<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="166095">
 <titleInfo>
  <title>STUDI MODEL NUMERIK GELOMBANG TSUNAMI DENGAN SUMBER TSUNAMI DARI PELEPASAN MATERIAL SOLID</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Rani Safira</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher></publisher>
   <dateIssued>2025</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pembangkitan dan perambatan gelombang tsunami yang dipicu oleh pelepasan material solid berbentuk trapesium setengah siku-siku ke dalam perairan dengan sudut lereng berbeda. Fokus utama penelitian adalah mengevaluasi pengaruh variasi sudut kemiringan lereng terhadap karakteristik gelombang tsunami, seperti ketinggian gelombang, waktu tiba (Estimated Time of Arrival/ETA), dan kecepatan rambat gelombang. Metode numerik yang digunakan adalah Smoothed Particle Hydrodynamics (SPH) dengan perangkat lunak DualSPHysics_v5.2.2. Simulasi dilakukan pada domain 3D Teluk Palu  dengan dua skenario kemiringan lereng, yaitu 54° (curam) dan 42° (landai). Hasil simulasi menunjukkan sudut kemiringan lereng berpengaruh signifikan terhadap energi yang ditransfer ke kolom air. Lereng curam menghasilkan gelombang dengan amplitudo lebih besar, waktu tiba lebih cepat, dan kecepatan rambat lebih tinggi dibandingkan lereng landai. Pada kedua skenario, gelombang pertama yang terdeteksi sebagian besar sensor merupakan gelombang negatif akibat drawdown air oleh material. Waktu tiba gelombang tercatat paling cepat sekitar 0,3 detik pada sensor terdekat dan paling lambat sekitar 3 detik pada sensor terjauh setelah pelepasan material. Selain itu, kecepatan gelombang pada lereng curam dapat mencapai lebih dari 300 cm/s pada sensor terdekat, sedangkan pada lereng landai kecepatan rata-ratanya lebih rendah. Fenomena ini menunjukkan bahwa kemiringan lereng merupakan faktor penting dalam menentukan besarnya dampak tsunami yang ditimbulkan oleh longsoran. Temuan ini konsisten dengan hasil penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa energi kinetik material pada lereng curam lebih besar sehingga menghasilkan gelombang lebih tinggi. Hasil penelitian ini dapat menjadi referensi penting bagi penilaian risiko tsunami akibat longsoran, penyusunan peta bahaya, serta perencanaan mitigasi bencana di wilayah pesisir yang rawan, khususnya di Teluk Palu. Pemodelan berbasis SPH dengan DualSPHysics terbukti efektif untuk memvisualisasikan dinamika gelombang dan kuantifikasi parameter gelombang secara detail.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>166095</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2025-07-23 20:55:42</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2025-07-24 08:50:16</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>