<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="129106">
 <titleInfo>
  <title>PENGARUH DOSIS PUPUK P TERHADAP PERTUMBUHAN VEGETATIF BEBERAPA AKSESI TANAMAN KELOR (MORINGA OLEIFERA LAM.)</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>ABDUL LATIF</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Pertanian	Agroteknologi (S1)</publisher>
   <dateIssued>2024</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Kelor merupakan tanaman yang mudah tumbuh di wilayah tropis dan subtropis. Kelor sudah mulai dikembangkan dari wilayah Timur sampai Barat Indonesia. Tanaman kaya akan manfaat pada setiap bagiannya yang dapat dijadikan sebagai masker organik, pupuk organik, dan sebagai obat untuk berbagai penyakit. Aksesi tanaman kelor menandakan bahwa tanaman telah adaptif dengan lingkungan dan iklim sekitar. Faktor curah hujan, topografi, dan jenis tanah menjadi penyebab utama dari keragaman karakter dan morfologi antara aksesi tanaman kelor. Pemberian pupuk P dengan dosis yang sesuai mampu merangsang ikatan-ikatan P dengan Al, Ca, dan Mg sehingga menjadikan P tersedia dalam tanah bagi tanaman. &#13;
	Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dosis pupuk P dan aksesi serta interaksi diantara kedua perlakuan terhadap pertumbuhan vegetatif tanaman kelor. Penelitian ini dilaksanakan di Lahan Percobaan dan Laboratorium Ilmu dan Teknologi Benih, Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh dari bulan Maret sampai dengan Juni 2024. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok pola faktorial split plot 3 x 4 dengan dua faktor yang diteliti yaitu beberapa aksesi tanaman kelor dan dosis pupuk P. Faktor pertama terdiri atas tiga taraf yaitu aksesi kelor A (berasal dari wilayah pesisir), aksesi kelor B (berasal dari wilayah sungai), aksesi kelor C (berasal dari wilayah lembah gunung). Sedangkan faktor kedua adalah dosis pupuk P yang terdiri atas empat taraf yaitu 0 g tanaman-1 (0 kg ha-1), 3 g tanaman-1 (48 kg ha-1), 4,5 g tanaman-1 (72 kg ha-1), dan 6 g tanaman-1 (96 kg ha-1). Parameter pengamatan terdiri dari kuantitatif dan kualitatif tanaman induk. Parameter kuantitatif terdiri dari tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, panjang akar primer, volume akar, bobot basah dan bobot kering daun 7 MSPT, bobot basah dan bobot kering tajuk 12 MSPT, serta bobot basah dan bobot kering akar 12 MSPT. Sedangkan parameter kualitatif diamati berdasarkan tanaman induk yang meliputi bentuk pohon, bentuk permukaan batang, warna permukaan batang, warna tangkai daun, warna daun, dan tangkai daun tanaman kelor tiap aksesi. &#13;
	Hasil penelitian menunjukkan bahwa aksesi tanaman kelor berpengaruh tidak nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, panjang akar, volume akar, bobot basah dan bobot kering daun 7 MSPT, bobot basah dan bobot kering tajuk 12 MSPT, serta bobot basah dan bobot kering akar 12 MSPT. Aksesi memberikan hasil cenderung lebih baik didapati pada aksesi kelor B. Dosis pupuk P berpengaruh sangat nyata terhadap volume akar, bobot kering tajuk dan bobot kering akar 12 MSPT serta berpengaruh nyata terhadap bobot basah tajuk dan bobot basah akar 12 MSPT. Dosis pupuk P 4,5 g tanaman-1 adalah yang terbaik terhadap pertumbuhan vegetatif tanaman kelor. Terdapat interaksi yang nyata antara beberapa aksesi dan dosis pupuk P terhadap diameter batang 8 MSPT dan bobot basah daun 7 MSPT. Interaksi perlakuan terbaik terhadap diameter batang dijumpai pada aksesi kelor B dengan dosis pupuk P 6 g tanaman-1. Interaksi perlakuan terbaik terhadap bobot basah daun dijumpai pada aksesi kelor B dengan dosis pupuk P 0 g tanaman-1.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>129106</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2024-08-29 21:22:57</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2024-08-30 16:50:18</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>