Universitas Syiah Kuala | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI
Saidul Anhar, ANALISIS PERAN PEREMPUAN DALAM PROGRAM PERHUTANAN SOSIAL HUTAN DESA (STUDI KASUS PADA LPHK DAMARAN BARU, KECAMATAN TIMANG GAJAH, KABUPATEN BENER MERIAH). Banda Aceh Fakultas Pertanian - Kehutanan,2024

Peran perempuan dalam kehutanan masih terbatas karena kehutanan dianggap sebagai pekerjaan laki-laki dan tidak aman bagi perempuan karena menyangkut keselamatan. hal ini dipengaruhi oleh budaya patriarki yang memandang peran laki-laki sebagai penanggung jawab kelangsungan hidup dan menjadikan pengelolaan hutan sebagai tanggung jawab utama. dalam konteks perhutanan sosial, keterlibatan perempuan di desa damaran baru sangatlah penting. perempuan di lembaga pengelolaan hutan kampung (lphk) damaran baru dilibatkan dalam proses perhutanan sosial, mulai dari advokasi hingga pengurusan izin pengelolaan kawasan hutan lindung melalui program hutan desa. peran perempuan di lphk damaran baru berfokus pada tiga aspek, yaitu aspek sosial, ekonomi, dan ekologi. penelitian ini memakai metode campuran yaitu gabungan antara kualitatif dan kuantitatif. berdasarkan hasil survei, rata-rata waktu yang dihabiskan responden laki-laki dalam pengelolaan hutan adalah 7,63 jam per hari. sedangkan, rata-rata waktu kerja perempuan adalah 7,96 jam per hari. kontribusi laki-laki dan perempuan dalam pengelolaan hutan desa di damaran baru perempuan peran memiliki peran yang lebih besar dibandingkan laki-laki dalam penataan lembaga dan kawasan. lphk damaran sektor ekonomi yang paling diminati oleh perempuan di baru adalah pertanian. rata-rata total pendapatan perempuan di semua sektor adalah rp 2.727. 272 per bulan. kontribusi perempuan merupakan jumlah total pendapatan rumah tangga yang diterima anggota keluarga lainnya dari semua sumber. tantangan yang dihadapi perempuan di lphk damaran baru dalam pemeliharaan dan pengelolaan hutan antara lain opini masyarakat yang mempertanyakan kapasitas perempuan di lphk damaran baru dalam pengelolaan hutan, dan kurangnya penelitian mengenai peran dan ancaman perempuan dalam perhutanan sosial.



Abstract

The role of women in forestry is still limited because forestry is considered a man's job and is unsafe for women because it involves safety. This is influenced by patriarchal culture which views men's role as being responsible for survival and makes forest management the main responsibility. In the context of social forestry, the involvement of women in Damaran Baru Village is very important. Women at the Damaran Baru Village Forest Management Institute (LPHK) are involved in the social forestry process, from advocacy to obtaining permits to manage protected forest areas through the village forest program. The role of women in LPHK Damaran Baru focuses on three aspects, namely social, economic and ecological aspects. This research uses mixed methods, namely a combination of qualitative and quantitative. Based on the survey results, the average time spent by male respondents in forest management was 7.63 hours per day. Meanwhile, the average working time for women is 7.96 hours per day. The contribution of men and women in village forest management in Damaran Baru is that women have a greater role than men in structuring institutions and areas. LPHK Damaran The economic sector most interested in by women in Baru is agriculture. The average total income of women in all sectors is IDR 2,727. 272 per month. Women's contribution is the total amount of household income received by other family members from all sources. Challenges faced by women at LPHK Damaran Baru in forest maintenance and management include public opinion questioning the capacity of women at LPHK Damaran Baru in forest management, and the lack of research regarding the role and threats of women in social forestry.



    SERVICES DESK