Electronic Theses and Dissertation
Universitas Syiah Kuala
SKRIPSI
EFIKASI BAKTERI BACILLUS THURINGIENSIS SEBAGAI BIOINSEKTISIDA TERHADAP HAMA SPODOPTERA EXIGUA PADA TANAMAN BAWANG MERAH (ALLIUM CEPA L.)
Pengarang
Muhammad Zulfazaki - Personal Name;
Dosen Pembimbing
Muhammad Sayuthi - 197211232003121001 - Dosen Pembimbing I
Nur Pramayudi - 198010132006041001 - Dosen Pembimbing II
Nomor Pokok Mahasiswa
2105109010038
Fakultas & Prodi
Fakultas Pertanian / Proteksi Tanaman (S1) / PDDIKTI : 54295
Subject
Kata Kunci
Penerbit
Banda Aceh : Fakultas Pertanian., 2026
Bahasa
No Classification
-
Literature Searching Service
Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)
Tanaman bawang merah (Allium cepa L.) merupakan komoditas hortikultura strategis yang sering menghadapi ancaman gagal panen akibat serangan ulat grayak (Spodoptera exigua). Ketergantungan pada pestisida kimia sintetis secara terus-menerus telah memicu masalah resistensi hama dan pencemaran lingkungan, sehingga diperlukan solusi alternatif melalui pemanfaatan agen hayati yang lebih aman. Penelitian ini bertujuan untuk meninjau sejauh mana bakteri Bacillus thuringiensis efektif dalam mengendalikan larva S. exigua melalui berbagai tingkat konsentrasi paling optimal yang mampu memberikan perlindungan terbaik bagi tanaman bawang merah.
Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) non faktorial yang terdiri dari lima perlakuan, yaitu Kontrol (tanpa perlakuan bakteri), bakteri dengan konsentrasi 102, 104, 106 dan 108 CFU/ml. Peubah yang diamati dalam penelitian ini meliputi: (1) Masa inkubasi B. thuringiensis pada larva S. exigua; (2) Gejala infeksi B. thuringiensis pada larva S. exigua; (3) Mortalitas larva S. exigua; (4) Rata-rata waktu kematian; (5) Intensitas kerusakan tanaman bawang; dan (6) Persentase pupa yang muncul.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi B. thuringiensis memberikan pengaruh yang nyata terhadap seluruh peubah yang diamati. Masa inkubasi Bakteri B. thuringiensis pada larva S. exigua paling cepat mencapai 19,33 jam yang terdapat pada perlakuan konsentrasi bakteri 108 CFU/ml. Larva yang terinfeksi menunjukkan gejala awal berupa berhentinya aktivitas makan kurang dari 12 jam pada konsentrasi tertinggi, diikuti dengan perubahan morfologi berupa tubuh yang melunak dan menghitam. Konsentrasi 108 CFU/ml memberikan mortalitas tertinggi sebesar 100% pada 2 hari setelah aplikasi (HSA). Rata-rata waktu kematian tercepat adalah 1,42 hari, yang secara signifikan berhasil menekan tingkat kerusakan tanaman hingga hanya 25% dibandingkan kontrol (100%). Selain itu, pada perlakuan konsentrasi tinggi 106 dan 108 CFU/ml, persentase pupa yang muncul berhasil ditekan hingga 0%.
Simpulan dari penelitian ini adalah bakteri B. thuringiensis terbukti memiliki efikasi yang sangat tinggi sebagai bioinsektisida terhadap hama S. exigua. Hasil penelitian menjawab tujuan penelitian bahwa konsentrasi 108 CFU/ml merupakan konsentrasi bakteri yang paling optimal karena mampu mematikan larva secara cepat, meminimalkan tingkat kerusakan tanaman bawang merah secara signifikan, dan berhasil memutus rantai reproduksi hama dengan mencegah pembentukan pupa secara total. Temuan ini mempertegas potensi B. thuringiensis sebagai komponen utama dalam manajemen hama terpadu yang efektif dan berkelanjutan untuk budidaya bawang merah.
