Pelabuhan perikanan samudera (pps) kutaraja adalah pelabuhan terbesar yang menjadi pusat perikanan di provinsi aceh dengan hasil perikanan laut yang potensial dan beraneka ragam, salah satunya ikan layang (decapterus sp.). permasalahan yang terjadi yaitu ikan layang mengalami fluktuasi setiap tahunnya sehingga dikhawatirkan mengancam keberlanjutan stok ikan layang, maka diperlukan suatu upaya pengelolaan terstruktur dengan pendekatan eskosistem (ecosystem approach to fisheries management) dalam mengatasi permasalahan ini. tujuan penelitian yaitu untuk menilai status pengelolaan dan merumuskan rekomendasi pengelolaan sumberdaya ikan layang yang berbasis di pps kutaraja. pelaksanaan penelitian telah dilakukan pada bulan februari sampai april 2023. pengambilan data dilakukan secara observasi langsung dan wawancara nelayan di lapangan dengan jumlah sampel sebanyak 73 responden, serta digunakan teknik accidental sampling pada pengukuran ikan layang. analisis data pada masing-masing indikator dianalisis menggunakan pendekatan multi kriteria dengan penilaian indeks komposit dan visualisasi model bendera. hasil penelitian menunjukkan bahwa tren cpue menurun sebesar 20% per tahun, tren ukuran ikan relatif tetap, proporsi ikan yuwana yang tertangkap sebesar 4%, komposisi spesies hasil tangkapan didominasi oleh spesies target tangkapan sebesar 77%, range collapse nelayan semakin jauh, dan terdapat 1 spesies etp (endangered, threatened, and protected species) yang tertangkap. berdasarkan indikator-indikator eafm tersebut, maka status pengelolaan sumberdaya ikan layang di pps kutaraja tergolong dalam kategori ‘baik’ namun dalam pemanfaatan sumberdaya ikan tersebut harus tetap memperhatikan aspek keberlanjutannya agar kondisi ini dapat dipertahankan menjadi lebih baik. kata kunci: ikan layang (decapterus sp.), eafm, pps kutaraja
Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
STATUS PENGELOLAAN SUMBERDAYA IKAN LAYANG (DECAPTERUS SP.) BERDASARKAN PENDEKATAN EKOSISTEM DI PPS KUTARAJA, BANDA ACEH. Banda Aceh Fakultas Kelautan dan perikanan,2023
Baca Juga : POTENSI LESTARI DAN TINGKAT PEMANFAATAN IKAN LAYANG (DECAPTERUS SP.) YANG DIDARATKAN DI PANGKALAN PENDARATAN IKAN (PPI) PUSONG KOTA LHOKSEUMAWE (Khairul Sani Umraiti, 2022)
Abstract
The Kutaraja Ocean Fishery Port is the largest port serving as the center of fisheries in the Aceh Province with a potential and diverse marine fishery, including the mackerel scad (Decapterus sp.). The issue at hand is the fluctuation of the mackerel scad population on an annual basis, which raises concerns about the sustainability of the stock. Therefore, a structured management effort is required, employing an Ecosystem Approach to Fisheries Management (EAFM) to address this problem. The study aimed to assess management status and formulate recommendations for the management of mackerel scad resources based on PPS Kutaraja. The research was carried out from February to April 2023. Data collection was carried out through direct observation and interviews with fishermen in the field with a sample size of 73 respondents. An accidental sampling technique was utilized for measuring mackerel scad. Data analysis for each indicator was performed using a multi-criteria approach with composite index assessment and flag model visualization. The research results indicate a 20% annual decline in CPUE trend, a relatively consistent fish size trend, a 4% proportion of juvenile fish caught, a catch composition dominated by target species at 77%, an increasing range collapse of fishermen, and the capture of one Endangered, Threatened, and Protected (ETP) species. Based on these EAFM indicators, the management status of mackerel scad resources in PPS Kutaraja falls under the 'good' category. However, the utilization of these fish resources should still consider sustainability aspects to ensure that this condition can be maintained and improved. Keywords: Mackerel scad (Decapterus sp.), EAFM, Kutaraja Ocean Fishing Port
Baca Juga : KARAKTERISTIK GENETIK DUA SPESIES IKAN DECAPTERUS DI PERAIRAN ACEH (KHALILAH NAJWA, 2025)