Universitas Syiah Kuala | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI
Fitriyani, KINERJA ALAT PENGERING TIPE BAK DENGAN SUMBER PANAS DARI HEATER UNTUK PENGERINGAN CABAI MERAHRN (CAPSICUM ANNUUM L).. Banda Aceh Fakultas Pertanian,2006

Cabai merah (capsicum annuum l) adalah produk andalan masyarakat yang banyak sekali manfaatnya.. struktur buah cabai merah, terdiri atas kulit, daging buah, dan di dalamnya terdapat sebuah plasenta (tempat biji menempel secara tersusun). buah cabai banyak mengandung karotein, vitamin a, dan vitamin c. pengeringan cabai dilakukan sebagai altematif untuk menanggulangi produksi cabai yang berlebihan, terutama pada saat panen raya. dengan pengeringan, cabai dapat disimpan lebih lama sehingga penjualannya dapat disesuaikan dengan kebutuhan pasar. selain dijual dalam bentuk kering, cabai kering ini juga dapat diolah menjadi bubuk yang banyak digunakan dalam masakan instan . untuk jenis bahan tertentu, kondisi operasi mesin pengering seperti: (a) suhu, (b) kelembaban, (c) laju aliran udara pengering serta (d) ketebalan tumpukan bahan akan mempengaruhi kapasitas pengeringan, tingkat konsumsi energi, dan mutu hasil pengenngan. tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi operasi optimum dari alat pengering tipe bak dalam rangka memperbaiki teknologi pengeringan tradisional. penelitian terdiri dari dua tahap, yaitu perancangan alat dan uji alat pengeringan cabai merah. terdapat dua faktor perlakuan yaitu a dan b, dimana a ada 3 taraf yaitu a (ketebalan bahan 5 cm), a2 (ketebalan bahan 10 cm), dan a3 (ketebalan bahan 15 cm) dan b pada 2 taraf b; (bukaan cerobong 10 cm), b (bukaan cerobong 20 cm). setiap perlakuan diulang pada tiga kali ulangan. keberhasilan proses pengeringan dilihat berdasarkan distribusi temperatur, distribusi kelembaban relatif, dan penurunan kadar air dan jumlah konsumsi energi listrik yang rendah. dari hasil penelitian diketahui temperatur ruang pengering pada bukaan cerobong b (10 cm) lebih tinggi dibandingkan dengan bukaan cerobong b (20 cm). hasil uji beda rerata bnj menunjukkan temperatur tertinggi didapat pada perlakuan a3b1 (ketebalan bahan 15 cm dan bukaan cerobong 10 cm) sebesar 39,75"c namun pada a2b;1 (ketebalan bahan 5 cm dan bukaan cerobong 10 cm) sebesar 39,04"c dan a1b1 (ketebalan bahan 10 cm dan bukaan cerobong 10 cm) sebesar 38,71'c bertaraf sama-sama tinggi. kelembaban relatif terendah terdapat pada perlakuan a3b1 (ketebalan bahan 15 cm dan bukaan cerobong 10 cm) sebesar 44,63%, namun berdasarkan hasil uji bnj kelembaban relatif pada ab (ketebalan bahan 5 cm dan bukaan cerobong i0 cm) sebesar 51,5% dan ab (ketebalan bahan 10 cm dan bukaan cerobong 10 cm) sebesar 48,5% bertaraf sama-sama rendah. kadar air terendah diperoleh pada perlakuan ab; (ketebalan bahan 5 cm dan bukaan cerobong 10 cm) sebesar 23.18%, semakin tebal tumpukan bahan dan bukaan cerobong yang lebih besar maka makin rendah suhu pada ruang pengering yang menyebabkan waktu yang diperlukan untuk mencapai kadar air yang ditentukan oleh standar perdagangan indonesia 11 % lebih lama. biaya konsumsi energi listrik yang harus dikeluarkan untuk satu kali pengeringan adal ah sebe sar rp 6. 452. kondisi operasi optimum pada alat pengering tipe bak diperoleh pada perlakuan a1b1 dimana temperatur pada ruang pengering tinggi ( 39.04"c), kelembaban relatifnya rendah (51.5%), dan kadar air terendah (23 .18%), dengan konsumsi energi listrik rp 6.452 untuk 17 jam pengeringan. pada penelitian ini alat pengering tipe bak tidak efektif karena kadar air tidak mencapai standar perdagangan, temperatur pada ruang pengering rendah dan konsumsi energi listriknya besar.



Abstract



    SERVICES DESK