Zulfadhila/0251310039, aplikasi ekstrak lidah buaya sebagai edible coating dan biofungisida terhadap antraknosa (colletotrichum caspsici (syd.) butler & bisby) pada buah cabai (capsicum annuum l.) di bimbing oleh tjut chamzurni, susanna dan bonny poernomo wahyu soekamo. cabai (capsicum annuum l.) merupakan salah satu tanarnan hortikulturam penting di indonesia yang prospektif untuk dibudidayakan dalam berbagai usaha tani. buah cabai memiliki banyak kegunaan diantaranya sebagai bumbu masak dan bahan baku makanan olahan. kendala utama dalam sistem produksi cabai adalah masalah ham.a dan penyakit yang sangat menentukan fluktuasi ketersediaannya di pasar. salah satu penyak.it utama pada buah cabai adalah antraknosa yang disebabkan oleh infeksi patogen colletotrichum capsici (syd.) butler & bisby, kehilangan hasil pada pertanaman cabai akibat serangan antraknosa dapat mencapai 50-100 % pada saat musim hujan. c. capsici dapat menyerang buah cabai yang masih hijau maupun yang telah masak, baik di lapangan maupun di penyimpanan. upaya pengendalian terhadap penyak.it antraknosa hingga saat ini dengan aplikasi fungisida sintesis sebagai pilihan utama karena dianggap dapat mengendalikan penyakit secara cepat dan praktis. pada saat ini telah dikembangkan beberapa alternatif pengendalian penyakit antrakosa pada buah cabai, salah satu pengendalian penyakit alternatif adalah penggunaan ekstrak lidah buaya. penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keefektifan ekstrak lidah buaya (a.vera) sebagai edible coating clan biofungisida terhadap penyakit antraknosa c. capsici pada buah cabai. percobaan ini menggunakan rancangan acak lengkap (ral) dengan delapan perlakuan, setiap perlakuan di ulang sepuluh, yang telah dilakukan terdiri dari penyiapan ekstrak lidah buaya, pengujian in-vitro dan pengujian in-vivo. ekstrak lidah buaya terdiri dari ekstrak daging dan ekstrak kulit lidah buaya. pengujian invitro terdiri dari pengujian pengaruh aplikasi ekstrak daging dan ekstrak kulit lidah buaya terhadap perkecambahan spora dan pertumbuhan koloni. konsentrasi yang digunakan adalah 0.5 %, 1 %, 2%, 5%, 10 %, 20 % dan sebagai pembanding digunakan fungisida benlate dengan konsentrasi 5% (v/v). pengujian in-vivo terd.iri dari pengujian aplikasi preventif, induksi resistensi dan aplikasi kuratif ekstrak daging dan ekstrak kulit lidah buaya pada buah cabai. pada pengujian tersebut digunakan ekstrak daging dan kulit lidah buaya dengan konsentrasi 20 % yang efektif menekan perkecambahan spora dan pertumbuhan koloni c. capsici pada pengujian in-vitro. sebagai pembandiog digunakan fungisida benlate dengan konsentrasi 5% (v/v). hasil pengujian menunjukkan ekstrak lidah buaya mempunyai potensi sebagai antifungi. ekstrak lidah buaya efektif menghambat perkecambahan kon:idia dan pertumbuhan koloni c. capsici pada konsentrasi 20 % secara in-vitro, sedangkan pada percobaan in-vivo aplikasi ekstrak lidah buaya pada konsentrasi 20 % secara statistik tidak berbeda nyata dengan kontrol.
Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
APLIKASI EKSTRAK LIDAH BUAYA SEBAGAI EDIBLE COATING DAN BIOFUNGISIDI TERHADAP ANTRAKNOSA (COLLETOTRICHUM CASPSICI (SYD.) BUTLER & BISBY) PADA BUAH CABAI (CAPSICUM ANNUM L.). Banda Aceh Fakultas Pertanian,2007
Baca Juga : APLIKASI EDIBLE COATING GEL LIDAH BUAYA (ALOE VERA L.) DENGAN GLISEROL DAN TINGKAT KEMATANGAN TERHADAP KUALITAS CABAI (CAPSICUM ANNUM L.) PASCA PANEN (Ummi Khairiah Nasution, 2023)