DAMPAK KONTEN "MARRIAGE IS SCARY" TERHADAP KEPUTUSAN MENIKAH DI KALANGAN MAHASISWI KECAMATAN SYIAH KUALA KOTA BANDA ACEH | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

DAMPAK KONTEN "MARRIAGE IS SCARY" TERHADAP KEPUTUSAN MENIKAH DI KALANGAN MAHASISWI KECAMATAN SYIAH KUALA KOTA BANDA ACEH


Pengarang

ZIFA KEVINA GEMA PUTI HAYU - Personal Name;

Dosen Pembimbing

Dr. Rahmawati, M.Si - - - Dosen Pembimbing I



Nomor Pokok Mahasiswa

2210102010098

Fakultas & Prodi

Fakultas Ilmu Sosial dan Politik / Ilmu Komunikasi(S1) / PDDIKTI : 70201

Subject
-
Kata Kunci
-
Penerbit

Banda Aceh : .,

Bahasa

No Classification

-

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Latar belakang penelitian ini adalah adanya penurunan angka pernikahan di Indonesia serta meluasnya narasi negatif mengenai kehidupan rumah tangga di platform digital seperti TikTok, Instagram, dan X.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak dari fenomena konten media sosial “Marriage Is Scary” terhadap persepsi dan keputusan menikah di kalangan mahasiswi di Kecamatan Syiah Kuala, Kota Banda Aceh. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori kultivasi, yang menjelaskan bagaimana paparan media secara kumulatif dapat membentuk persepsi realitas sosial khalayak. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara semi terstruktur terhadap tujuh informan mahasiswi aktif yang belum menikah dan terpapar dengan konten “Marriage Is Scary”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa paparan konten “Marriage Is Scary” secara signifikan membentuk persepsi negatif terhadap institusi pernikahan, yang meliputi ketakutan akan hilangnya kebebasan individu, kekhawatiran terhadap KDRT, perselingkuhan, hingga ketidaksiapan tanggung jawab ekonomi. Temuan penelitian mengidentifikasi dua pola utama dalam pengambilan keputusan yang pertama, munculnya sikap menunda pernikahan (delayed marriage) sebagai langkah preventif dan kedua, adanya mekanisme perlindungan diri (self shielding) di mana mahasiswi menjadi lebih selektif dan kritis dalam memilih pasangan guna menghindari risiko kegagalan domestik. Kesimpulannya, konten media sosial berfungsi sebagai katalisator yang memperkuat kecemasan pribadi, namun tidak selalu berujung pada penolakan mutlak terhadap pernikahan, melainkan perubahan strategi hidup menjadi lebih realistis dan berhati-hati.

The background of this research is the decline in marriage rates in Indonesia and the spread of negative narratives about married life on digital platforms such as TikTok, Instagram, and X. This study aims to analyze the impact of the social media content phenomenon "Marriage Is Scary" on the perception and decision to marry among female students in Syiah Kuala District, Banda Aceh City. The theory used in this study is cultivation theory, which explains how cumulative media exposure can shape the public's perception of social reality. The research method used is descriptive qualitative with data collection techniques through semi-structured interviews with seven informants, active female students who are not yet married and exposed to the content "Marriage Is Scary". The results show that exposure to the content "Marriage Is Scary" significantly shapes negative perceptions of the institution of marriage, which include fear of loss of individual freedom, concerns about domestic violence, infidelity, and unpreparedness for economic responsibility. The research findings identify two main patterns in decision-making: first, the emergence of an attitude of delaying marriage as a preventive measure and second, the existence of a self-protection mechanism where female students become more selective and critical in choosing a partner to avoid the risk of domestic failure. In conclusion, social media content serves as a catalyst that amplifies personal anxieties, but does not always lead to a complete rejection of marriage, but rather to a change in life strategy to become more realistic and cautious.

Citation



    SERVICES DESK