Universitas Syiah Kuala | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI
M. IQBAL PRATAMA PUTRA, WANPRESTASI UPAH PEKERJA PADA WARUNG MAKAN MIKRO DI KABUPATEN ACEH TAMIANG. Banda Aceh Fakultas Hukum (S1),2023

Abstrak – penelitian ini bertujuan menjelaskan pelaksanaan perjanjian upah warung makan mikro yang menimbulkan wanprestasi, faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya wanprestasi perjanjian upah pekerja dan penyelesaian wanprestasi yang dilakukan para pihak dalam perjanjian upah warung makan mikro di kabupaten aceh tamiang. hasil penelitian menunjukan bahwa perjanjian upah pekerja pada warung makan mikro dilakukan secara lisan dengan upah di bawah ump kabupaten aceh tamiang dan bentuk wanprestasi yang dilakukan; tidak membayar upah pekerja, membayar upah tidak sesuai dengan yang diperjanjikan dan menunda pembayaran upah. faktor penyebab wanprestasi; pengusaha/pemilik warung makan mikro tidak mengetahui ketentuan yang mengatur besarnya upah pekerja berdasarkan ump, hasil penjualan tidak mencukupi membayar upah pekerja, kesepatakan upah hanya menggunakan lisan, anggapan kesepakatan upah dapat dilakukan secara sepihak tanpa mendapat persetujuan pekerja terlebih dahulu, pengusaha warung makan mikro masih awam dengan peraturan yang berlaku. upaya dilakukan pemerintah tidak memaksa membebankan pengusaha warung makan mikro membayar upah pekerja sesuai dengan ump kabupaten aceh tamiang, mengalihkan usaha, mengratiskan pekerja makan siang di warung makan dan melakukan pengurangan pekerja. disarankan agar dinas tenaga kerja dan tranmigrasi untuk melakukan sosialisasi tentang ump kabupaten aceh tamiang, pekerja warung makan mikro agar membuat perjanjian pembayaran upah secara tertulis untuk menghindari terjadinya wanprestasi dan pengusaha melaporkan tentang kondisi darurat usahanya kepada pemerintah sesuai dengan perundangan yang berlaku. kata kunci: wanprestasi, upah, pekerja, warung makan.



Abstract

Abstract - This research aimed to determine the application of micro food stall wage agreements resulting in defaults, the factors contributing to defaults in worker wage agreements, and the resolution of defaults implemented by the parties in Aceh Tamiang Regency. The study’s findings revealed that the workers’ wage agreement in micro food stalls was reached verbally and paid wages less than the regional minimum wage of Aceh Tamiang Regency. The following forms of default were conducted: not paying workers’ wages, paying wages below what was pledged, and delaying wage payments. In addition, the factors causing default included, Entrepreneurs/owners of micro food stalls being unaware of the provisions governing the number of workers’ wages in accordance with regional minimum wage, sales revenue being insufficient to pay workers’ wages, wage agreements being only verbal, the assumption that wage agreements can be made unilaterally without first obtaining workers’ approval, and entrepreneurs of micro food stalls were unfamiliar with applicable regulations. Government endeavours to prevent forcing micro food stall entrepreneurs to pay workers’ wages under the regional minimum wage Aceh Tamiang Regency, redirect businesses, provide free lunches to food stall workers, and reduce workers. It is recommended that the Manpower and Transmigration Office conduct socialisation about the regional minimum wage of Aceh Tamiang Regency, micro food stall workers should make a written wage payment agreement to avoid defaults and employers should report emergency business conditions to the government under applicable laws. Keywords: Default, Wages, Workers, Food Stalls.



    SERVICES DESK