<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="1711105">
 <titleInfo>
  <title>PENGEMBANGAN MODEL KONVERGENSI PROGRAM PENURUNAN STUNTING DI TINGKAT DESA DENGAN PENDEKATAN LEMBAGA ADAT DI KABUPATEN PIDIE</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Iskandar</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Kedokteran</publisher>
   <dateIssued>2026</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Dissertation</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Model Konvergensi Program Penurunan Stunting Di Tingkat Desa Dengan Pendekatan Lembaga Adat Di Kabupaten Pidie Indonesia&#13;
&#13;
Prevalensi stunting di Aceh terjadi penurunan dari 33,2% tahun 2021 menjadi 31,2% tahun 2022, namun masih tinggi dari target ditetapkan menjadi 14% pada tahun 2024. Untuk percepatan penurunan stunting dan pencapaian cakupan program pencegahannya secara optimal, konvergensi program dengan pendekatan lembaga adat salah satu model alternatif sebagai upaya percepatan penurunan stunting. Rancangan penelitian Sequential explanatory designs, kombinasi penelitian kuantitatif dan kualitatif secara berurutan, dilakukan di 3 kecamatan yang mempunyai desa sebagai fokus stunting dilaksanakan atas 3 tiga tahapan; pertama analisis pendahuluan Juni-Desember 2022, kedua implementasi model Januari-November 2023, dan ketiga pengukuran dampak tahun 2024.&#13;
Analisis pendahuluan faktor diterminan terjadi stunting di Pidie adalah kualitas sumber air minumyang rendah p;0,02, kebersihan peralatan masak yang rendah p;0,002, kebiasaan konsumsi ikan yang kurang p;0,03, kejadian diare p;0,002, riwayat ISPA P;0,001, tidak mengkonsumsi tablet Fe masa hamil p;0,002 panjang bandan lahir kurang dari 48 cm p;0,01, tidak mendapatkan imunisasi dasar secara lengkap p;0,003 dan tidak mendapatkan ASI eklusif p;0,01. Hasil evaluasi Program layanan penurunan dan pencegahan stunting telah dilaksanakan namun belum menjangkau kepada semua kelompok sasaran. Untuk tim pelaksaaan telah terbentuk namun sarana, prasana tidak memadai dan kinerjanya belum maksimal karena belum ada koordinasi yang baik sehingga tidak menjalankan peran dan fungsinya masing-masing. Selain itu sering terjadinya pergantian, penempatan personil yang tidak sesuai, perencanaan dan penganggaran belum tepat masih menjadi permasalahan yang dihadapi oleh pemerintah Pidie. Dalam menyusun perencanaan program intervensi dari OPD yang terkait dalam tim, belum sepenuhnya mengacu pada target indikator dalam perpres 72/2021 dan intervensi kegiatan program belum terlaksana secara terintegrasi antar lintar sektor, serta belum ada sinkronisasi rencana kegiatan dalam dokumen perencanaan daerah. Kapasitas tenaga pelaksana yang merupakan kunci keberhasilan implementasi konvergensi program belum mendapatkan peningkatan kapasitas dalam penanganan percepatan penurunan stunting sehingga berdampak terhadap rendahnya capaian cakupan program intervensi pada kelompok sasaran. Untuk nilai indek penanganan stunting juga baru mencapai angka 51,6, jika ditinjau indek dari setiap dimensi, maka dimensi pendampingan keluarga dan pangan capaiannya yang paling rendah (39,0 dan 18,0), sedangkan pada dimensi gizi lebih tinggi daripada yang lainnya (71,7) dan kesehatan sebesar 64,7. Untuk dimensi perlindungan sosial (63,7) dan perumahan layak (53,1) juga harus mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah setempat karena capaian nilai indeknya relatif belum maksimal. &#13;
Pemberdayaan peran lembaga adat sebagai model yang dikembangkan dengan konsep ADDIE dalam melaksanakan konvergensi program di tingkat desa meliputi: 1) tahapan analisis didapatkan faktor berkaitan dengan akses pangan bergizi, lingkungan sosial, akses terhadap pelayanan kesehatan, serta akses sanitasi layak  berpengaruh terhadap kejadian stunting. Upaya penyediaan layanan intervensi gizi spesifik dan gizi sensitif belum dapat menjangkau semua kelompok sasaran. 2) tahapan design yaitu penyusunan instrumen dalam bentuk buku petunjuk teknis pelaksanaan aksi konvergensi dengan pendekatan lembaga adat. 3) Development, Inserting program konvergensi stunting kedalam peran dan fungsi lembaga adat  percepatan penurunan stunting di tingkat desa, penilaian ahli dengan uji validitas setiap item yang diuji mempunyai nilai r &gt; 0,33 atau sudah dikatakan valid dan layak untuk digunakan dilapangan. 4) tahap Implementasi,  dilakukan dengan desain Cluster randomized controled trial, Implementasi intervensi dikombinasikan dengan pendampingan, pelatihan, dan pembekalan dengan petunjuk teknis pelaksanaan dan terdapat satu kelompok pembanding. 5) tahapan evaluasi yang mana pelaksanaan aksi konvergensi masih sangat tergantung pada tenaga pendamping karena masih merupakan hal yang baru. &#13;
Dampak dari implementasi, dari 14 indikator program yang dapan diperankan oleh lembaga adat, terdapat 9 indikator terjadi peningkatan pada cakupan layanan secara bermakna, diantaranya; program ASI ekslusif p;0,04, asuhan anak gizi kurang P;0,03, pemantauan tumbuh kembang p; 0,01, layanan air bersih p;0,01, tambahan gizi untuk anak gizi kurang p;0,03, pemahaman baik tentang stunting, p;0,01, pemanfaatan pekarangan untuk sumber gizi keluarga p;0,01, PMT pada ibu hamil p;0,02, dan konsumsi tablet tambah darah pada ibu hamil p;0,02. Sedang 5 indikator lainnya tidak terjadi peningkatan secara bermakna yaitu; imunisasi dasar p;0,10, MP-ASI anak usia 6-23 bulan p;0,64, sanitasi layak p;0,06, penerima bantuan iuran jaminan kesehatan p;0,05, dan Stop BABS p;0,09. Pada kelompok yang mendapatkan pelatihan dan kelompok kontrol tidak terjadi perubahan cakupan progam secara bermakna antara sebelum dengan setelah dilakukan intervensi. Demikian juga dengan prevalensi stunting, kelompok intervensi yang mendapat pendampingan terjadi penurunan prevalensi stunting dari 39% menjadi 23,9%, p;0,04, sedangkan pada kelompok tanpa pendampingan (p;0,32) dan kelompok kontrol (p;0,53) tidak terjadi penurunan secara signifikan.&#13;
Kesimpulan Pendampingan memberikan keberhasilan implementasi model yang lebih baik dibandingkan dengan yang tidak mendapatkan pendampingan. Lembaga adat mempunyai peranan penting untuk mendukung pencapaian cakupan program dan penurunan prevalensi stunting di level desa.&#13;
&#13;
Kata kunci: konvergensi, lembaga adat, cakupan program, stunting&#13;
</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <subject authority="">
  <topic>CHILDREN - HEALTH</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>MALNUTRITION - HUMANS - INCIDENCE</topic>
 </subject>
 <classification>614.593 9</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>1711105</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2026-01-28 10:56:32</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2026-01-28 15:17:57</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>