<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="1715327">
 <titleInfo>
  <title>INDUKSI MUTASI KIMIA PADA TANAMAN PISANG BARANGAN MERAH (MUSA ACUMINATA COLLA) SECARA IN VITRO UNTUK KETAHANAN TERHADAP FUSARIUM</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Mita Setyowati</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Pasca Sarjana</publisher>
   <dateIssued>2026</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Dissertation</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>RINGKASAN&#13;
&#13;
Mita Setyowati (NPM. 1909300030007). Induksi Mutasi Kimia Pada Tanaman Pisang Barangan Merah (Musa acuminata Colla) Secara In Vitro Untuk Ketahanan Terhadap Fusarium, di bawah bimbingan Prof. Dr. Ir. Elly Kesumawati, M.Agric.Sc. sebagai Promotor, Dr. Ir.  Efendi, M.Agric.Sc. sebagai Ko-Promotor I, dan Dr. Bakhtiar, SP., M.Si. sebagai Ko-Promotor II.&#13;
&#13;
&#13;
Pisang Barangan Merah (Musa acuminate Colla.) merupakan pisang yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai buah meja karena manis, harum, tinggi vitamin A dan mengandung betakaroten, selain harga jualnya yang cukup tinggi. Namun hal tersebut terkendala karena tanaman ini tidak menghasilkan biji dan rentan terhadap penyakit layu fusarium. Oleh karena itu perlu pengembangan keragaman pisang Barangan Merah dalam rangka penyediaan bibit pisang bebas penyakit. Penelitian yang terkait induksi mutasi tanaman pisang secara in vitro yang telah dilakukan oleh peneliti lain masih dilakukan secara parsial dan hanya pada beberapa varietas tertentu, sehingga masih terbuka luas peluang untuk ditemukan hasil penelitian induksi mutasi dengan mutagen kimia ethyl methane sulfonate (EMS) secara in vitro untuk menghasilkan tanaman mutan pada eksplan pisang varietas Barangan Merah. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan teknik regenerasi dan induksi mutasi dengan EMS yang efektif pada pisang Barangan Merah, konfirmasi mutan putatif secara molekuler, dan indikasi awal ketahanan mutan putatif terhadap penyakit Fusarium.&#13;
Penelitian ini terdiri atas tiga tahap utama. Tahap I adalah teknik regenerasi tanaman pisang Barangan Merah secara in vitro, dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala. Alur penelitian tahap pertama adalah Induksi Tunas untuk mendapatkan kombinasi konsentrasi Benzil Amino Purin (BAP) dan jenis media yang optimum. Penelitian selanjutnya adalah Multiplikasi Tunas atau Induksi Multiple Bud Clumps (MBC) menggunakan kombinasi perlakuan konsentrasi BAP dan Indole-3 Acetic Acid  (IAA). Alur penelitian berikutnya adalah Regenerasi Planlet. Eksplan yang berhasil diregenrasikan menjadi planlet akan dilanjutkan ke proses aklimatisasi. Penelitian induksi kalus menggunakan eksplan daun dari planlet tersebut. Hasil penelitian tahap pertama disimpulkan bahwa konsentrasi BAP 3 mg.L-1 menunjukkan respon terbaik untuk jumlah pelepah hijau dan jumlah pelepah terbuka dibandingkan dengan konsentrasi perlakuan BAP lainnya. Persentase eksplan hidup pada minggu ke 4 setelah induksi adalah 86,11% dari 72 eksplan yang ditanam. Media dengan kombinasi 5 mg L-1 BAP + 0,5 mg L-1 IAA paling baik dan efisien untuk induksi MBC pada eksplan pisang Barangan Merah. Persentase hidup pada minggu ke-8 setelah induksi MBC adalah 96,29% dari 56 eksplan yang ditanam. Rerata persentase hidup planlet pada tahap regenerasi tinggi, yaitu 80%. Rerata pertumbuhan daun paling baik cenderung dijumpai pada perlakuan BAP 0,5 mg L-1.  