POTENSI MINYAK IKAN SIDAT (ANGUILLA BICOLOR) SEBAGAI KANDIDAT PENCEGAHAN STUNTING. | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    DISSERTATION

POTENSI MINYAK IKAN SIDAT (ANGUILLA BICOLOR) SEBAGAI KANDIDAT PENCEGAHAN STUNTING.


Pengarang

Diza Fathamira Hamzah - Personal Name;

Dosen Pembimbing

Sri Haryani - 197201151999032001 - Dosen Pembimbing I
Amalia Sutriana - 197208121998022001 - Dosen Pembimbing II
Satriana - 197210272000032005 - Dosen Pembimbing III



Nomor Pokok Mahasiswa

2209300070009

Fakultas & Prodi

Fakultas Pasca Sarjana / Doktor Matematika dan Aplikasi Sains (S3) / PDDIKTI : 44001

Subject
-
Kata Kunci
-
Penerbit

Banda Aceh : Fakultas Pasca Sarjana / Prodi Doktor Matematika dan Aplikasi Sains (S3).,

Bahasa

No Classification

-

Literature Searching Service

Hard copy atau foto copy dari buku ini dapat diberikan dengan syarat ketentuan berlaku, jika berminat, silahkan hubungi via telegram (Chat Services LSS)

Stunting merupakan salah satu kasus malnutrisi yang sampai saat ini masih menjadi masalah di Indonesia. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mempromosikan pencegahan stunting melalui konsumsi pangan hewani. Ikan merupakan pangan hewani yang dapat dijadikan sebagai sumber perbaikan gizi. Pengolahan ikan dengan memasak pada suhu tinggi menyebabkan terjadinya penurunan nilai gizi ikan. Ekstraksi ikan menjadi minyak ikan dapat mencegah kerusakan gizi ikan. Namun, untuk memperoleh minyak ikan yang berkualitas diperlukan proses ekstraksi dan pemurnian yang tepat. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengoptimasi proses ekstraksi minyak ikan dari ikan sidat (Anguilla bicolor) dan mengevaluasi potensinya sebagai kandidat pencegahan stunting yang diujicobakan pada tikus putih jantan (Rattus novergicus). Penelitian ini terdiri dari beberapa tahap antara lain: tahap determinasi ikan sidat, pengukuran kandungan nutrisi dan logam berat dari fillet ikan sidat segar, proses ekstraksi dan pemurnian minyak ikan sidat, serta tahap uji coba pada model tikus putih jantan yang dibuat menjadi stunting. Penelitian ini mengekstrak minyak dengan 2 (dua) metode yaitu metode refluks dan metode ekstraksi berbantuan ultrasonik (ultrasound assisted extraction) atau UAE, menggunakan pelarut nheksan. Data hasil ekstraksi dianalisis menggunakan response surface methodology (RSM) dengan rancangan central composite design menggunakan aplikasi Desain Expert 12. Variabel bebas penelitian ini yaitu rasio pelarut terhadap sampel dan waktu reaksi sedangkan rendemen minyak merupakan variabel respon. Selanjutnya hasil ekstraksi minyak, dimurnikan menggunakan tiga jenis adsorben antara lain bentonit, kaolin dan zeolit. Proses permurnian minyak diulang sebanyak tiga kali dan dianalisis menggunakan Analysis of Variance (ANOVA). Kualitas minyak ikan terbaik diperoleh dari ikan sidat hasil budidaya yang diekstrak dengan metode refluks dan dimurnikan dengan adsorben zeolit. Minyak ikan sidat telah memenuhi standar SNI dan IFOS dengan bilangan asam 0,25±0,02 mg KOH/g, bilangan peroksida 0,93±0,61 mEq/kg, bilangan penyabunan 187±3,23 mg KOH/g, bilangan iod 36,12±0,63 g I₂/100 g, dan asam lemak bebas 1,28±0,13%. Profil asam lemak terdiri dari: 31,54% asam lemak jenuh, 52,49% asam lemak tak jenuh tunggal, dan 15,97% asam lemak tak jenuh ganda, kandungan omega-3 sebesar 1,81% dan omega-6 sebesar 14,17%. Pemberian minyak ikan sidat secara signifikan dapat meningkatkan berat badan, panjang badan, kadar Hb, serta konsentrasi hormon IGF-1 (p0,05), namun ditemukan kadar ureum yang lebih tinggi pada kelompok kontrol negatif dibandingkan kelompok lainnya. Suplementasi minyak ikan sidat berpotensi sebagai intervensi pencegahan stunting yang diamati dari status pertumbuhan, kadar Hb, konsentrasi hormon IGF-1, serta perbaikan fungsi organ penting yaitu hati dan ginjal.
Kata Kunci : Anguilla bicolor, ikan sidat, minyak ikan, intervensi gizi, stunting.

Stunting is a form of malnutrition that remains a problem in Indonesia. The Indonesian Ministry of Health promotes stunting prevention through the consumption of animal-based foods. Fish is an animal-based food that can be used as a source of nutritional improvement. Processing fish by cooking at high temperatures causes a decrease in its nutritional value. Extracting fish into fish oil can prevent nutritional damage. However, obtaining quality fish oil requires proper extraction and purification processes. Therefore, this study aims to optimize the fish oil extraction process from eel (Anguilla bicolor) and evaluate its potential as a candidate for stunting prevention, tested on male white rats (Rattus novergicus). This study consisted of several stages, including: eel determination, measurement of nutrient and heavy metal content of fresh eel fillets, the eel oil extraction and purification process, and testing on a male white rat model made to be stunted. This study extracted oil using 2 (two) methods, namely the reflux method and the ultrasound-assisted extraction method (UAE), using n-hexane as a solvent. The extraction data were analyzed using the response surface methodology (RSM) with a central composite design using the Design Expert 12 application. The independent variables of this study were the solvent-to-sample ratio and reaction time, while the oil yield was the response variable. Furthermore, the oil extraction results were purified using three types of adsorbents, namely bentonite, kaolin, and zeolite. The oil purification process was repeated three times and analyzed using Analysis of Variance (ANOVA). The best quality fish oil was obtained from farmed eels extracted by the reflux method and purified with zeolite adsorbents. Eel fish oil has met SNI and IFOS standards with an acid value of 0.25±0.02 mg KOH/g, a peroxide value of 0.93±0.61 mEq/kg, a saponification value of 187±3.23 mg KOH/g, an iodine value of 36.12±0.63 g I₂/100 g, and free fatty acids of 1.28±0.13%. The fatty acid profile consists of: 31.54% saturated fatty acids, 52.49% monounsaturated fatty acids, and 15.97% polyunsaturated fatty acids, omega-3 content of 1.81% and omega-6 of 14.17%. Eel oil supplementation significantly increased body weight, length, hemoglobin levels, and IGF-1 concentrations (p0.05). However, higher urea levels were found in the negative control group compared to the other groups. Eel oil supplementation has the potential to be a stunting prevention intervention, as observed in growth status, hemoglobin levels, IGF-1 concentrations, and improved liver and kidney function. Keywords: Anguilla bicolor, eel, fish oil, nutritional intervention, stunting.

Citation



    SERVICES DESK