Tanaman kakao merupakan salah satu komoditi yang dibudidayakan di indonesia dan menjadi prioritas utama dalarn pcngcrnbangan pertanian untuk meningkatkan pendapatan nasional dalam sektor perkebunan. biji kakao di aceh umumnya bermutu rendah, hal ini dikarenakan produk kakao yang dihasilkan berasal dari pcrkcbunan rakyat, yang penanganan pasca panennya masih tergolong konvensional, seperti proses pcngeringannya masih menggunakan lahan penjemuran yang kontak dengan lingkungan. pengeringan seperti ini membutuhkan waktu yang relatif lama. oleh karena itu, dibutuhkan teknologi yang efektif dalam proses pengeringan, yaitu dengan menggunakan pengeringan buatan (artificial dryer). umumnya, banyak pengcring buatan yang sudah diaplikasikan pada petani, baik pengering yang menggunakan sinar matahari, dan juga pengering yang dilengkapi dengan bahan bakar minyak sebagai sumber cnergi panas dalam pengcring, dimana dibutuhkan pcngcluaran biaya pokok yang besar dalam proses pcngeringan komoditi pertanian. oleh karena itu perlu dilakukan diversifikasi energi dengan memanfaa tkan cncrgi altematif berupa energi matahari sebagai sumbcr panas dan biomassa sebagai suplemen panas. tujuan penelitian ini adalah untuk menguji kinerja alat pcngering surya tipe limas tetragonal dengan sumber panas tambahan berupa biomassa yang dilengkapi media penyimpan panas pada pengeringan biji kakao. hasil penelitian memperlihatkan pcngujian yang dilakukan selama 3 hari pengeringan biji kakao, temperatur rata-rata ruang pengering hari i yang mendistribusikan panasnya kc ra k pcngering belum sesuai dengan yang diharapkan, karena pada hari i rendahnya temperatur disebabkan oleh kuantitas air bahan yang diuapkan masih tinggi, sehingga dapat menurunkan temperatur pada ruang dan rak pengering, sedangkan pada hari ii iii dan diperoleh sebesar 74c dan 75°c, sehingga temperatur rata-rata yang tcrbaik diperoleh pada pengukuran hari ill, yaitu pada rak as dan a 7 scbesar 67c. hal ini discbabkan karena adanya pengaruh radiasi matahari yang lcbih dominan memancarkan panasnya pada 2 rak ini, panas dari suplcmen pembakaran biomassa dan laju aliran udara ruang pengering yang membawa uap air menuju pembuangan. untuk tempcratur rata-rata lingkungan, selama 3 hari pengujian mengalami fluktuasi, dimana temperatur rata-rata tertinggi diperoleh pada hari ke iii sebesar 34,67°c dan terendah sebesar 3 i ,9°c pada hari ii. rh ruang pengering hari i lebih rcndah dibandingkan ventilasi dan lingkungan. dengan rh rata-rata sebesar 43,34%, ha! ini disebabkan karena banyaknya uap air yang dilcpaskan oleh biji kakao dan temperatur yang tinggi karena penggunaan suplemen panas. rh hari ii untuk ruang pengering dan ventilasi berfluktuasi secara signifikan dibandingkan lingkungan, dimana pola rh lingkungan yang ditunjukkan relatif konstan karena kecepatan udara yang diperoleh lebih besar daripada rh pengering, yakni 0,51 m/s pada lingkungan dan 0,2 m/s dalam alat pcngering. hari ill. rh tertinggi diperoleh pada ruang pengering dengan rh rata-rata sebesar 85,73% dan terendah dipcroleh pada ventilasi b sebesar 45,98%. rh vcntilasi a mengalami fluktuasi yang signifikan di awal pengeringan sampai i 1.00 wib, sedangkan ventilasi b terjadi sampai pukul 12.00 wib. dari ketiga hari pengujian, iradiasi surya rata rata tertinggi diperoleh pada hari kedua, untuk yang terendah diperoleh pada hari pertama. hal ini membuktikan bahwa nilai iradiasi matahari yang diperoleh tidak konstan karena pengaruh cuaca. nilai kecepatan udara antara ruang pengering dan lingkungan memperlihatkan pola yang berbeda. pada ruang pengering, hampir rata-rata nilai yang diperoleh selama 3 hari pengujian dalam keadaan konstan yaitu sebesar 0, 18 mis, 0,2 mis, dan 0,183 m/s, untuk lingkungan, yaitu sebesar 0,57 m/s, 0,51 m/s, dan 0,43 m/s. dari pengujian yang dilakukan selama 3 hari, kadar air biji kakao yang terendah dipcroleh pada rak cuplikan a8 sebesar 2,51%, tertinggi sebesar 14,6% pada cuplikan b2. hal ini tcrjadi karena pengaruh sirkulasi udara yang tidak efektif dibandingkan lingkungan. untuk lingkungan, kadar air akhir yang diperoleh menunjukkan masih tinggi, yang belum mencapai sampai batas yang diharapkan. kadar air akhir biji kakao yang diperoleh sesuai dengan standar mutu yang baik diperoleh pada cuplikan b6, yakni 6,58%. waktu yang dibutuhkan untuk pengeringan biji kakao dengan menggunakan alat pengering ini yaitu 23 jam ( ± 2,5 hari ), diperoleh nilai kapasitas pengeringan yaitu sebesar 2,42 kg/jam dcngan suhu rata-rata ruang pengering diperoleh sebesar 60 °c - 75 °c. untuk total konsumsi aran g pada alat pengering surya yaitu sebesar 17,5247 kg dan untuk minyak tanah sebesar 350 ml.
Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
KAJIAN PENGERINGAN BIJI KAKAO (THEOBROMA CACAO L.) MENGGUNAKAN PENGERING SURYA TIPE LIMAS TETRAGONAL BERBAHAN BAKAR BIOMASSA. Banda Aceh Fakultas Pertanian,2010
Baca Juga : KAJI EKSPERIMENTAL PENGERINGAN BIJI KAKAO (Abdul Muthalib, 2023)
Abstract
Baca Juga : UJI PERFOMANSI ALAT PENGERING TIPE KABINET UNTUK PENGERING KAKAO (THEOBROMA CACAO L) (Marlina, 2024)