Universitas Syiah Kuala | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI
Alim Berutu, KAJIAN ASPEK TEKNIS PEMELIHARAAN SAPI ACEH DI KECAMATAN PENANGGALAN KOTA SUBULUSSALAM. Banda Aceh Fakultas Pertanian,2024

Sapi aceh merupakan jenis sapi yang dipelihara dengan tujuan utama sebagai penghasil daging sehingga sering juga disebut tipe pedaging. sapi aceh juga merupakan jenis sapi lokal yang paling banyak dipelihara di aceh sehingga sangat memiliki potensi untuk dijadikan sumber protein hewani untuk memenuhi kebutuhan daging di indonesia khusunya di wilayah aceh itu sendiri. pada umumnya, sistem pemeliharaan sapi aceh dibagi menjadi tiga yaitu pemeliharaan secara ekstensif, semi intensif dan intensif. penelitian ini bertujuan untuk mengkaji sejauh mana penerapan aspek teknis pemeliharaan sapi aceh di kecamatan penanggalan kota subulussalam, dilaksanakan pada bulan januari-februari 2024 di kecamatan penanggalan kota subulussalam meliputi 7 desa yaitu desa dasan raja, lae bersih, penuntungan, lae motong, penanggalan, kuta tengah dan sikelang. sampel dari penelitian ini adalah seluruh peternak yang memelihara sapi aceh di kecamatan penanggalan yang telah memenuhi syarat yaitu telah beternak selama 5 tahun dan memiliki ternak sapi aceh yang dipelihara di perkebunan kelapa sawit minimal 3 ekor. analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif yang digunakan dalam menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul. data deskriptif menampilkan gambaran umum mengenai jawaban responden atas pertanyaan atau pernyataan yang terdapat pada kuesioner maupun tanggapan responden.untuk mengetahui pelaksanaan aspek teknis secara keseluruhan, data yang didapat akan dibandingkan dengan data standar “pedoman identifikasi teknis peternakan” yang dikeluarkan oleh direktorat jenderal peternakan indonesia tahun 2015. hasil penelitian menunjukan bahwa penerapan aspek teknis teknis pemeiharaan sapi aceh di kecamatan penanggalan melalui penelitian yang telah dilaksanakan dari semua desa menunjukan presentase pada aspek pemuliaan dan reproduksi sebesar (59,11%). pada aspek makanan menunjukan presentase nilai sebanyak (29,17%). kemudian pada aspek tatalaksana pemeliharaan sapi aceh sebesar (45,82%). aspek kesehatan ternak sebesar (44,8%) dan pada aspek kandang dan perlengkapan diperoleh presentase sebesar (75,73%). secara keseluruhan diperoleh presentase sebesar (47,63%). dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan aspek teknis pemeliharaan sapi aceh di kecamatan penanggalan kota subulussalam belum sesuai dengan “pedoman identifikasi teknis peternakan” yang dikeluarkan oleh direktorat jenderal peternakan indonesia 2015.



Abstract

Aceh cattle is a type of cattle raised primarily for meat production, which is why it is often referred to as a beef type. Aceh cattle is also the most widely raised local breed in Aceh, thus having great potential to serve as a source of animal protein to meet the demand for meat in Indonesia, especially in the Aceh region itself. In general, the Aceh cattle farming system is divided into three types: extensive, semi-intensive, and intensive farming. This research aims to examine the extent of the implementation of technical aspects of Aceh cattle maintenance in the Penanggalan District of Subulussalam City, conducted in January-February 2024 in the Penanggalan District of Subulussalam, covering 7 villages: Dasan Raja, Lae Bersih, Penuntungan, Lae Motong, Penanggalan, Kuta Tengah, and Sikelang. The sample for this study consists of all farmers who raise Aceh cattle in the Penanggalan District, who meet the criteria of having been farming for at least 5 years and owning a minimum of 3 Aceh cattle raised on oil palm plantations. The data analysis used in this research is descriptive analysis, which is employed to analyze data by describing or depicting the collected data. Descriptive data provides an overview of the respondents' answers to the questions or statements found in the questionnaire, as well as the respondents' feedback.To understand the overall implementation of technical aspects, the data obtained will be compared with the standard data from the "Technical Identification Guidelines for Livestock" issued by the Directorate General of Livestock of Indonesia in 2015. The research results indicate that the implementation of technical aspects of Aceh cattle maintenance in Penanggalan District, based on studies conducted across all villages, shows a percentage of (59.11%) in breeding and reproduction aspects. The food aspect shows a percentage value of (29.17%). Then, in the management aspect of Aceh cattle maintenance, the percentage is (45.82%). The livestock health aspect is at (44.8%), and the housing and equipment aspect has a percentage of (75.73%). Overall, a percentage of (47.63%) was obtained. From the results of the research, it can be concluded that the implementation of the technical aspects of Aceh cattle maintenance in the Penanggalan District of Subulussalam City does not yet align with the "Technical Identification Guidelines for Animal Husbandry" issued by the Directorate General of Livestock of Indonesia in 2015.



    SERVICES DESK