SENIORITAS DAN PERILAKU KEKERASAN DI PESANTREN | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI

SENIORITAS DAN PERILAKU KEKERASAN DI PESANTREN


Pengarang

Hadil Qumara Maulidy - Personal Name;

Dosen Pembimbing

Siti Ikramatoun - 199007012019032024 - Dosen Pembimbing I



Nomor Pokok Mahasiswa

2010101010089

Fakultas & Prodi

Fakultas Ilmu Sosial dan Politik / Sosiologi (S1) / PDDIKTI : 69201

Penerbit

Banda Aceh : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Sosiologi., 2026

Bahasa

Indonesia

No Classification

364.4

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk-bentuk perilaku kekerasan yang lahir dari praktik senioritas serta peran ustadz dan guru dalam mengatasi permasalahan tersebut di lingkungan Dayah Terpadu Inshafuddin Banda Aceh. Latar belakang penelitian ini berangkat dari fenomena kekerasan yang dilakukan oleh santri senior kepada junior dengan mengatasnamakan senioritas, yang bertentangan dengan nilai-nilai pendidikan Islam dan tujuan pesantren sebagai lembaga pembinaan akhlak. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Informan terdiri dari santri junior dan senior, serta ustadz/pengasuh dayah. Teori yang digunakan dalam menganalisis temuan adalah teori konstruksi realitas sosial oleh Peter L. Berger dan Thomas Luckmann. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik kekerasan di pesantren muncul karena adanya relasi kuasa yang tidak seimbang, tradisi senioritas yang dilestarikan secara turun-temurun, serta minimnya pengawasan dari pihak pengelola. Kekerasan yang terjadi meliputi intimidasi verbal, kekerasan fisik ringan, hingga perlakuan diskriminatif dalam lingkungan pesantren. Peran ustadz dan guru sangat penting dalam mengatasi hal ini melalui regulasi tata tertib, program pembinaan karakter, pendekatan disiplin positif, serta kerja sama dengan lembaga luar seperti UNICEF dan Yayasan Aceh Hijau dalam menciptakan lingkungan dayah yang ramah anak. Penelitian ini merekomendasikan perlunya penguatan pendidikan karakter berbasis nilai-nilai Islam, peningkatan pengawasan terhadap kegiatan santri, dan pelibatan aktif semua pihak, termasuk keluarga, dalam membentuk lingkungan pesantren yang aman, inklusif, dan bebas dari kekerasan.
Kata Kunci: Senioritas, Kekerasan, Pesantren, Relasi Kuasa, Pendidikan Karakter

ABSTRACT This study aims to examine the forms of violent behavior arising from seniority practices as well as the role of teachers in addressing these issues within the environment of Dayah Terpadu Inshafuddin Banda Aceh. The background of this research is based on the phenomenon of violence committed by senior students against juniors in the name of seniority, which contradicts Islamic educational values and the objectives of pesantren as institutions for moral and character development. This study employs a qualitative approach using a phenomenological method. Data were collected through observation, in-depth interviews, and documentation. The informants consisted of junior and senior students, as well as ustadz and caregivers of the dayah. The theoretical framework used to analyze the findings is the theory of the social construction of reality proposed by Peter L. Berger and Thomas Luckmann. The results indicate that violent practices in the pesantren emerge due to unequal power relations, the perpetuation of seniority traditions passed down across generations, and insufficient supervision by the management. The forms of violence identified include verbal intimidation, mild physical violence, and discriminatory treatment within the pesantren environment. The role of ustadz and teachers is crucial in addressing these issues through the implementation of regulations and disciplinary rules, character-building programs, positive disciplinary approaches, and collaboration with external institutions such as UNICEF and the Aceh Hijau Foundation to create a child-friendly dayah environment. This study recommends strengthening character education based on Islamic values, enhancing supervision of students’ activities, and actively involving all stakeholders, including families, in fostering a safe, inclusive, and violence-free pesantren environment. Keywords: Seniority, Violence, Pesantren, Power Relations, Character Education

Citation



    SERVICES DESK