<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="1715671">
 <titleInfo>
  <title>MITIGASI KONFLIK SOSIAL DALAM SASTRA PERANG ACEH:</title>
  <subTitle>KEARIFAN LOKAL MENUJU PENGETAHUAN GLOBAL</subTitle>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Herman R</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Pasca Sarjana (S3)</publisher>
   <dateIssued>2026</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Dissertation</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Penelitian ini menggali, menganalisis, dan menemukan model mitigasi konflik sosial &#13;
dalam teks sastra perang Aceh. Hal yang ingin dilihat: (1) bagaimanakah jenis &#13;
konflik sosial yang terjadi di Aceh berdasarkan sumber informasi hikayat-hikayat &#13;
perang?; (2) bagaimanakah mitigasi dan resolusi konflik sosial yang terdapat dalam &#13;
teks hikayat perang sebagai konsep pengetahuan global? Penelitian ini merumuskan &#13;
model mitigasi konflik dalam kearifan lokal masyarakat Aceh sehingga bermanfaat &#13;
sebagai inspirasi dan pendidikan damai dalam dunia global. Penelitian ini &#13;
menggunakan metode deskriprif-analitis dengan studi dokumen. Analisis &#13;
menggunakan pendekatan hermeneutik (Paul Ricoeur; Hans-Georg Gadamer; &#13;
Richard E. Palmer) yang diintegrasikan dengan teori dekonstruksi (Jacques Derida). &#13;
Pendekatan ini dianggap sebagai metode penafsiran yang kuat terhadap teks &#13;
kebahasaan dan kesastraan. Teori dekonstruksi digunakan untuk memberikan &#13;
pemahaman secara bebas terhadap sesuatu yang selama ini dianggap ‗benar‘ secara &#13;
struktural, tetapi belum selesai secara pragmatik. Dengan demikian, hasil penelitian &#13;
ini dapat dianggap sebagai mitos penolakan terhadap kebenaran general dalam &#13;
pengetahuan global. Sumber data penelitian ini adalah teks sastra perang Aceh: (1) &#13;
Hikayat Prang Sabi; (2) Hikayat Perang Aceh; (3) Hikayat Pocut Muhammad; dan &#13;
(4) Hikayat Prang Tjumbok. Keempat teks hikayat ini memiliki keunikan tersendiri &#13;
dalam memaparkan konflik sosial dan resolusinya. Secara hierarki, teks-teks hikayat &#13;
ini mengisahkan konflik yang dialami oleh Aceh secara global dan lokal. Secara &#13;
kronologis, Hikayat Prang Sabi merupakan teks yang mengisahkan peristiwa perang &#13;
paling tua dalam sejarah Aceh, sedangkan Hikayat Prang Tjumbok merupakan teks &#13;
yang mengisahkan konflik setelah Aceh menjadi bagian dari wilayah Negara &#13;
Kesatuan Republik Indonesia. Hikayat Prang Sabi dan Hikayat Perang Aceh &#13;
berkisah tentang konflik sosial di Aceh yang melibatkan bangsa-bangsa luar seperti &#13;
Portugis, Inggris, Belanda, dan Jepang, termasuk juga keterlibatan Cina dan Turki &#13;
dalam hubungan bilateral dengan kerajaan Aceh pada masa itu. Adapun Hikayat &#13;
Pocut Muhammad berkisah tentang konflik sosial lokal pemerintahan pada masa &#13;
kerajaan Aceh Darussalam di akhir kepemimpinan Sultan Alaudin Johansyah. &#13;
Hikayat Prang Tjumbok berkisah tentang konflik etnis di Aceh, antara kelompok &#13;
ulama dengan kelompok uleebalang. Keempat teks sastra perang ini mewakili jenis &#13;
konflik sosial yang dialami Aceh secara global dan lokal sehingga layak sebagai &#13;
representasi teks-teks sastra perang lainnya. Temuan data dari keempat teks sastra &#13;
perang ini menjadi model mitigasi konflik sosial yang pernah terjadi di Aceh sesuai &#13;
dengan zamannya, yakni zaman kolonial, zaman kerajaan, dan zaman kemerdekaan. &#13;
Hasil penelitian ini menjadi referensi universal dalam memahami bentuk-bentuk &#13;
kearifan lokal terkait mitigasi (pencegahan) dan resolusi (penyelesaian) konflik &#13;
sosial. Pada akhirnya, hasil penelitian ini telah merumuskan sebuah konsep yang &#13;
disebut dengan Acehnese Conflict Mitigation Theory sehingga dapat digunakan &#13;
dalam pembelajaran bahasa dan sastra, sosiologi, sejarah, dan pendidikan &#13;
kewarganegaraan di sekolah dan perguruan tinggi.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>1715671</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2026-04-24 19:13:03</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2026-04-24 19:54:30</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>