Universitas Syiah Kuala | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI
ELVIRA WANDIKA, PENERAPAN MODEL COX EXTENDED DALAM PERBANDINGAN RISIKO KEJADIAN GEMPA BUMI DI WILAYAH ANOMALI ATLANTIK SELATAN DAN WILAYAH EQUATOR. Banda Aceh Fakultas MIPA (S1),2022

Medan magnet bumi yang melemah menimbulkan pergerakan lempeng yang dapat mengakibatkan terjadinya gempa bumi. wilayah anomali atlantik selatan memiliki nilai intensitas medan magnet bumi yang rendah sedangkan wilayah equator memiliki tingkatan nilai intensitas medan magnet bumi kategori sedang hingga tinggi. kedua wilayah tersebut memiliki frekuensi kejadian gempa bumi yang berbeda. sehingga penting untuk dilakukan analisis perbandingan secara ilmiah untuk mengetahui wilayah manakah yang lebih berisiko akan terjadinya gempa bumi. pada penelitian ini digunakan data selisih waktu antar dua kejadian gempa bumi berurutan di masing-masing wilayah yang diperoleh dari website united states geological survey (usgs) periode data dari januari 2015 sampai desember 2020. jumlah kejadian gempa bumi di wilayah anomali atlantik selatan adalah sebanyak 7.145 observasi, sedangkan di wilayah equator adalah sebanyak 14.423 observasi. penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kecepatan kejadian gempa bumi di kedua wilayah dan membandingkan risiko kejadian gempa bumi antara dua wilayah tersebut berdasarkan faktor wilayah gempa bumi, kekuatan gempa bumi, dan kedalaman gempa bumi. data selisih waktu antar dua kejadian gempa bumi dapat dianalisis dengan menggunakan analisis survival. model cox extended merupakan salah satu model dalam analisis survival yang dapat digunakan apabila asumsi proportional hazard tidak terpenuhi. selain itu, model cox extended juga dapat memberikan informasi mengenai perbandingan risiko kejadian gempa bumi berdasarkan nilai hazard ratio yang dihasilkan oleh model. peluang survival kejadian gempa bumi diestimasi dengan metode kaplan-meier dan ditampilkan dalam bentuk kurva survival. hasil penelitian dengan kurva survival menunjukkan bahwa gempa bumi di wilayah equator memiliki peluang kejadian yang lebih besar dibandingkan dengan wilayah anomali atlantik selatan. wilayah gempa bumi, kekuatan gempa bumi, dan kedalaman gempa bumi merupakan faktor yang memengaruhi selisih waktu antar dua kejadian gempa bumi yang berurutan. selain itu, risiko kejadian gempa bumi berdasarkan wilayah gempa bumi menunjukkan bahwa kejadian gempa bumi di wilayah anomali atlantik selatan cenderung lebih cepat terjadi dibandingkan wilayah equator untuk kejadian antar dua gempa bumi berurutan yang terjadi kurang dari 5 jam. sedangkan untuk kejadian antar dua gempa bumi berurutan yang terjadi lebih dari 5 jam, hasil penelitian menunjukkan bahwa kejadian gempa bumi di wilayah anomali atlantik selatan tidak lebih cepat terjadi dibandingkan wilayah equator. kata kunci: anomali atlantik selatan, equator, gempa bumi, hazard ratio, model cox extended



Abstract

The weakening of the earth's magnetic field causes plate movement which can cause earthquakes. The South Atlantic Anomaly region has a low value of the earth's magnetic field intensity, while the equator region has a moderate to high level of the earth's magnetic field intensity value. The two regions have different frequency of earthquake occurrences. So it is important to do a scientific comparison analysis to find out which areas are more at risk of earthquakes. In this study, data on the time difference between two consecutive earthquake events in each region was used which was obtained from the United States Geological Survey (USGS) website data period from January 2015 to December 2020. The number of earthquakes in the South Atlantic Anomaly area was 7,145 observations, while in the equator there were 14,423 observations. This study aims to determine the speed of earthquakes in the two regions and to compare the risk of earthquakes occurring between the two regions based on factors such as the area of the earthquake, the strength of the earthquake, and the depth of the earthquake. The time difference data between two earthquake events can be analyzed using survival analysis. The extended cox model is one of the models in survival analysis that can be used if the proportional hazard assumption is not met. In addition, the extended cox model can also provide information on the comparison of the risk of earthquake events based on the hazard ratio value generated by the model. The probability of survival of an earthquake is estimated by the Kaplan-Meier method and is shown in the form of a survival curve. The results of the study using survival curves show that earthquakes in the equator region have a greater chance of occurrence than the South Atlantic Anomaly region. The area of the earthquake, the strength of the earthquake, and the depth of the earthquake are factors that affect the time difference between two successive earthquake events. In addition, the risk of earthquakes based on the earthquake area shows that the occurrence of earthquakes in the South Atlantic Anomaly region tends to occur faster than the equator for occurrences between two consecutive earthquakes that occur in less than 5 hours. As for the occurrence between two consecutive earthquakes that occurred more than 5 hours, the results showed that the occurrence of earthquakes in the South Atlantic Anomaly region did not occur faster than the equator region. Keywords: south atlantic anomaly, equator, earthquake, hazard ratio, extended cox model



    SERVICES DESK