Sebagai sebuah negara demokrasi indonesia memiliki sistem pemilihan umum atau lebih dikenal dengan pemilu. pemilu dilaksanakan untuk memilih para calon eksekutif dan legislatif untuk masa jabatan lima tahun. pemilu juga dilaksanakan hingga tingkat provinsi maupun daerah, pada tahun 2018 kabupaten pidie jaya kembali melaksanakan pemilihan kepala daerah untuk yang ketiga kalinya semenjak kabupaten pidie jaya resmi menjadi daerah otonomi baru pada tahun 2007. pada pemilihan kepala daerah yang dilaksanakan pada tahun 2018 di kabupaten pidie jaya diikuti oleh empat calon pasangan bupati dan wakil bupati, yaitu yusri yusuf – saifullah, aiyub abbas - said mulyadi. muhibbuddin-m yusuf, m yusuf usman-anwar ishak. pasangan nomor urut dua yakni pasangan aiyub abbas-said mulyadi merupakan pasangan petahana. pada pilkada tahun 2018 pasangan petahana aiyub abbas- said mulyadi kembali berhasil menjadi pemenang untuk periode keduanya, sebagai pasangan petahana, pasangan ini merupakan pasangan yang menarik, karena pada pencalonan kali keduanya pasangan ini tidak melakukan gonta ganti pasangannya, hal ini jarang terjadi pada pasangan petahana lainnya, adapun strategi yang dilaksanakan oleh tim pemeangan aiyub abbas- said mulyadi adalah menggunakan strategi marketing politik dimana aiyub abbas memanfaatkan basis partai yang besar sebagai partai pengusungnya yaitu partai aceh sebagai partai lokal terbesar di aceh, juga ikut mengadakan diskusi politik bagi publik baik melalui kajian-kajian islami, ada juga pasangan ini memanfaatkan citra ketokohan aiyub abbas sebagai petinggi gerakan aceh merdeka sebagai cara meraup suara pemilih. dilain sisi faktor identitas politik juga digunakan pada pilkada kabupaten pidie jaya, identitas politik disini bukan identitas yang bernuansa agama tetapi identitas dengan mengangkat sentiment kewilayahan serta organisasi dengan sejarah masa lalu, sentiment kewilayahan disini seperti pemanfaatan suara pada daerah wilayah asal kedua calon ini sebagai pusat lumbung suara. juga adanya sentimen identitas organisasi politik melalui gerakan aceh merdeka dimasa lalu, dimana untuk beberapa wilayah tertentu sosok pemimpin yang memiliki sejarah masa lalu sebagai anggota gerakan aceh merdeka memiliki tempat khusus di hati masyarakat. kata kunci: pilkada, pidie jaya, politik identitas
Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
ANALISIS POLITIK IDENTITAS DALAM KEMENANGAN PASANGAN AIYUB ABBAS DAN SAID MULYADI PADA PILKADA PIDIE JAYA 2018. Banda Aceh Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik,2023
Baca Juga : POLITIK IDENTITAS ETNIS PADA PILKADA 2017 (STUDI KASUS TERHADAP KEMENANGAN IRWANDI-NOVA DI KECAMATAN BINTANG KABUPATEN ACEH TENGAH) (Sabardi, 2019)
Abstract
As a democratic country, Indonesia has a general election system or better known as elections. Elections are held to elect Executive and Legislative candidates for five-year terms. Elections were also held at the provincial and regional levels, in 2018 the Pidie Jaya Regency again held the Regional Head Election for the third time since Pidie Jaya Regency officially became a new autonomous region in 2007. In the regional head election held in 2018 in Pidie Jaya district, four candidates for the Regent and Deputy Regent were joined, namely Yusri Yusuf – Saifullah, Aiyub Abbas – Said Mulyadi. Muhibbuddin-M Yusuf, M Yusuf Usman-Anwar Ishak. Pair number two, namely the pair Aiyub Abbas-Said Mulyadi is the incumbent pair. In the 2018 Pilkada the Incumbent Aiyub Abbas-Said Mulyadi again managed to become the winner for the second term, as the incumbent pair, this pair is an interesting pair, because at the second time this pair did not mutually replace their partner, this rarely happens to the incumbent pair. On the other hand, the strategy implemented by the winning team of Aiyub Abbas-Said Mulyadi is to use a political marketing strategy where Aiyub Abbas utilizes a large party base as the supporting party, namely the Aceh Party as the largest local party in Aceh, also participated in holding political discussions for the public either through Islamic studies, there was also this couple taking advantage of the image of Aiyub Abbas as a high-ranking official of the Free Aceh Movement as a way to get voters' votes. On the other hand, the political identity factor is also used in the Pidie Jaya Regency Pilkada, political identity here is not an identity that has a religious nuance but identity by raising regional sentiments and organizations with a past history, regional sentiments here such as the use of votes in the area of origin of these two candidates as the center of the granary voice. There is also a sentiment of identity of political organizations through the Free Aceh Movement in the past, for certain areas, the figure of a leader who has a past history as a member of the Free Aceh Movement has a special place in the hearts of the people. Keywords: Pilkada, Pidie Jaya, political identity
Baca Juga : ANALISIS POLITIK IDENTITAS PADA PEMILIHAN GUBERNUR ACEH TAHUN 2024 (Jelita Hati Hasibuan, 2026)