EVALUASI KUALITAS RUANG PUBLIK SEURAMOE KRUENG ACEH MENGGUNAKAN PENDEKATAN PLACEMAKING | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    THESES

EVALUASI KUALITAS RUANG PUBLIK SEURAMOE KRUENG ACEH MENGGUNAKAN PENDEKATAN PLACEMAKING


Pengarang

Rizky Aulia - Personal Name;

Dosen Pembimbing

Mirza Fuady - 197002242008121002 - Dosen Pembimbing I
irin Caisarina - 197605182005012002 - irincaisarina@usk.ac.id - - - Dosen Pembimbing II



Nomor Pokok Mahasiswa

2304204010008

Fakultas & Prodi

Fakultas Teknik / Arsitektur / PDDIKTI :

Subject
-
Kata Kunci
-
Penerbit

Banda Aceh : Fakultas Teknik., 2026

Bahasa

No Classification

-

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Seuramoe Krueng Aceh merupakan ruang publik hasil pembangunan ulang kawasan bekas pasar yang terletak di tepi Sungai Krueng Aceh, tepatnya di kawasan heritage Peunayong, Banda Aceh. Kawasan ini dibangun pada tahun 2022 sebagai bagian dari pengembangan waterfront city. Meskipun secara fisik berhasil meningkatkan kualitas visual, tempat ini menghadapi persoalan kekosongan operasional, degradasi fisik, dan kesenjangan identitas pasca relokasi pasar ikan. Penelitian ini mengevaluasi kualitas ruang publik Seuramoe Krueng Aceh ditinjau dari fungsi ruang, identitas, dan dukungannya terhadap aktivitas sosial dan rekreasi wisatawan. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif-evaluatif, hasil penelitian diperoleh dari triangulasi observasi, studi dokumentasi, dan wawancara. Instrumen observasi menggunakan kerangka placemaking untuk mengukur kualitas tempat, dan wawancara melibatkan 20 informan yang berasal dari pejabat pemerintah, penduduk setempat setempat, dan pengunjung. Hasil evaluasi menunjukkan fungsionalitas ruang berada pada kategori cukup (skor 1,6/3 atau 53%), di mana fungsi interaksi sosial dan akses relatif baik, tetapi fungsi kenyamanan dan simbolik masih kurang yang disebabkan oleh disfungsi ruang, degradasi fisik, fasilitas tidak memadai, dan kegagalan representasi identitas kawasan. Seuramoe Krueng Aceh belum berfungsi optimal sebagai heritage waterfront yang mendukung aktivitas sosial dan rekreasi wisata. Hambatan sistemik teridentifikasi dalam empat kategori: struktural-fisik, fungsional-programatik, governance-institusional, dan sosial-budaya. Optimalisasi Seuramoe Krueng Aceh tidak dapat dilakukan melalui intervensi fisik semata, melainkan dengan strategi placemaking yang mengintegrasikan people (partisipasi penduduk setempat), place (penataan ruang dengan identitas heritage), serta process (tata kelola berkelanjutan) untuk memutus siklus degradasi dan mewujudkan ruang publik yang hidup, inklusif, dan bermakna.

Kata kunci: placemaking, heritage, waterfront, ruang publik, identitas kawasan, Seuramoe Krueng Aceh, Peunayong.

Seuramoe Krueng Aceh is a public space resulting from the penataan ulang of a former market area located along the Krueng Aceh River, specifically in the heritage area of Peunayong, Banda Aceh. This area was built in 2022 as part of the waterfront city development. Despite physically succeeding in improving visual quality, this place faces issues of operational vacancy, physical degradation, and identity gaps following the relocation of the fish market. This study evaluates the quality of the Seuramoe Krueng Aceh public space in terms of spatial function, identity, and its support for social activities and tourist recreation. Using a qualitative approach with descriptive-evaluative methods, research findings were obtained through triangulation of observation, documentation study, and interviews. The observation instrument uses the placemaking framework to measure place quality, and interviews involved 20 informants consisting of government officials, local community members, and visitors. The evaluation results show that spatial functionality is in the moderate category (score 1.6/3 or 53%), where social interaction and access functions are relatively good, but comfort and symbolic functions are still lacking due to spatial dysfunction, physical degradation, inadequate facilities, and failure to represent the area's identity. Seuramoe Krueng Aceh has not functioned optimally as a heritage waterfront supporting social activities and tourist recreation. Systemic barriers were identified in four categories: structural-physical, functional-programmatic, governance-institutional, and socio-cultural. Optimizing Seuramoe Krueng Aceh cannot be done through physical intervention alone, but rather with a placemaking strategy that integrates people (local resident participation), place (spatial planning with heritage identity), and process (sustainable governance) to break the cycle of degradation and create a vibrant, inclusive, and meaningful public space. Keywords: placemaking, heritage, waterfront, public space, area identity, Seuramoe Krueng Aceh, Peunayong.

Citation



    SERVICES DESK