Rantai pasok kelapa sawit di kabupaten nagan raya melibatkan tiga pelaku utama: petani, pedagang pengumpul, dan pabrik kelapa sawit (pks). rantai pasok ini mengatur aliran produk, informasi, dan keuangan dari hulu ke hilir. petani kelapa sawit menanam, merawat, dan menjual tandan buah segar (tbs) kepada pedagang pengumpul. pedagang pengumpul kemudian menjual tbs ke pks untuk diolah menjadi produk turunan seperti minyak sawit mentah (cpo) dan kernel. aliran produk melibatkan pengangkutan tbs dari petani ke pedagang pengumpul, kemudian ke pks. aliran informasi terdiri dari pertukaran data mengenai kuantitas dan kualitas produk, status pengiriman, serta informasi pembayaran antara petani, pedagang, dan pks. aliran keuangan mencakup pembayaran yang dilakukan dari pks ke pedagang, dan dari pedagang ke petani. efisiensi rantai pasok ditentukan melalui margin pemasaran, farmer’s share, dan rasio keuntungan terhadap biaya. margin pemasaran merupakan selisih antara harga yang diterima petani dan yang dibayar konsumen (pks). petani menerima harga rp. 2.060 per kg tbs, sementara pedagang menjualnya ke pks seharga rp. 2.210, dengan keuntungan pedagang sebesar rp. 150 per kg. biaya pemasaran yang dikeluarkan pedagang adalah rp. 85 per kg. farmer’s share mencerminkan bagian harga yang diterima petani, dan nilai yang dihitung mencapai 93,2%, yang menunjukkan efisiensi tinggi. semakin tinggi nilai ini, semakin efisien rantai pasok. rasio keuntungan terhadap biaya dalam rantai pasok kelapa sawit mencapai 3,8%, menunjukkan efisiensi yang baik karena nilai ini berada dalam rentang efisien (0-50%). secara keseluruhan, rantai pasok kelapa sawit di kabupaten nagan raya berjalan dengan efisien, ditandai dengan pengelolaan yang baik dari aliran produk, informasi, dan keuangan.
Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
ANALISIS RANTAI PASOK (SUPPLY CHAIN) KELAPA SAWIT DI KABUPATEN NAGAN RAYA. Banda Aceh Fakultas Pertanian Agribisnis (S1),
Baca Juga : ANALISIS MITIGASI RISIKO RANTAI PASOK DENGAN PENDEKATAN MODEL SUPPLY CHAIN OPERATION REFERENCE (SCOR),(STUDI KASUS:KILANG KELAPA SAWIT RIMO-ACEH SINGKIL) (Sayed Arif Rafsanjani, 2016)
Abstract
The palm oil supply chain in Nagan Raya Regency involves three main actors: farmers, collectors, and Palm Oil Mills (PKS). This supply chain manages the flow of products, information, and finances from upstream to downstream. Palm oil farmers plant, maintain, and sell fresh fruit bunches (TBS) to collectors. The collectors then sell the TBS to the PKS to be processed into derivative products such as crude palm oil (CPO) and kernels. The product flow involves transporting TBS from farmers to collectors, and then to the PKS. The information flow consists of data exchange regarding product quantity and quality, delivery status, and payment information between farmers, traders, and the PKS. The financial flow includes payments made from the PKS to traders, and from traders to farmers. Supply chain efficiency is determined by marketing margins, farmer's share, and the profit-to-cost ratio. The marketing margin is the difference between the price received by farmers and the price paid by the consumer (PKS). Farmers receive Rp. 2,060 per kg of TBS, while traders sell it to the PKS for Rp. 2,210, with a trader's profit of Rp. 150 per kg. The marketing cost incurred by the trader is Rp. 85 per kg. The Farmer's Share reflects the portion of the price received by the farmer, calculated at 93.2%, indicating high efficiency. The higher this value, the more efficient the supply chain. The profit-to-cost ratio in the palm oil supply chain reaches 3.8%, showing good efficiency as this value falls within the efficient range (0-50%). Overall, the palm oil supply chain in Nagan Raya Regency operates efficiently, marked by well-managed flows of products, information, and finances.
Baca Juga : RANTAI PASOK BAHAN BAKU (LOGISTIK) LABORATORIUM DESAIN DAN MANUFAKTUR (LDM) PADA PRODUK FLANGE DAN KINCIR AIR (Purnama Ramdhani, 2013)