Shallots (Allium cepa L.) are a strategic horticultural commodity that often faces the threat of crop failure due to attacks by grayak caterpillars (Spodoptera exigua). Continuous reliance on synthetic pesticides has triggered problems with pest resistance and environmental pollution, necessitating alternative solutions through the use of safer biological agents. This study aims to examine the effectiveness of Bacillus thuringiensis bacteria in controlling S. exigua larvae through various optimal concentration levels that provide the best protection for shallot plants. This study used an experimental method with a non-factorial Completely Randomized Design (CRD) consisting of five treatments: Control (without bacterial treatment), bacteria with concentrations of 102, 104, 106, and 108 CFU/ml. The variables observed in this study included: (1) Incubation period of B. thuringiensis in S. exigua larvae; (2) Symptoms of B. thuringiensis infection in S. exigua larvae; (3) Mortality of S. exigua larvae; (4) Average time to death; (5) Intensity of onion plant damage; and (6) Percentage of pupae emergence. The results showed that the application of B. thuringiensis had a significant effect on all observed variables. The fastest incubation period for B. thuringiensis bacteria on S. exigua larvae reached 19.33 hours at a bacterial concentration of 108 CFU/ml. Infected larvae showed initial symptoms of cessation of feeding activity for less than 12 hours at the highest concentration, followed by morphological changes in the form of frozen and blackened bodies. The 108 CFU/ml concentration resulted in the highest mortality of 100% 2 days after application (DAP). The fastest average time to death was 1.42 days, which significantly reduced the level of plant damage to only 25% compared to the control (100%). Furthermore, at high concentrations of 106 and 108 CFU/ml, the percentage of pupae emergence was successfully reduced to 0%. The conclusion of this study is that B. thuringiensis bacteria have proven to have very high efficacy as a bioinsecticide against S. exigua pests. The results of the study answered the research objective that the concentration of 108 CFU/ml is the most optimal bacterial concentration because it is able to kill larvae quickly, minimize the level of damage to shallot plants significantly, and successfully break the pest reproduction chain by preventing the formation of pupae completely. These findings strengthen the potential of B. thuringiensis as a key component in effective and sustainable integrated pest management for shallot cultivation.
POLA PENYEBARAN DAN TINGKAT PREVALENSI OLEH LARVA HAMA SPODOPTERA EXIGUA HUBNER PADA TANAMAN BAWANG MERAH (ALLIUM CEPA ) DI GAMPONG LAMBIDENG KECAMATANSIMPANG TIGA KABUPATEN PIDIE (Zahratul Ilmi, 2022)
KEEFEKTIFAN CENDAWAN BEAUVERIA BASSIANA (BALS.) SEBAGAI BIOINSEKTISIDA TERHADAP HAMA SPODOPTERA EXIGUA PADA TANAMAN BAWANG MERAH (ALLIUM CEPA L.) (Muhammad Nabil Naufal Meutuah, 2026)
PERBANDINGAN DAYA HAMBAT PERASAN UMBI LAPIS BAWANG PUTIH (ALLIUM SATIVUM) DENGAN BAWANG BOMBAY (ALLIUM CEPA) TERHADAP PERTUMBUHAN CANDIDA ALBICANS SECARA IN VITRO (Putri Hastina, 2022)
PENGARUH PENAMBAHAN EKSTRAK BAWANG MERAH (ALLIUM CEPA) DALAM PAKAN SEBAGAI SUMBER PREBIOTIK UNTUK MENINGKATKAN PERTUMBUHAN DAN KELANGSUNGAN HIDUP BENIH IKAN SEURUKAN(OSTEOCHILUS VITTATUS) (Mayana, 2016)
PENGARUH APLIKASI BIOCHAR SEKAM PADI DAN TRICHO-KOMPOS TERHADAP KEMUNCULAN PENYAKIT MOLER (FUSARIUM SP.) PADA TANAMAN BAWANG MERAH (ALLIUM CEPA L.) (Kevin Rizqullah El Ryiad, 2024)