Metode magnetotellurik (mt) merupakan salah satu dari metode elektromagnetik yang memanfaatkan medan magnet alami yang berada di bawah permukaan bumi. pada penggunaanya metode magnetotellurik digunakan dalam mengambarkan kondisi bawah permukaan. pada perkembangan metode mt telah berkembang dengan pemodelan yang memperhatikan variasi lateral yaitu pemodelan 2d dan 3d. namun pemodelan mt 1d hingga sekarang masih sering digunakan sebagai interpretasi awal dan menilai kulitas data setiap stasiun pengukuran berdasarkan gambaran distribusi parameter fisis pada data hasil pengukuran. untuk itu dilakukan pemodelan 1d pada 8 stasiun data magnetotellurik dengan panjang litasan 35 km menggunakan perangkat lunak winglink. berdasarkan hasil pemodelan 1d pada kedalaman 0 - 1000 m menunjukan nilai resitivitas 0,1 – 100 Ωm yang diinterpretasikan sebagai endapan alluvium dengan material lumpur pasir dan kerikil. dan di beberapa titik pengukuran yang berada dekat dengan lokasi sesar menunjukan perubagan nilai resitivitas yang cukup signifikan 300 – 1000 Ωm pada kedalalaman 1000 – 5000 m yang diinterpretasikan sebagai batuan gamping. kata kunci : magnetotellurik, model 1d, winglink.
Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
INTERPRETASI STRUKTUR LITOLOGI BERDASARKAN PEMODELAN 1D DATA MAGNETOTELLURIK PADA WILAYAH ACEH BESAR. Banda Aceh Fakultas Teknik Geofisika,2024
Baca Juga : IDENTIFIKASI PATAHAN SUMATRA DENGAN MENGGUNAKAN DATA MAGNETOTELLURIK SEPANJANG KAWASAN PIDIE-MEULABOH (Uswatun Hasanah, 2018)
Abstract
The Magnetotelluric (MT) method is an electromagnetic method that utilizes the natural magnetic field below the earth's surface. In its use, the magnetotelluric method is used to describe subsurface conditions. In the development of the MT method, it has developed with modeling that takes into account lateral variations, namely 2D and 3D modeling. However, 1D MT modeling is still often used as an initial interpretation and assessment of the data quality of each measurement station based on a description of the distribution of physical parameters in the measurement data. For this reason, 1D modeling was carried out at 8 magnetotelluric data stations with a track length of 35 km using WinGLink software. Based on the results of 1D modeling at a depth of 0 - 1000 m, it shows a resistivity value of 0.1 - 100 Ωm which is interpreted as deposition of alluvium with sand and gravel mud material. And at several measurement points close to the fault location, the resistivity value is quite significant, 300 - 1000 Ωm at a depth of 1000 - 5000 m, which is interpreted as limestone. Keywords: Magnetotelluric, 1D Model, WinGLink