Sungai lae kombih merupakan salah satu anak sungai di das alas-singkil, dan debit limpasan sungai lae kombih memberikan dampak yang besar terhadap sungai lae soraya di bagian hilir. pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa kondisi di hulu sungai curam dan di hilir sungai menyempit dan berkelok-kelok, serta tidak ada tanggul. sungai lae kombih memiliki curah hujan yang tinggi yang berpengaruh terhadap erosi dan sedimentasi. perubahan tata guna lahan yang dulunya hutan telah berubah menjadi lahan persawahan, perkebunan serta pemukiman penduduk. penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model pengelolaan daerah sungai secara terintegrasi dan mengkaji penerapan model pengelolaan daerah sungai dengan metode eko-hidraulik di sungai lae kombih kota subulussalam. pengambilan data di lapangan dilakukan dari bulan juni 2020 – oktober 2020 dan pengukuran penampang sungai dilakukan pada lima jembatan di sepanjang sungai lae kombih. model pengelolaan daerah sungai dibagi ke dalam 8 sub model yaitu sub model hidrologi, sub model hidraulika, sub model analisis spatial, sub model erosi dan sedimentasi, sub model tata guna lahan, sub model beban banjir, sub model partisipasi masyarakat dan sosial ekonomi, dan sub model eko-hidraulik. sub model hidrologi untuk menghitung debit banjir berbagai periode ulang dengan parameter intensitas hujan, hujan efektif dan debit banjir. sub model hidraulika dibuat untuk memperoleh karakteristik hidraulika sungai yaitu kekasaran saluran, kapasitas maksimum sungai (q) dan tinggi muka air banjir (h). sub model analisis spatial menggunakan data demnas dan pemetaan daerah banjir genangan menggunakan software arcgis dengan mengumpulkan, mengintegrasikan dan menganalisa data dan informasi-informasi yang didapat yang ditampilkan dalam bentuk peta. analisa titik banjir periode ulang menggunakan hec-ras versi 5.0.7. data yang diperlukan untuk analisis ini ialah penampang melintang sungai, jarak antar penampang, angka kekasaran manning’s, debit banjir periode ulang dan kemiringan memanjang sungai (slope). integrasi antara peta topografi, das dengan tinggi muka air banjir dapat menampilkan daerah yang berpotensi terkena dampak banjir genangan, sehingga dapat dihitung batas genangan banjir dan luas genangan banjir. sub model erosi dan sedimentasi terdiri dari sub model erosi dibuat untuk menghitung erosi lahan dengan metode usle dan erosi tebing sungai dari pengukuran lapangan. sub model sedimentasi dibuat untuk memperoleh karakteristik sedimen dan volume sedimen dalam bentuk sedimen melayang (suspended load) dan sedimen dasar (bed load). sub model tata guna lahan bertujuan untuk menentukan wilayah yang memiliki potensi sempadan untuk dilakukan pengelolaan sungai secara ekohidrolik. sub model beban banjir bertujuan untuk menilai seberapa besar ancaman banjir pada setiap selisih tinggi tanggul dengan muka air banjir. sub model partisipasi masyarakat dan sosial ekonomi yaitu kajian tingkat partisipasi masyarakat dengan menggunakan metode skala penilaian komparatif yaitu membagi atas tiga kategori