<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="157755">
 <titleInfo>
  <title>BUDAYA RITUAL SARU SURO DI DESA RANTAU SELAMAT ( STUDI FENOMENOLOGI BUDAYA MASYARAKAT JAWA DAN ACEH DI KABUPATEN NAGAN RAYA)</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>RIZKI INDAH MELATI</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik-Universitas Syiah Kuala</publisher>
   <dateIssued>2025</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Penelitian ini mengkaji ritual budaya bulan Suro yang dilaksanakan oleh masyarakat Jawa di Desa Rantau Selamat, Kecamatan Tadu Raya, Kabupaten Nagan Raya, Provinsi Aceh. Tradisi ini merupakan bagian dari warisan budaya Jawa yang tetap dilestarikan oleh masyarakat transmigran yang telah menetap sejak era Orde Baru. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan proses pelaksanaan ritual budaya bulan Suro, membandingkan praktiknya dengan masyarakat Jawa di daerah asal, serta mengungkap makna dan alasan pelestarian budaya tersebut oleh masyarakat lokal. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi terhadap masyarakat pelaku tradisi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ritual Suroan di Desa Rantau Selamat terdiri atas beberapa tahap utama yaitu musyawarah persiapan, doa bersama, santunan anak yatim, dan makan bersama. Masyarakat memahami bulan Suro sebagai bulan yang sakral, penuh pantangan, dan memiliki kekuatan spiritual yang diyakini mampu menolak bala. Perbedaan mencolok antara pelaksanaan ritual di Jawa dan di Nagan Raya terletak pada akulturasi nilai lokal Aceh ke dalam tradisi Jawa, seperti adanya kolaborasi dengan masyarakat non-Jawa serta pemusatan acara di masjid sebagai simbol religiusitas. Budaya ini dihidupkan kembali setiap tahun melalui partisipasi kolektif masyarakat, penguatan nilai-nilai solidaritas, dan pelibatan generasi muda. Ritual bulan Suro dipahami secara kognitif sebagai simbol tolak bala, secara gagasan sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur, dan secara tindakan sebagai media untuk menjaga keharmonisan sosial dan keberkahan hidup masyarakat. Tradisi ini membuktikan ketahanan budaya dalam konteks sosial yang majemuk dan menegaskan pentingnya pemeliharaan kearifan lokal dalam masyarakat multikultural.&#13;
Kata Kunci : Ritual Suroan, Makna Tradisi Suroan, Komponen Ritual</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>157755</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2025-06-28 10:17:59</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2025-06-30 09:03:08</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>