. salah satu metode pengendalian penyakit hawar daun bakteri adalah dengan menggunakan varietas tahan. saat ini, ada beberapa padi lokal aceh telah diperbaiki secara genetik melalui pemuliaan hibridisasi dan mutasi, yang berpotensi dari segi karakter agronomi yang melebihi dari tetuanya. adapun galur padi tersebut adalah padi sigupai (um69), sigupai (um18), sambay simeulue (us1) dan sambay simeulue (us2) yang merupakan padi hasil pemuliaan mutasi sinar gama dengan dosis 250 gy. padi tinggong (t.35.7.5.7.1), tinggong (t.35.7.5.1.1), sikuneng bireuen (ub5) dan sikuneng bireuen (ub9) merupakan padi hasil persilangan dengan irbb27. penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat ketahanan beberapa galur tanaman padi lokal aceh terhadap penyakit hawar daun bakteri.penelitian ini dilaksanakan di rumah semi kasa yang berlokasi di desa baet, kabupaten aceh besar dan laboratorium ilmu penyakit tumbuhan, fakultas pertanian universitas syiah kuala mulai dari bulan desember 2023 sampai mei 2024. penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (ral) non faktorial dengan 9 perlakuan (8 galur padi lokal aceh dan varietas ciherang sebagai pembanding). setiap perlakuan diulang sebanyak 3 kali dan setiap perlakuan terdiri dari 2 unit sehingga terdapat 54 unit perlakuan. peubah yang diamati diantaranya masa inkubasi (hari), insidensi penyakit (%), keparahan penyakit (%), jumlah anakan per rumpun, jumlah malai per rumpun, jumlah gabah berisi per malai (bulir) dan berat gabah per rumpun (gram). hasil penelitian menunjukkan bahwa masa inkubasi dan persentase insidensi penyakit hawar daun bakteri berkisar antara 4,33-5,66 hari dan 39,28-57,03%. rata-rata jumlah anakan dan malai terbanyak terdapat pada padi tinggong (t.35.7.5.7.1) sebanyak 21,5 batang dan 27,50 malai, sedangkan terendah pada sigupai (um18) 5,00 batang dan 6,5 malai. rata-rata jumlah gabah berisi per malai tertinggi terdapat pada padi sambay simeulue (us1) yaitu 206,49 bulir dan jumlah gabah berisi paling sedikit yaitu sigupai (um18) 100,41 bulir. berat gabah per rumpun terberat dijumpai pada galur sambay simeulue (us1) yaitu seberat 75,92 g dan terendah padasigupai (um18) yaitu 21,16 g. persentase keparahan penyakit tertinggi terdapat pada galur padi sigupai (um69) (47,37%) dan terendah pada sambay simeulue (us2) (26,25%). padi lokal aceh yang menunjukkan reaksi ketahanankategori agak tahan yaitu sambay simeulue (us2), tinggong (t.35.7.5.1.1) dan sambay simeulue (us1), sedangkan padi yang termasuk kategori ketahanan agak rentan terhadap penyakit hawar bakteri yaitu sikuneng bireuen (ub9), sikuneng bireuen (ub5), varietas ciherang (pembanding), tinggong (t.35.7.5.7.1), sigupai (um18) dan sigupai (um69).



Abstract

Bacterial leaf blight caused by Xanthomonas oryzae pv. oryzae (Xoo) is a major disease of rice plants. Rice production loss due to this disease in Indonesia ranges from 15-80%. Xoo bacteria can attack both in the vegetative and generative phases. One method of controlling bacterial leaf blight disease is by using resistant varieties. Currently, there are some Aceh local rice lines that have been genetically improved through hybridization and mutation breeding, which have the potential in terms of agronomic characters that exceed their elders. The rice strains are Sigupai (UM69), Sigupai (UM18), Sambay Simeulue (US1) and Sambay Simeulue (US2) which are the results of gamma-ray mutation breeding with a dose of 250 gy. Tinggong (T.35.7.5.7.1), Tinggong (T.35.7.5.1.1), Sikuneng Bireuen (UB5) and Sikuneng Bireuen (UB9) are rice resulting from crossing with IRBB27. This study aims to determine the level of resistance of some local Acehnese rice lines to bacterial leaf blight. This research was conducted in a semi screen house located in Baet Village, Aceh Besar District and Plant Disease Science Laboratory, Faculty of Agriculture, Syiah Kuala University from December 2023 to May 2024. This study used a non-factorial Completely Randomized Design (CRD) with 9 treatments (8 local Aceh rice strains and Ciherang Variety as a comparison). Each treatment was repeated 3 times and each treatment consisted of 2 units so there were 54 treatment units. The observed variables included incubation period (days), disease incidence (%), disease severity (%), number of tillers per clump, number of panicles per clump, number of filled grains per panicle (grains) and grain weight per clump (grams). The results showed that the incubation period and percentage of bacterial leaf blight disease incidence ranged from 4.33-5.66 days and 39.28-57.03%. The average number of tillers and panicles was highest in Tinggong rice (T.35.7.5.7.1) at 21.5 stems and 27.50 panicles, while the lowest in Sigupai (UM18) at 5.00 stems and 6.5 panicles. The highest average number of filled grains per panicle was found in Sambay Simeulue rice (US1) which was 206.49 grains and the least number of filled grains was Sigupai (UM18) 100.41 grains. The heaviest grain weight per clump was found in Sambay Simeulue (US1) which weighed 75.92 g and the lowest in Sigupai (UM18) which was 21.16g. The highest percentage of disease severity was found in Sigupai (UM69) (47.37%) and the lowest in Sambay Simeulue (US2) (26.25%). Local Acehnese rice that showed resistance reactions in the category of moderately resistant are Sambay Simeulue (US2), Tinggong (T.35.7.5.1.1) and Sambay Simeulue (US1), while rice in the category of moderately susceptible to bacterial blight are Sikuneng Bireuen (UB9), Sikuneng Bireuen (UB5), Ciherang (comparison), and Sikuneng Bireuen (UB5). Ciherang (comparison), Tinggong (T.35.7.5.7.1), Sigupai (UM18) and Sigupai (UM69).



    SERVICES DESK