<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="105534">
 <titleInfo>
  <title>TINDAKAN PANGLIMA LAOT DALAM PANTANG-LARANGRNMEULAOT DI LHOKNGA</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>ABADIAN SYAKUR</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas  Ilmu Sosial dan Ilmu Politik</publisher>
   <dateIssued>2022</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code"></languageTerm>
  <languageTerm type="text"></languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Skripsi</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Dalam penelitian ini peneliti mendeskripsikan bagaimana tindakan panglima laot&#13;
dalam pantang-larang melaot di Lhoknga sesuai dengan aturan atau undang-undang&#13;
yang belaku, Penelitian ini bertujuan untuk Untuk menggali lebih dalam informasi&#13;
tentang tindakan panglima laot dalam pantang-larang melaot di Lhoknga sesuai&#13;
dengan aturan atau undang-undang yang belaku, dan juga memberikan edukasi&#13;
terkait pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh para nelayan. Penelitian ini&#13;
dilakukan dengan metode kualitatif dan pendekatan studi kasus. Pengumpulan data&#13;
dilakukan dengan cara observasi, dokumentasi dan wawancara kepada informan&#13;
yang dipilih dengan metode purposive sampling. Kemudian penelitian ini&#13;
menggunakan teori Teori tindakan sosial Max Weber sebagai acuan dalam&#13;
melaksanakan penelitian ini karena sangat relevan dengan topik ini. Hasil penelitian&#13;
ini menunjukan bahwa tindakan pantang-larang dan kontribusi panglima laot “Lhok&#13;
Krueng Raba” di Lhoknga dinilai harus terus ditingkatkan lagi dalam menerapkan&#13;
berbagai permasalahan yang terjadi saat ini di laut, baik yang datang dari luar maupun&#13;
dari lokal, apalagi sekarang sudah ada qanun yang menaungi itu semua, Keberadaan&#13;
Panglima Laot diakui dengan Undang-Undang Nomor 44 tahun 1999 dan Undang-&#13;
Undang Nomor 18 tahun 2001. Dalam Pasal 7 Undang-Undang Nomor 44 tahun&#13;
1999 disebutkan bahwa “Daerah dapat membentuk lembaga adat dan mengakui&#13;
lembaga adat yang sudah ada sesuai dengan kedudukannya masing-masing di&#13;
Provinsi, Kabupaten/Kota, Kecamatan, Kemukiman, dan Kelurahan/Desa atau&#13;
Gampong. Panglima Laot sebagai orang yang memimpin adat, adat-istiadat, dan&#13;
kebiasaan-kebiasaan yang berlaku di bidang penangkapan ikan dan menyelesaikan&#13;
sengketa, memimpin adat kenduri laot dan tentunya bertanggung jawab atas&#13;
kesejahteraan para nelayan, sejauh ini apa yang dilakukan harus mendapatkan&#13;
apresiasi dan harus terus ditingkatkan lagi, karena secara keseluruhan masih banyak&#13;
yang harus ditingkatkan dalam hal penerapan aturan dan para pelanggaran belum&#13;
sepenuhnya merata.&#13;
Kata Kunci : Tindakan, Panglima Laot, Pantang-Larang</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <classification>0</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>105534</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2022-09-26 09:26:47</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2022-09-26 10:19:37</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>