<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="1715581">
 <titleInfo>
  <title>DAMPAK KONTEN</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>ZIFA KEVINA GEMA PUTI HAYU</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Prodi Ilmu Komunikasi</publisher>
   <dateIssued>2026</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Latar belakang penelitian ini adalah adanya penurunan angka pernikahan di Indonesia serta meluasnya narasi negatif mengenai kehidupan rumah tangga di platform digital seperti TikTok, Instagram, dan X.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak dari fenomena konten media sosial “Marriage Is Scary” terhadap persepsi dan keputusan menikah di kalangan mahasiswi di Kecamatan Syiah Kuala, Kota Banda Aceh. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori kultivasi, yang menjelaskan bagaimana paparan media secara kumulatif dapat membentuk persepsi realitas sosial khalayak. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara semi terstruktur terhadap tujuh informan mahasiswi aktif yang belum menikah dan terpapar dengan konten “Marriage Is Scary”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa paparan konten “Marriage Is Scary” secara signifikan membentuk persepsi negatif terhadap institusi pernikahan, yang meliputi ketakutan akan hilangnya kebebasan individu, kekhawatiran terhadap KDRT, perselingkuhan, hingga ketidaksiapan tanggung jawab ekonomi. Temuan penelitian mengidentifikasi dua pola utama dalam pengambilan keputusan yang pertama, munculnya sikap menunda pernikahan (delayed marriage) sebagai langkah preventif dan kedua, adanya mekanisme perlindungan diri (self shielding) di mana mahasiswi menjadi lebih selektif dan kritis dalam memilih pasangan guna menghindari risiko kegagalan domestik. Kesimpulannya, konten media sosial berfungsi sebagai katalisator yang memperkuat kecemasan pribadi, namun tidak selalu berujung pada penolakan mutlak terhadap pernikahan, melainkan perubahan strategi hidup menjadi lebih realistis dan berhati-hati.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>1715581</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2026-04-23 23:58:46</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2026-04-24 09:21:17</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>