tingkat partisipasi yaitu tinggi, sedang dan rendah. masyarakat yang menjadi responden adalah pemilik lahan dan pengelola lahan. sub model eko-hidraulik terbagi atas dua tahapan yaitu menghitung analisa eko-hidraulik pada lebar sempadan eksisting dan pada lebar sempadan desain 100 m dan perhitungan tinggi genangan dan kecepatan aliran. hasil penerapan model pengelolaan daerah sungai secara terintegrasi dengan metode eko-hidraulik didapat lebar sempadan desain 100 m kondisi sebelum dilakukan penataan sempadan tinggi genangan 0,3 – 1,13 m dan setelah dilakukan penataan sempadan debit dapat direduksi menjadi 113,09 – 209 m3/s dan tinggi genangan menjadi 0 – 0,31 m. berdasarkan hasil penelitian didapat bahwa penataan sempadan sungai dapat memberi manfaat pada tindakan pengendalian banjir, penataan ini merupakan dasar dalam penetapan garis sempadan sungai. hasil penerapan model kajian pengelolaan sungai dengan metode eko-hidraulik memberikan gambaran pada umumnya semua masyarakat bersedia untuk berpartisipasi dalam pengelolaan sungai sepanjang ada manfaat yang mereka rasakan. responden yang bersedia untuk terlibat dalam pengelolaan sempadan sungai sebanyak 20 orang (100 %), dimana pengelolaan sempadan sungai dapat melindungi aset lahan dari erosi tebing serta peningkatan kualitas panen. hasil analisis pengaruh sosial ekonomi masyarakat terhadap partisipasinya diperoleh bahwa kerugian masyarakat akibat pengelolaan sungai dan pengetahuan metode eko-hidraulik menunjukkan pengaruh yang terbesar dibandingkan dengan faktor lain. pengalaman dalam mengelola lahan dapat dilihat bahwa responden sudah lebih 20 tahun berpengalaman dalam mengelola sempadan sungai. pengalaman tersebut membuat responden memahami untung ruginya jika sungai tidak dikelola secara berkelanjutan. responden yang mengelola lahan di sempadan sungai dalam bentuk kebun ada15 orang (70%). jika dikaitkan data pada pengelolaan lahan di sempadan sungai, maka nampak bahwa di sisi kiri sungai terdapat 70 % lahan kebun dan di sisi kanan terdapat 30% lahan sawah. jika dilihat dari kemungkinan penerapan metode eko-hidraulik berdasarkan nilai tataguna lahan, maka kebun memiliki peringkat pertama setelah tanah kosong dan sawah, dengan demikian responden mudah untuk berpartisipasi dalam pengelolaan sungai akibat tingginya nilai lahan yang dimiliki. pemahaman masyarakat akan manfaat eko-hidraulik sangat mempengaruhi kesediaannya turut serta dalam program pengelolaan sungai. laju beban dasar dari hulu dan tengah sungai mengalami penurunan, namun, laju bedload yang terjadi di hilir sungai semakin meningkat. hal ini terjadi karena dipengaruhi oleh kedalaman sungai, diameter sedimen, dan konsentrasi sedimen. banjir genangan tahun 2019 memiliki luas genangan yang sama dengan banjir q5 = 404,53 m3/s, seluas 2.286,02 ha dengan tinggi genangan 0,45 m. sawah merupakan daerah yang paling signifikan terkena dampak banjir di semua debit banjir periode ulang. model pengelolaan daerah sungai dengan metode eko-hidraulik ini dapat diterapkan di anak-anak sungai, yang spesifiknya di daerah pegunungan.
Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
DISSERTATION
PENGEMBANGAN MODEL PENGELOLAAN DAERAH SUNGAI SECARA TERINTEGRASI DENGAN METODE EKOHIDRAULIK DI SUNGAI LAE KOMBIH KOTA SUBULUSSALAM PROVINSI ACEH. Banda Aceh Fakultas Teknik,2022
Baca Juga : ANALISIS SPASIAL 3D PEMETAAN BANJIR GENANGAN DI DAERAH SUNGAI LAE KOMBIH KOTA SUBULUSSALAM PROVINSI ACEH (MUHAMMAD SYAH RIDWAN, 2021)
Abstract
The Lae Kombih River is one of the tributaries of the Alas-Singkil watershed, and the Lae Kombih River's runoff has a major impact on the Lae Soraya River downstream. Field observations showed that conditions upstream were steep and downstream the river was narrow and winding, and there were no embankments. Lae Kombih River has high rainfall which affects erosion and sedimentation. Changes in land use that used to be forest have turned into rice fields, plantations and residential areas. This study aims to develop an integrated river basin management model and to examine the application of the eco-hydraulic method of river basin management in the Lae Kombih River, Subulussalam City. Data collection in the field was carried out from June 2020 - October 2020 and river cross-section measurements were carried out on five bridges along the Lae Kombih River. The river basin management model is divided into 8 sub-models, namely hydrological sub-model, hydraulic sub-model, spatial analysis sub-model, erosion and sedimentation sub-model, land use sub-model, flood load sub-model, community participation and socio-economic sub-model, and eco-hydraulic sub model. Hydrological sub-model to calculate flood discharge for various return periods with parameters of rain intensity, effective rain and flood discharge. The hydraulics sub-model was created to obtain the hydraulic characteristics of the river, namely channel roughness, maximum river capacity (Q) and flood water level (h). The sub-model of spatial analysis uses DEMNAS data and mapping of flood inundation areas using ArcGIS software by collecting, integrating and analyzing data and information obtained which is displayed in the form of maps. Analysis of return period flood points using HEC-RAS version 5.0.7. The data needed for this analysis is the cross section of the river, the distance between the sections, the Manning's roughness number, the return period flood discharge and the slope of the river. The integration between topographic maps, watersheds and flood water levels can display areas that are potentially affected by inundation floods, so that the flood inundation limits and flood inundation areas can be calculated. Erosion and sedimentation sub-models consist of erosion sub-models created to calculate land erosion using the USLE method and border erosion from field measurements. Sedimentation sub-model was created to obtain sediment characteristics and sediment volume in the form of suspended load and bed load. The sub-model of land use aims to determine areas that have potential for borders for eco-hydraulic river management. The flood load sub-model aims to assess how big the flood threat is at each difference between the height of the embankment and the flood water level. The sub-model of community participation and socio-economics is a study of the level of community participation using a comparative rating scale method, namely by dividing it into three categories of participation levels, namely high, medium and low. Study of the socio-economic conditions of the community using frequency tabulation. The study of the socio-economic conditions of the community describes the distribution of the parameters reviewed and shows the dominant personal characteristics of the community group. The people who are respondents are land owners and land managers. The results of the application of an integrated river basin management model with the eco-hydraulic method obtained the design border width of 100 m, the condition before the existing river border arrangement was carried out, the inundation height was 0.30 – 1.13 m and after the river border arrangement the discharge could be reduced to 113.09 – 209 m3/s and the inundation height is 0 – 0.31 m. Based on the research results, it is known that border arrangement can provide benefits for flood control measures. This arrangement is the basis for determining river boundaries. The results of the application of a river management study model based on the eco-hydraulic concept provide an overview that in general all communities are willing to participate in river management as long as there are benefits they feel. Respondents who are willing to be involved in border management are as many as 20 people (100%), where border management can protect land assets from cliff erosion and improve harvest quality. The results of the analysis of the socio-economic influence of the community on their participation showed that the community's losses due to river management and knowledge of eco-hydraulic methods showed the greatest influence compared to other factors. Experience in managing land can be seen that the respondents have more than 20 years of experience in managing river borders. This experience made respondents understand the pros and cons if the river is not managed sustainably. Respondents who manage land along the riverbank in the form of gardens there are 15 respondents (70%). If it is related to data on land management on the river border, it appears that on the left side of the river there is 70% of garden land and on the right side there is 30% of rice fields. If it is seen from the possibility of applying the eco-hydraulic method based on land use value, then the garden has the first rank after vacant land and rice fields, thus respondents are easy to participate in river management due to the high value of the land they own. The community's understanding of the benefits of eco-hydraulics greatly affects their willingness to participate in river management programs. The base load rate from upstream and in the middle of the river has decreased, however, the bedload rate that occurs downstream of the river is increasing. This happens because it is influenced by river depth, sediment diameter, and sediment concentration. The inundation flood in 2019 had the same inundation area as the Q5 return period = 404.53 m3/s, covering an area of 2,286.02 ha with an inundation height of 0.45 m. Rice fields are the area most significantly affected by flooding in all flood discharges of the return period. This eco-hydraulic method of river basin management can be applied to tributaries, specifically in mountainous areas.