Kota sabang merupakan daerah yang memiliki daerah konservasi yang luas salah satunya adalah daerah perairan ie meulee, ujung kareng, dan anoi itam. ketiga daerah tersebut memiliki jumlah hasil tangkapan ikan kerapu yang melimpah. ikan kerapu merupakan jenis ikan yang ekonomis tinggi dan banyak diminati banyak orang. produksi perikanan utama di sabang adalah jenis ikan pelagis dan ikan demersal. produksi ikan kerapu di kota sabang sebesar 491 ton pada tahun 2016 dan mengalami kenaikan sebesar 204% dari tahun 2015. penilaian pengelolaan sumberdaya ikan berkelanjutan dengan menggunakan pendekatan ekosistem (eafm) menjadi sangat penting seiring meningkatnya produksi hasil tangkapan pada setiap daerah dan didukung dengan berkembangnya jumlah dan jenis alat tangkap, jumlah nelayan dan jumlah kapal. penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi sumber daya ikan kerapu dan menganalisis pengelolaan ikan kerapu berdasarkan pendekatan ekosistem ecosystem approach to fisheries management (eafm) pada domain sdi di kecamatan sukajaya sabang. penelitian ini dilaksanakan pada bulan juli 2022 di kecamatan sukajaya sabang, aceh. data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi data primer dan data sekunder. data primer yang dikumpulkan terdiri dari data ukuran ikan, proporsi ikan yuwana (juvenile) yang ditangkap, komposisi spesies dari hasil tangkapan, range colapse, dan spesies etp serta hasil wawancara dari kuesioner yang diamati langsung dilapangan. analisis data per masing-masing indikator dilakukan dengan pendekatan multi kriteria analisis dengan penilaian indeks komposit dan visualisasi model bendera. hasil penelitian menunjukkan indikator yang tergolong dalam kondisi baik dan memiliki nilai skor 3 yaitu cpue baku yang mengalami kenaikan 20% pada setiap tahunnya, komposisi hasil tangkapan 85% tertangkap ikan target, proporsi ikan yuwana (juvenile) dengan ukuran yuwana 1-10 cm dan spesies etp (endangered, threatened and protected species) dengan nilai 100% tidak ada ikan yang dilindungi tertangkap. pada penilaian indikator eafm yang tergolong dalam kondisi sedang dengan skor nilai 2 yaitu range collapse jarak penangkapan relatif sama. kemudian, indikator yang tergolong dalam kondisi buruk dengan nilai skor 1 yaitu tren ukuran ikan. penilaian pengelolaan sumberdaya ikan kerapu (epinephelus sp) berdasarkan ecosystem approach to fisheries management (eafm) di kecamatan sukajaya sabang, diperoleh nilai komposit sebesar 78 dengan model bendera warna hijau muda dan berstatus baik. kata kunci : ecosystem approach to fisheries management (eafm), ikan kerapu (epinephelus), kota sabang
Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
PENILAIAN PENGELOLAAN SUMBERDAYA IKAN KERAPU (EPINEPHELUS SP.) BERDASARKAN ECOSYSTEM APPROACH TO FISHERIES MANAGEMENT (EAFM) DI KECAMATAN SUKAJAYA SABANG. Banda Aceh Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan,2022
Baca Juga : STATUS PENGELOLAAN PERIKANAN PANCING ULUR BERBASIS EAFM PADA DOMAIN SUMBERDAYA IKAN DI KECAMATAN TEUPAH BARAT KABUPATEN SIMEULUE (Rika Lismayana, 2022)
Abstract
The city of Sabang is an area that has extensive conservation areas, one of which is the water area of Ie Meulee, Ujung Kareng and Anoi Itam. These three areas have an abundance of grouper catches. Grouper is a type of fish that is highly economical and much in demand by many people. The main fishery production in Sabang is pelagic fish and demersal fish. Grouper production in Sabang City amounted to 491 tons in 2016 and increased by 204% from 2015. Assessment of sustainable fish resource management using an ecosystem approach (EAFM) becomes very important as catch production increases in each area and is supported by growing numbers and type of fishing gear, number of fishermen and number of boats. This study aims to determine the potential of grouper resources and to analyze grouper management based on the Ecosystem Approach to Fisheries Management (EAFM) ecosystem approach in the SDI domain in Sukajaya Sabang District. This research was conducted in July 2022 in Sukajaya Sabang District, Aceh. The data used in this study include primary data and secondary data. The primary data collected consisted of data on fish size, proportion of juvenile fish caught, species composition of the catch, range collapse, and ETP species as well as the results of interviews from questionnaires that were directly observed in the field. Data analysis per each indicator was carried out using a multi-criteria analysis approach with composite index assessment and flag model visualization. The results showed that the indicators were classified as in good condition and had a score of 3, namely the standard CPUE which increased 20% each year, the composition of the catch was 85% caught target fish, the proportion of juvenile fish (juvenile) with a size of 1-10 cm juvenile and species ETP (Endangered, Threatened and Protected species) with a value of 100% no protected fish caught. In the assessment of the EAFM indicator, which is classified as moderate with a score of 2, namely range collapse, the catching distance is relatively the same. Then, the indicator is classified as in bad condition with a score of 1, namely the trend of fish size. Assessment of grouper fish resource management (Epinephelus sp) based on the Ecosystem Approach to Fisheries Management (EAFM) in Sukajaya Sabang District, obtained a composite value of 78 with a light green flag model and a good status. Keywords : Ecosystem Approach to Fisheries Management (EAFM), Grouper Fish (Epinephelus), City of Sabang