<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="1715513">
 <titleInfo>
  <title>SENIORITAS DAN PERILAKU KEKERASAN DI PESANTREN</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Hadil Qumara Maulidy</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik	Sosiologi</publisher>
   <dateIssued>2026</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>ABSTRAK&#13;
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk-bentuk perilaku kekerasan yang lahir dari praktik senioritas serta peran ustadz dan guru dalam mengatasi permasalahan tersebut di lingkungan Dayah Terpadu Inshafuddin Banda Aceh. Latar belakang penelitian ini berangkat dari fenomena kekerasan yang dilakukan oleh santri senior kepada junior dengan mengatasnamakan senioritas, yang bertentangan dengan nilai-nilai pendidikan Islam dan tujuan pesantren sebagai lembaga pembinaan akhlak. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Informan terdiri dari santri junior dan senior, serta ustadz/pengasuh dayah. Teori yang digunakan dalam menganalisis temuan adalah teori konstruksi realitas sosial oleh Peter L. Berger dan Thomas Luckmann. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik kekerasan di pesantren muncul karena adanya relasi kuasa yang tidak seimbang, tradisi senioritas yang dilestarikan secara turun-temurun, serta minimnya pengawasan dari pihak pengelola. Kekerasan yang terjadi meliputi intimidasi verbal, kekerasan fisik ringan, hingga perlakuan diskriminatif dalam lingkungan pesantren. Peran ustadz dan guru sangat penting dalam mengatasi hal ini melalui regulasi tata tertib, program pembinaan karakter, pendekatan disiplin positif, serta kerja sama dengan lembaga luar seperti UNICEF dan Yayasan Aceh Hijau dalam menciptakan lingkungan dayah yang ramah anak. Penelitian ini merekomendasikan perlunya penguatan pendidikan karakter berbasis nilai-nilai Islam, peningkatan pengawasan terhadap kegiatan santri, dan pelibatan aktif semua pihak, termasuk keluarga, dalam membentuk lingkungan pesantren yang aman, inklusif, dan bebas dari kekerasan.&#13;
Kata Kunci: Senioritas, Kekerasan, Pesantren, Relasi Kuasa, Pendidikan Karakter&#13;
</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <subject authority="">
  <topic>VIOLENCE CRIMES - PREVENTION</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>VIOLENCE IN SCHOOLS</topic>
 </subject>
 <classification>364.4</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>1715513</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2026-04-23 14:37:44</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2026-04-23 15:59:54</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>