Sapi aceh merupakan salah satu bangsa sapi hasil domestikasi lokal di indonesia (sapi bali, aceh, madura dan pesisir). sapi sumba-ongole (so) dan jawa-ongole (peranakan ongole, po) juga dianggap sebagai jenis sapi lokal indonesia. sapi aceh merupakan sumber daya genetik ternak lokal yang perlu dipertahankan dan wajib dilindungi sebagai plasma nutfah ternak nasional dan memiliki potensi yang cukup besar dengan memanfaatkan beberapa keunggulannya. kota langsa merupakan salah satu daerah yang terletak di provinsi aceh yang mempunyai potensi untuk pengembangan sapi potong terutama sapi aceh. jumlah sapi potong pada tahun 2022 yang terdapat di kota langsa adalah 8.601 ekor dan jika dibandingkan dengan daerah lain di provinsi aceh, jumlah tersebut masih relatif rendah. upaya meningkatkan populasi dan pengembangan sapi aceh di kota langsa belum tersedia data-data menyangkut kemampuan reproduksinya. oleh karena itu, penelitian ini diharapkan dapat memperoleh informasi tentang performans reproduksi sapi aceh di kecamatan langsa lama kota langsa, sehingga pengembangan populasi sapi aceh dapat ditingkatkan. penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 3 januari sampai 3 februari 2024 di kecamatan langsa lama desa meurandeh dan desa asam peutik kota langsa, provinsi aceh. metode penelitian yang digunakan adalah metode survei untuk memperoleh data primer dan sekunder. peternak yang menjadi responden ditetapkan secara purposive sampling, yaitu peternak yang memiliki sapi aceh betina yang telah beranak dua kali atau lebih. responden yang diambil sebanyak 26 orang peternak sapi aceh dengan jumlah sampel 82 ekor. parameter yang diamati pada penelitian ini yaitu performans reproduksi sapi aceh meliputi umur berahi pertama (pubertas), umur kawin pertama, lama bunting, umur beranak pertama, jarak beranak (calving interval), dan umur kawin kembali setelah melahirkan. hasil performans reproduksi sapi aceh betina di kecamatan langsa lama kota langsa dengan rataan umur berahi pertama (pubertas) 18,15 ± 3,29 bulan, umur kawin pertama 31,75 ± 5,08 bulan, lama bunting pada umur 9,12 ± 0,32 bulan, umur beranak pertama 40,87 ± 5,15 bulan, jarak beranak (calving interval) pada umur 13,23 ± 0,88 bulan dan umur kawin kembali setelah beranak 4,10 ± 0,74 bulan. berdasarkan penelitian yang telah dilakukan didapat hasil performans reproduksi sapi aceh betina di kecamatan langsa lama kota langsa belum optimal.
Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
PERFORMANS REPRODUKSI SAPI ACEH BETINA SEBAGAI SUMBER DAYA GENETIK TERNAK LOKAL DI KECAMATAN LANGSA LAMA KOTA LANGSA PROVINSI ACEH. Banda Aceh Fakultas Pertanian,2024
Baca Juga : KARAKTERISTIK REPRODUKSI PADA SAPI ACEH BETINA DI KECAMATAN TANAH LUAS KABUPATEN ACEH UTARA PROVINSI ACEH (Zuhriati, 2024)
Abstract
Aceh cattle are one of the locally domesticated cattle breeds in Indonesia (Bali, Aceh, Madura and Coastal cattle). Sumba-Ongole (SO) and Java-Ongole (Peranakan Ongole, PO) cattle are also considered local Indonesian cattle breeds. Aceh cattle are local livestock genetic resources that need to be maintained and must be protected as national livestock germplasm and have considerable potential by utilizing some of its advantages. Langsa City is one of the areas located in Aceh Province that has the potential to develop beef cattle, especially Aceh cattle. The number of beef cattle in 2022 in Langsa City is 8,601 head and when compared to other areas in Aceh Province, this number is still relatively low. Efforts to increase the population and development of Aceh cattle in Langsa City have not yet provided data regarding their reproductive ability. Therefore, this study is expected to obtain information on the reproductive performance of Aceh cattle in Langsa Lama Subdistrict, Langsa City, so that the development of Aceh cattle population can be improved. This research was conducted from January 3 to February 3, 2024 in Langsa Lama Sub-district, Meurandeh Village and Asam Peutik Village, Langsa City, Aceh Province. The research method used was the survey method to obtain primary and secondary data. Farmers who became respondents were determined by purposive sampling, namely farmers who owned female Aceh cows that had given birth twice or more. Respondents were 26 Aceh cattle breeders with a total sample of 82 cattle. Parameters observed in this study were reproductive performance of Aceh cattle including age at first heat (puberty), age at first mating, length of pregnancy, age at first lambing, calving interval, and age at mating again after giving birth. The results of reproductive performance of female Aceh cows in Langsa Lama Subdistrict, Langsa City with an average age of first heat (puberty) 18.15 ± 3.29 months, age of first mating 31.75 ± 5.08 months, length of pregnancy at the age of 9.12 ± 0.32 months, age of first lambing 40.87 ± 5.15 months, calving interval at the age of 13.23 ± 0.88 months and age of remating after lambing 4.10 ± 0.74 months. Based on the research that has been done, the results of the reproductive performance of female Aceh cows in Langsa Lama District, Langsa City are not optimal.
Baca Juga : PERFORMANS REPRODUKSI KERBAU BETINA SEBAGAI SUMBER DAYA GENETIK TERNAK LOKAL DI KABUPATEN ACEH BARAT (Dinda Faras Jelita Naldi, 2024)