<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="1706839">
 <titleInfo>
  <title>POLA PENGGUNAAN ANTIMIKROBA DENGAN METODE POINT PREVALENCE SURVEY DI RSUD MEURAXA BANDA ACEH</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>NATHALINA YOVITA RUMONDANG SINAMBELA</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SYIAH KUALA</publisher>
   <dateIssued></dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Resistensi antimikroba merupakan masalah global pada saat ini. Penggunaan antimikroba yang tidak rasional berkontribusi terhadap meningkatnya resistensi antimikroba. Evaluasi kualitas penggunaan antimikroba diperlukan untuk mendukung Antimicrobial Stewardship Program (ASP). Penelitian ini bertujuan mengevaluasi penggunaan antimikroba secara kualitatif di RSUD Meuraxa Banda Aceh dengan Metode Point Prevalence Survey. Penelitian ini merupakan studi deskriptif dengan desain cross-sectional menggunakan formulir dari Global-PPS WHO. Data dikumpulkan dengan melihat rekam medik pasien yang menggunakan antimikroba di hari survei. Variabel yang diambil adalah diagnosis, jenis antibiotik, indikasi pemberian, jenis pengobatan, dan indikator kualitas seperti kepatuhan terhadap pedoman. Berdasarkan hasil survei, didapatkan 95 pasien menggunakan antibiotik (44%). Pemakaian antibiotik terbanyak berada pada bangsal campuran (42,1%). Diagnosis yang mendasari pemberian antibiotik sebagian besar tidak diketahui (23,2%). Dari 102 antibiotik, 79,4% merupakan terapi empiris dan 20,6% merupakan profilaksis. Golongan antibiotik yang paling banyak digunakan adalah sefalosporin generasi ke 3 (76,5%). Jenis antibiotik yang paling banyak digunakan adalah ceftriaxone (70,6%). Indikasi terbanyak penggunaan antibiotik adalah infeksi komunitas (53,9%). Profilaksis bedah yang paling banyak diberikan adalah profilaksis lebih dari satu hari (80%). Dari 95 pasien, tidak ada yang memiliki hasil kultur. Didapatkan antibiotik yang diresepkan sesuai pedoman lokal hanya sebanyak 36,3%. Kualitas penggunaan antibiotik perlu ditingkatkan, terutama pada aspek kepatuhan terhadap pedoman. Penggunaan antibiotik empiris masih tinggi karena pemeriksaan kultur jarang dilakukan.  &#13;
Kata kunci : Point Prevalence Survey, penggunaan antimikroba, evaluasi kualitatif, RSUD Meuraxa</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>1706839</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2025-12-17 08:12:35</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2025-12-17 09:17:17</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>