<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="147647">
 <titleInfo>
  <title>AUTEKOLOGI DAN BIOPROSPEKTIF ASTERACEAE TERPILIH DI DATARAN  TINGGI GAYO SEBAGAI ANTIOKSIDAN, ANTIDIABETES DAN ANTIKANKER</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Vivera Ruselli Puspa</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Pasca Sarjana / Prodi Doktor Matematika dan Aplikasi Sains (S3)</publisher>
   <dateIssued>2025</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Dissertation</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Asteraceae merupakan salah satu kelompok tumbuhan berbunga paling menonjol pada kingdom Plantae. Dataran Tinggi Gayo merupakan kawasan potensial Asteraceae, hal ini dibuktikan dari keanekaragaman spesies yang dijumpai hampir di sepanjang jalan provinsi dan rumah penduduk. Asteraceae populer di Dataran Tinggi Gayo karena dimanfaatkan sebagai tanaman hias dan obat. Penelitian ini bertujuan mengungkap aspek autekologi Asteraceae Dataran Tinggi Gayo yaitu nilai penting dan analisis keanekaragaman spesies Asteraceae serta kajian bioprospektif Asteraceae yaitu potensinya sebagai tumbuhan hias dan tumbuhan obat. Tahapan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah melakukan analisis keanekaragaman spesies Asteraceae menggunakan metode kuadrat pada delapan Kecamatan di Kabupaten Bener Meriah. Kemudian dilakukan inventarisasi spesies Asteraceae yang dimanfaatkan masyarakat sebagai tanaman hias. Spesies Asteraceae liar dan budidaya dikaji lebih lanjut pemanfaatannya sebagai obat oleh masyarakat dengan memberikan kuesioner kepada responden. Berdasarkan hasil analisis keanekaragaman dan informasi pemanfaatan spesies Asteraceae sebagai obat oleh masyarakat maka diketahui spesies yang prospektif untuk dikaji lebih lanjut potensinya sebagai sumber kimia bahan alam yang dapat dimanfaatkan sebagai obat. Spesies Erigeron sumatrensis atau Jelantir merupakan spesies yang dianggap prospektif karena ketersediaanya yang melimpah serta masyarakat meyakini spesies ini memiliki khasiat dalam pengobatan diabetes melitus dan kanker. Bagian daun E. sumatrensis digunakan sebagai sampel penelitian, ekstraksi dilakukan  dengan metode maserasi dengan pelarut metanol yang menghasilkan ekstrak metanol-1 dan maserasi bertingkat yang menghasilkan ekstrak n-heksana, etil asetat dan metanol-2. Hasil analisis fitokimia ekstrak daun E. sumatrensis menunjukkan adanya kandungan senyawa metabolit sekunder berupa flavonoid, fenolik, terpenoid, steroid, tanin, dan alkaloid. Total komponen bioaktif tertinggi ditemukan pada ekstrak metanol-1 yaitu; TPC (11854,50 mgGAE/g), TFC (1056,15 mgQE/g) dan TTC (442,73 mgTAE/g). Total 18 senyawa tentatif diidentifikasi dari ekstrak metanol-1, 38 senyawa ekstrak n-heksana, 17 senyawa ekstrak etil asetat dan 21 senyawa ekstrak metanol-2. Aktivitas antioksidan tertinggi ditemukan pada ekstrak metanol-1 dengan menggunakan berbagai analisis yang menunjukkan hasil aktivitas sangat kuat. Metode analisis antioksidan meliputi; DPPH, FRAP dan ABTS berturut-turut yaitu IC50: 48,68 μg/mL; IC50: 35,61 μg/mL; IC50: 29,60 μg/mL. Dua senyawa teridentifikasi dari hasil GC-MS ekstrak metanol-1 memiliki binding affinity tertinggi terhadap enzim α-glucosidase dan Erα berturut-turut; Estra-1,3,5(10)-trien-17ß-ol (-6,6 kkal/mol; -9,4 kkal/mol) dan Caryophyllene oxide (-6,2 kkal/mol; -8,4 kkal/mol). Dua senyawa teridentifikasi dari hasil GC-MS ekstrak metanol-2 dan etil asetat memiliki binding affinity tertinggi sebesar -8,3 kkal/mol terhadap α-glucosidase (PBD ID: 2QMJ) meliputi; Cucurbitacin b, 25-desacetoxy-, dan β-Sitosterol. Diketahui senyawa potensial dengan binding affinity tertinggi terhadap protein ERα (PDB ID: 3ERT) ditemukan pada ekstrak etil asetat yaitu Spirost-8-en-11-one,3-hydroxy-,(3ß,5α,14ß,20ß,22ß,25R)- (-9,5 kkal/mol). Hasil uji in vitro ekstrak metanol-1, n-heksana, etil asetat, metanol-2  daun E. sumatrensis terhadap enzim α-glucosidase berturut-turut yaitu IC50: 4194,58 µg/mL; IC50: 12487,47 µg/mL; IC50: 3679,193 µg/mL; IC50: 4628,617 µg/mL termasuk dalam kategori sangat lemah dengan kontrol positif acarbose IC50: 0,143 µg/mL. Hasil uji in vitro uji sitotoksisitas metode MTT ekstrak metanol-1, n-heksana, etil asetat dan metanol-2  daun E. sumatrensis menggunakan sel MCF-7 berturut-turut yaitu IC50: 288,329 µg/mL; IC50: 310,010 µg/mL; IC50: 204,492 µg/mL; IC50: 413,379 µg/mL yang termasuk dalam kategori sitotoksik lemah. Analisis data menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan perbedaan pelarut terhadap persen inhibisi enzim α-glucosidase dan persen penghambatan proliferasi sel MCF-7.  &#13;
&#13;
</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>147647</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2025-01-16 04:54:21</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2025-01-16 11:36:51</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>