<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="1714587">
 <titleInfo>
  <title>KOMUNIKASI DOKTER–PASIEN DALAM KERANGKA GREET-INVITE-DISCUSS BERBASIS BUDAYA LOKAL DI KABUPATEN ACEH TAMIANG</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Rifti Imamdinanti</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Kedokteran</publisher>
   <dateIssued>2026</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Komunikasi dokter–pasien merupakan aspek penting dalam pelayanan kesehatan yang berpengaruh terhadap keberhasilan terapi dan kepuasan pasien. Efektivitas komunikasi dipengaruhi oleh konteks sosial dan budaya lokal, terutama di wilayah dengan keberagaman etnis seperti Kabupaten Aceh Tamiang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui praktik komunikasi dokter–pasien di Kabupaten Aceh Tamiang berdasarkan persepsi pasien, dokter, dan peneliti dalam konteks budaya lokal dengan menggunakan kerangka Greet–Invite–Discuss. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi melalui observasi partisipatif dan wawancara semi-terstruktur terhadap 12 pasien dan 6 dokter yang berpraktik di 5 klinik di Kabupaten Aceh Tamiang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tahap Greet, komunikasi awal cenderung berlangsung singkat, bahkan pada beberapa interaksi hampir tidak tampak secara jelas. Sapaan yang digunakan dokter umumnya bersifat formal, seperti “Ibu”, dan belum banyak menunjukkan penggunaan sapaan kekeluargaan berbasis budaya lokal. Pada tahap Invite, dokter cenderung dominan menggunakan pertanyaan tertutup untuk menggali keluhan pasien secara efisien, sehingga bagian ini menjadi komponen yang paling menonjol dalam alur komunikasi. Pada tahap Discuss, dokter umumnya memberikan penjelasan dengan bahasa sederhana, namun durasi diskusi pada sebagian besar interaksi masih relatif terbatas, meskipun pada beberapa kasus tertentu terdapat dokter yang memperpanjang diskusi dan menyesuaikan penjelasan maupun anjuran dengan konteks pasien. Secara keseluruhan, komunikasi dokter–pasien di Kabupaten Aceh Tamiang dapat dipahami melalui kerangka Greet–Invite–Discuss, dengan kecenderungan ketidakseimbangan pada pelaksanaannya, yaitu bagian Greet dan Discuss yang relatif singkat dibandingkan Invite, serta interaksi yang masih lebih formal daripada berbasis kedekatan budaya lokal.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>1714587</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2026-04-18 07:37:55</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2026-04-18 12:59:26</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>