Abstrak pada lahan yang luas, penanaman bibit secara manual akan memakan banyak tenaga kerja ataupun memakan waktu yang lama. akan tetapi saat ini sudah ada alat penenanam padi yaitu rice transplanter type ap 100 buatan negara jepang. maka dari itu dilakukan pengujian apakah alat tersebut dapat bekerja dengan optimal pada kondisi lahan sawah tempat alat digunakan.penelitian ini bertujuan untuk melakukan pangujian lapang alat penanam padi (rice transplanter) type ap i00 di desa suleu (aceh besar). berdasarkan hasil penelitian, dapat diketahui bahwa kapasitas lapang teoritis sangat berpengaruh terhadap perubahan waktu operasi, panjang hintasan serta lebar kerja yang dilalui. pada panjang lintasan 20 m dan lebar kerja 0,845 m dan pada umur hibit 13 hari dengan waktu opcrasi 7.30 menit maka diperoleh kapasitas lapang teoritisnya yaitu 0.83 ha/jam. pada umur bibit 21 hari dengan waktu operasi 8,04menit maka diperoleh kapasitas lapang teoritisnya yaitu 0,75 ha/jam. maka dengan semakin bertambahnya waktu operasi maka nilai kapasitas lapang teoritis akan menurun. waktu operasi juga berpengaruh terhadap kapasitas lapang efektif, hal ini dapat dilihat pada luas lahan operasi yang tetap yaitu dengan luas lahan 0,01 ha. dengan semakin lamanya waktu operasi maka kapasitas lapang efektif yang diperoleh juga semakin menurun atau semakin keeil. dapat dilihat pada umur bibit l3 hari dengan waktu operasi 7.30 menit atau 0,122 jam maka dipero leh kapasitas lapang efektif 0.08 iha/jam, pada umur bi bit 21 hari dengan waktu operasi 8,04 menit atau 0,134 jam maka diperoleh kapasitas lapang efektifnya yaitu 0.078 ha/jam. pada benih padi dengan varietas ciherang. umur bibit tidak terlalu memepengaruhi efisiensi lapang dari alat tanam padi. hal ini dapat dilihat bahwa pada saat umur bibit 13 hari sampai 2l hari nilai efisiensi lapang 9,87 %. persentase slip roda sangat berpengaruh dengan jarak roda di petak percobaan lima kali putaran roda (sa). pada umur bibit 13 hari dengan jarak teoritis lima kali putaran roda (st) 9,06 m dan sa dengan nilai 7,14 m, maka diperoleh slip roda 21,19% sedang. kan pada umur bibit 17 hari dengan nilai st sama dengan 9,10 m dan sa 8.27 m maka diperoleh nilai slip roda 8,71 %. mssing hills akan semakin besar jika jumlah bibit dalam satu petak penelitian (y) sedikit dan persentase missing hills akan semakin kecil jika jumlah bi bit dalamsatu petak penelitian (y) semakin banyak. persentase missing hills juga dipengaruhi oleh bibit yang mengapung/hilang, dengan semakin besarya jumlah bibit yang mengapung/hilang maka persentase missing hills yang terjadi juga semakin besar.pada saat umur bibit 13 hari dengan nilai y adalah 4242 bibit dan bibit yang mengapung atau hilang tx) berjumlah i4 bibit maka diperoleh nilai missing hills 0.33 %, sedangkan pada umur bibit 21 hari dengan jumlah y adalah 1750 bibit dan bibit yang mengapung atau hilang (x) berjumlah 29 bibit maka diperloleh nilai missinghills 1.65 %. berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa pada jarak yang ditempuh tetap yaitu dengan nilai 308,5 m dan waktu yang terus berubah, dimana dengan bertambahnya waktu operasi (t) maka kecepatan operasi (v) semakin menurun. padasaat umur benih 13 hari dan waktu yang diperlukan dalam operasi 438 detik maka kecepatan operasinya 0,70 m/s sedangkan pada umur bibit 15 hari dengan nilai tsama dengan 549 detik maka nilai v sama dengan 0.56 m/s.
Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
PENGUJIAN LAPANG ALAT TANAM PADI (RICE TRANSPLANTER) TYPE AP 100 DI LAHAN SAWAH DESA SULEU ACEH BESAR. Banda Aceh Fakultas Pertanian,2006
Baca Juga : PENGARUH PENERAPAN TEKNOLOGI RICE TRANSPLANTER TERHADAP KINERJA USAHATANI PADI DI KECAMATAN INDRAPURI KABUPATEN ACEH BESAR (Ari Maulana, 2026)
Abstract
Baca Juga : PEMETAAN LAHAN SAWAH DAN PRODUKTIVITAS PADI DI TIGA KECAMATAN DALAM KABUPATEN ACEH BESAR (Ahmad Hakim Hk, 2017)