Konsentrasi BAP 0,5 mg L-1 mampu meningkatkan tinggi tanaman dibandingkan kontrol. Jumlah akar paling banyak dijumpai pada perlakuan BAP 0,5 mg L-1 Teknik aklimatisasi menggunakan individual pot dan penyungkupan per individu planlet selama 8 minggu menghasilkan bibit yang lebih bisa bertahan hidup pada tahap transplanting. Media arang sekam menghasilkan persentase hidup bibit tertinggi dibandingkan media lainnya. Media kompos seresah daun menghasilkan pertubuhan bibit terbaik selama proses aklimatisasi. Sterilisasi menggunakan sodium hipoklorit dan kalsium hipoklorit mampu menghasilkan kultur steril pada induksi kalus dari daun planlet pisang Barangan Merah. Eksplan belum menunjukkan respon membentuk kalus terhadap perlakuan ZPT yang diberikan hingga masa inkubasi 8 minggu.&#13;
Penelitian tahap II yaitu induksi mutasi secara kimia menggunakan EMS. Pada tahap ini, penelitian menggunakan rumpun tunas (MBC) pisang Barangan Merah hasil perbanyakan secara in vitro. Tunas direndam dalam larutan EMS 0,1% selama 1 jam, 2 jam, dan 3 jam, kemudian dikulturkan dalam medium induksi tunas menggunakan Murashige &amp; Skoog (MS) + BAP 3 mg L-1 selama 4 minggu dan dilanjutkan subkultur ke dalam medium pemulihan (MS tanpa BAP) selama 16 minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perendaman eksplan pisang Barangan Merah selama 1 jam dalam larutan EMS 0,1% cenderung lebih baik pada jumlah tunas dan tinggi tunas. Perendaman selama 1 jam dan 3 jam dalam larutan EMS 0,1% meningkatkan jumlah daun dan tinggi tanaman. Perendaman selama 2 jam dalam larutan EMS 0,1% meningkatkan ukuran daun, jumlah, dan panjang akar. Perendaman selama 3 jam dalam larutan EMS 0,1% menurunkan tinggi tunas. Bibit mutan setelah aklimatisasi 6 minggu menunjukkan warna daun lebih gelap daripada kontrol, yaitu 28,7-39,9 unit kandungan klorofil. Bibit mutan memiliki stomata tipe tetrasitik dan bentuk ginjal membulat, sama seperti stomata kontrol.&#13;
Tahap III yaitu uji molekuler dan uji in planta. Tahap penelitian ini menggunakan bibit kontrol dan mutan putatif untuk dilakukan uji molekuler di BSIP Biogen, menggunakan penanda simple sequence repeat (SSR), yaitu Ma 3/2, Ma 15, Ma 1/17 dan STMS 7. Hasil SSR dengan Marka STMS 7 menunjukkan polimorfisme yang jelas antar mutan. Bibit mutan putative 1A memiliki pola pita DNA yang berbeda dengan kontrol. Hasil filogenetik menunjukkan ada 2 klaster utama dengan koefisien kesamaan genetik sebesar 0,75, dan bibit mutan putative 1A masuk ke dalam klaster 2. Penelitian uji in planta menunjukkan bahwa semua bibit mutan putatif pisang Barangan Merah hasil mutasi dengan EMS yang diujikan menunjukkan indikasi awal ketahanan yang agak rentan terhadap Fusarium pada minggu ke-20 setelah aplikasi suspensi spora Fusarium, dibandingkan dengan bibit yang tidak dimutasi (kontrol) menunjukkan indikasi awal ketahanan yang rentan.&#13;
&#13;
&#13;
Kata kunci: Induksi Mutasi; Etil metanasulfonat; Musa acuminata; Kultur in-vitro; Ketahanan Fusarium&#13;
</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>1715327</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2026-04-22 17:23:24</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2026-04-23 09:13:24</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>