Peruntukan perencanaan penggunaan lahan telah ditentukan dalam dokumen rencana tata ruang wilayah (rtrw) yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan pembangunan daerah. analisis keselarasan antara penggunaan lahan eksisting dan pola ruang perlu dilakukan agar meminimalisir terjadinya penyimpangan terhadap penggunaan lahan. salah satu cara dalam melakukan analisis ini dengan menggunakan sistem informasi geografis (sig) melalui pendekatan spasial, dengan harapan dapat meminimalisir penyimpangan yang telah terjadi dan sebagai masukan dalam pelaksanaan pembangunan kedepannya. adapun metode penelitian yang digunakan dalam analisa data adalah metode pemodelan tool builder dengan menggunakan software arcmap 10.8. proses penelitian terdiri atas beberapa tahapan pengumpulan data berupa data spasial dan non spasial dilanjutkan dengan analisis data. model direpresentasikan sebagai diagram yang mengintegrasikan sekumpulan proses dan tools geoprocessing, menggunakan keluaran dari satu proses sebagai masukan ke proses lainnya. dengan tool builder pada software arcmap, dapat membangun model dengan menambahkan dan menghubungkan data dan alat. melakukan tahapan yang berulang terhadap seluruh kelas fitur, raster, file, atau tabel di ruang kerja. matriks logika digunakan sebagai acuan dalam menentukan kelas keselarasan. berdasarkan penelitian yang dilakukan diperoleh nilai 57,75% untuk kelas selaras, 28,16% kelas transisi dan 14,19% untuk kelas tidak selaras. kelas selaras diperoleh jika rencana peruntukan pola ruangnya sama dengan kondisi penggunaan lahan eksisting seperti peruntukan sempadan sungai, perkebunan, kawasan industri yang tetap peruntukannya pada kondisi aktual. kelas transisi diperoleh jika rencana peruntukan pola ruang bisa mengalami transformasi dimasa yang akan contohnya diperoleh kelas transisi pada sempadan sungai menjadi wilayah perkebunan, sempadan sungai menjadi lahan terbuka, kawasan industri menjadi kawasan perikanan. sementara kelas tidak selaras pada situasi di mana aktivitas aktual di suatu wilayah tidak sesuai dengan rencana tata ruang yang telah ditetapkan. dalam hal ini dapat terjadi dalam beberapa bentuk seperti perubahan fungsi lahan, peruntukan lahan yang tidak sesuai, pada penelitian analisis ini ditemukan kelas yang tidak selaras dengan penggunaan lahan eksistingnya seperti pertanian menjadi hutan bakau, peruntukan air sungai menjadi lahan terbuka, kawasan industri menjadi pemukiman, pertambangan menjadi wilayah hutan produksi ataupun lahan terbuka. ketidakselarasan antara penggunaan lahan dan pola ruang dapat menimbulkan konflik antara pembangunan ekonomi, konservasi lingkungan, dan kebutuhan masyarakat. ketidakselarasan tersebut juga dapat meningkatkan risiko terhadap bencana alam, menghambat pembangunan berkelanjutan, dan memperburuk ketidakadilan sosial. akibat dari penjelasan dari poin-poin sebelumnya ketika berbagai sektor terhambat perkembangannya akan berdampak kepada pertumbuhan dan aktivitas ekonomi daerah tersebut. harapannya dengan dilakukannya analisis keselarasan antara penggunaan lahan dan pola ruang, pemeerintah dapat bekerja sama dengan masyarakat dalam memanfaatkan sumberdaya alam dengan sebaik mungkin.
Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
ANALISIS KESELARASAN ANTARA PENGGUNAAN LAHAN DAN POLA RUANG KABUPATEN TAPANULI TENGAH. Banda Aceh Fakultas Pertanian,2024
Baca Juga : LAJU KONVERSI LAHAN PERTANIAN MENJADI BUKAN PERTANIAN SETELAH TAMIANG MENJADI KABUPATEN ACEH TAMIANG (NONI NOVRIANTI, 2022)
Abstract
Land use planning designations have been determined in the Regional Spatial Plan (RTRW) document which is used as a guideline in conducting regional development. Analysis of the alignment between existing land use and spatial patterns needs to be done in order to minimize the occurrence of deviations from land use. One way to conduct this analysis is by using Geographic Information Systems (GIS) through a spatial approach, with the hope of minimizing deviations that have occurred and as input in the implementation of future development. The research method used in data analysis is the tool builder modeling method using ArcMap 10.8 software. The research process consists of several stages of data collection in the form of spatial and non-spatial data followed by data analysis. The model is represented as a diagram that integrates a set of geoprocessing processes and tools, using the output of one process as input to another. With the tool builder in ArcMap software, you can build a model by adding and connecting data and tools. Perform iterative steps on all feature classes, rasters, files or tables in the workspace. The logic matrix is used as a reference in determining the alignment class. Based on the research conducted, a value of 57.75% was obtained for the harmonized class, 28.16% for the transition class and 14.19% for the nonaligned class. The harmonized class is obtained if the spatial pattern designation plan is the same as the existing land use conditions such as river border designation, plantations, industrial areas that remain their designation in actual conditions. The transition class is obtained if the spatial pattern designation plan can undergo transformation in the future, for example, the transition class is obtained in the river boundary into a plantation area, the river boundary into open land, the industrial area into a fishery area. Meanwhile, the non-aligned class refers to situations where the actual activities in an area are not in accordance with the established spatial plan. In this case it can occur in several forms such as changes in land functions, inappropriate land use, in this analysis research found classes that are not in harmony with existing land uses such as agriculture into mangrove forests, river water allotments into open land, industrial areas into settlements, mining into production forest areas or open land. Misalignment between land use and spatial patterns can lead to conflicts between economic development, environmental conservation and community needs. Such misalignment can also increase the risk of natural disasters, hinder sustainable development, and exacerbate social injustice. As a result of the explanation of the previous points, when various sectors are hampered in their development, it will have an impact on the growth and economic activity of the region. It is hoped that by analyzing the harmony between land use and spatial patterns, the government can work together with the community in utilizing natural resources as well as possible.
Baca Juga : ANALISIS KESELARASAN ANTARA PENGGUNAAN LAHAN DAN POLA RUANG KABUPATEN TAPANULI TENGAH (Mardiah Maudy Sari Rambe, 2024)