Universitas Syiah Kuala | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    THESES
Mira Handayani, ANALISIS KEBERLANJUTAN LUMBUNG PANGAN MASYARAKAT (LPM)RNDI KABUPATEN ACEH BESAR. Banda Aceh Program Studi Magister Agribisnis,2024

Ringkasan pembangunan ketahanan pangan di indonesia melibatkan pemerintah dan masyarakat untuk memastikan ketersediaan pangan yang cukup di seluruh daerah. berdasarkan data bps, persediaan beras nasional mengalami fluktuasi, dari 9,11 juta ton pada maret 2022 menjadi 10,15 juta ton pada april 2022, sebelum menurun menjadi 9,71 juta ton pada juni 2022. ketersediaan pangan tersebar di berbagai institusi, dengan 68% berada di tingkat masyarakat. pemerintah memprioritaskan kebijakan ketahanan pangan dengan fokus pada produktivitas serta pemberdayaan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan secara mandiri dan berkelanjutan. konsep pembangunan berkelanjutan mencakup aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan. sasaran pembangunan berkelanjutan meliputi pemerataan manfaat pembangunan, pelestarian sumber daya alam, dan kesejahteraan rakyat. lumbung pangan merupakan kelembagaan penting untuk menyediakan stok cadangan pangan, terutama saat musim paceklik atau gagal panen. di aceh besar, program pengembangan lumbung pangan dilaksanakan untuk mengantisipasi kekurangan pangan dan ancaman gagal panen. pada tahun 2022, dinas pangan aceh besar membantu 4 desa dengan 225 anggota kelompok tani melalui pembangunan fasilitas fisik lumbung pangan. pengembangan lumbung pangan bertujuan meningkatkan cadangan pangan dan modal kelompok melalui usaha ekonomi produktif. pengelolaan lumbung pangan sering menghadapi tantangan seperti manajemen stok yang tidak efisien dan ketidakmampuan teknis dalam menggunakan alat. ketidakefisienan ini mempengaruhi kualitas dan kuantitas pangan yang tersedia. keberlanjutan lumbung pangan bergantung pada manajemen yang baik dan keterlibatan masyarakat. evaluasi keberlanjutan melibatkan analisis data dan partisipasi stakeholder. penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat keberlanjutan dan faktor-faktor yang mempengaruhinya di kabupaten aceh besar menggunakan metode rapfish (analisis multi dimensional scaling (mds) untuk menilai keberlanjutan dan sensitivitas atribut yang mempengaruhi. penelitian ini memperoleh hasil 1) dimensi ekologi: lpm harus dikelola dengan prinsip ekologi untuk meminimalkan dampak lingkungan seperti pencemaran dan degradasi tanah. praktek ramah lingkungan seperti rotasi tanaman dan penggunaan pupuk organik sangat penting. hasil analisis menunjukkan bahwa lpm harapan maju memiliki status "tidak berkelanjutan" dengan nilai 35,89% karena pemanfaatan limbah yang kurang dan penggunaan pestisida kimia yang tinggi. sebaliknya, lpm langang jaya memiliki status "cukup berkelanjutan" dengan nilai lebih baik berkat pengelolaan limbah dan penggunaan pupuk organik yang baik. 2) dimensi ekonomi: keberlanjutan ekonomi lpm berfokus pada peningkatan pendapatan petani dan stabilitas ekonomi lokal. analisis menunjukkan bahwa lpm harapan maju dan bersama sadar memiliki status "tidak berkelanjutan" dengan nilai masing-masing 46,31% dan 47,85%, disebabkan oleh masalah seperti pengelolaan alat yang tidak optimal dan pemasaran yang terbatas. lpm makmu beusare dan lagang jaya menunjukkan status "cukup berkelanjutan" dengan nilai di atas 50%, berkat pengelolaan gabah dan fasilitas yang memadai. faktor-faktor penting termasuk penghasilan petani, pemasaran, dan subsidi pemerintah. serta 3) dimensi sosial: keberlanjutan sosial lpm menekankan pada peningkatan kualitas hidup dan kohesi komunitas. lpm makmu beusare dan lagang jaya menunjukkan status "cukup berkelanjutan" dengan partisipasi komunitas yang baik dan ketersediaan pangan yang memadai. lpm harapan maju dan bersama sadar menunjukkan status "tidak berkelanjutan" dengan partisipasi yang rendah dan pengelolaan yang kurang baik. faktor kunci untuk keberlanjutan sosial termasuk ketersediaan pangan yang aman, komitmen komunitas, dan partisipasi aktif anggota dalam pengelolaan lpm.



Abstract

SUMMARY The development of food security in Indonesia involves the government and the community to ensure sufficient food availability in all regions. Based on BPS data, national rice inventories fluctuated, from 9.11 million tons in March 2022 to 10.15 million tons in April 2022, before decreasing to 9.71 million tons in June 2022. Food availability is spread across various institutions, with 68% at the community level. The government prioritizes food security policies with a focus on productivity and community empowerment to meet their needs independently and sustainably. The concept of sustainable development includes economic, social, and environmental aspects. Sustainable development goals include equitable distribution of development benefits, conservation of natural resources, and people's welfare. Food barns are an important institution to provide food reserve stocks, especially during the famine season or crop failure. In Aceh Besar, the food barn development program is implemented to anticipate food shortages and the threat of crop failure. In 2022, the Aceh Besar Food Service assisted 4 villages with 225 members of farmer groups through the construction of physical facilities for food barns. The development of food barns aims to increase food reserves and group capital through productive economic enterprises. Food barn management often faces challenges such as inefficient stock management and technical inability to use tools. This inefficiency affects the quality and quantity of food available. The sustainability of food barns depends on good management and community involvement. Sustainability evaluation involves data analysis and stakeholder participation. This study aims to analyze the level of sustainability and the factors that affect it in Aceh Besar Regency using the rapfish method (Multi Dimensional Scaling Analysis (MDS) to assess the sustainability and sensitivity of influencing attributes. This study obtained the results of 1) Ecological Dimension: LPM must be managed with ecological principles to minimize environmental impacts such as pollution and soil degradation. Eco-friendly practices such as crop rotation and the use of organic fertilizers are essential. The results of the analysis show that LPM Harapan Maju has an "unsustainable" status with a value of 35.89% due to low waste utilization and high use of chemical pesticides. In contrast, LPM Langang Jaya has a "fairly sustainable" status with better grades thanks to good waste management and the use of organic fertilizers. 2) Economic Dimension: LPM's economic sustainability focuses on increasing farmers' income and local economic stability. The analysis shows that LPM Harapan Maju and Bersama Sadar have an "unsustainable" status with a score of 46.31% and 47.85%, respectively, caused by problems such as suboptimal tool management and limited marketing. LPM Makmu Beusare and Lagang Jaya show a "fairly sustainable" status with a value above 50%, thanks to adequate grain management and facilities. Important factors include farmers' income, marketing, and government subsidies. As well as 3) Social Dimension: LPM's social sustainability emphasizes improving the quality of life and community cohesion. LPM Makmu Beusare and Lagang Jaya show a "fairly sustainable" status with good community participation and adequate food availability. LPM Harapan Maju and Bersama Sadar show an "unsustainable" status with low participation and poor management. Key factors for social sustainability include the availability of safe food, community commitment, and active participation of members in the management of LPM.



    SERVICES DESK