<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="139399">
 <titleInfo>
  <title>PENGARUH  KONSENTRASI  KHAMIR  (SACHAROMYCES CEREVISEAE)   DAN  WAKTU FERMENTASI TERHADAP MUTU  TEPUNG TELUR  UTUH.</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>M. Adli</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Pertanian</publisher>
   <dateIssued>2010</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Telur  adalah   salah   satu  bahan  makanan  bergizi   tinggi   yang  dapat dikonsumsi  oleh  semua  tingkatan   usia  dari  bayi  sampai  dewasa,  baik   sehat maupun  sakit.  Dari  segi  gizinya,  telur  mcrupakan sumber protein,  kalori  dan mineral.  Pengawetan telur tanpa kulit dilakukan dengan  dua metoda yaitu  metode pembekuan dan pengeringan.  Metode pembekuan ini  dilakukan  dengan pembekuan cepat (blast freezing)  pada suhu -40C dan biasanya  menggunakan kaleng  agar  kandungan air  bahan  tidak  berkurang.  Adapun  pengawetan telur dengan metode pengeringan bertujuan untuk mendapatkan telur dengan kadar air yang sangat rendah. Jika metode pengeringan ini dilanjutkan dengan metode penepungan akan  menghasilkan   produk tepung telur. Tepung telur  selain  lebih awet, memiliki  volume bahan jauh  lebih  kecil  sehingga menghemat  ruang penyimpanan   dan   biaya   pengangkutan.   Tepung   telur  juga   memungkinkan jangkauan pemasaran yang lebih luas dan penggunaannya lebih beragam dibandingkan dengan telur  segar.  Tepung telur  ada tiga jenis yaitu tepung  putih telur,  tepung  kuning  telur,  dan  tepung  telur  utuh.  Wama  tepung  telur  dapat berubah menjadi  kecoklatan selama pengolahan dan penyimpanan jika kandungan gula pereduksi  (yang sebagian  besar adalah  glukosa) dalam  telur  lebih  dari  0, 1 persen.  Keadaan ini  dapat diatasi  dengan cara  mengurangi  kandungan glukosa dalam cairan telur sebelum dikeringkan atau dibuat tepung dengan cara fermentasi menggunakan bakteri  asam laktat  (Streptococcus  laktis),   fermentasi  khamir  atau ragi  (Saccharomyces  cerevisiae)   menggunakan yeast  atau dengan  penambahan enzim glukosa oksidase.&#13;
Penelitian    ini    dilakukan   secara   ekperimental    dengan   menggunakan&#13;
&#13;
Rancangan Acak Kelompok (RAK)  Pola Faktorial. Faktor pertama adalah konsentrasi  khamir (K),  yaitu  0,07% (K1).  0,15%  (K2)  dan 0,20% (K3).  Faktor&#13;
kedua adalah  Waktu Fermentasi  (W), yaitu  2 jam  (W1),  3  jam  (W2) dan 4 jam (W3). Kombinasi dari perlakuan adalah  3 x 3 dengan menggunakan 3  kali ulangan sehingga terdapat  27  satuan  percobaan.  Adapun  parameter yang akan  diamati yaitu   :        rendemen,   kadar  air,   kadar   protein   kasar,   kadar  lemak   kasar,   uji Salmonella,  kadar gula pereduksi  dan uji  organoleptik  (hedonik) berupa warna dan aroma.&#13;
Hasil   analisis   sidik   ragam  menunjukkan  bahwa  perlakuan  konsentrasi khamir  berpengaruh  sangat  nyata  (P 0,05)  terhadap nilai   organoleptik  wana  tepung  telur  yang  dihasilkan.   Waktu  fermentasi   (W)&#13;
berpengaruh sangat nyata (P &lt; 0,01)  terhadap kadar air,  serta berpengaruh  nyata&#13;
(P &lt; 0.05) terhadap  kadar lemak,  rendemen, dan berpengaruh tidak  nyata (P &gt;&#13;
&#13;
0,05) terhadap  kadar protein, nilai  organoleptik  warna, nilai  organoleptik aroma dan kadar gula pereduksi tepung telur yang dihasilkan.&#13;
Tepung   telur   dengan  kualitas  terbaik   berdasarkan     metode  rangking diperoleh  dari  perlakuan  perlakuan  konsentrasi  ragi  0,20%  (K3) dengan waktu fermentasi  2 jam  (W1)  dengan  karakteristik  sebagai  berikut:  kadar air 3,93%, kadar lemak  37.27%,  kadar protein 55,0 1%,  rendemen 25,43%,  nilai  organoleptik wama  3,40  (netral),   nilai   organoleptik   aroma  3,49  (netral)  dan  kadar  gula pereduksi  1,35%.&#13;
&#13;
</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <subject authority="">
  <topic>FERMENTATION - FOOD TECHNOLOGY</topic>
 </subject>
 <classification>664.024</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>139399</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2024-10-24 17:17:40</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2024-10-25 09:28:30</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>