<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="104121">
 <titleInfo>
  <title>MODEL PERAWATAN LUKA INSISI DENGAN MENGGUNAKAN DAUN CAPA (BLUMEA BALSAMIFERA L.) SEBAGAI SUMBER SENYAWA AKTIF SEDIAAN GEL</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Masyudi</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Program Studi Doktor Matematika Dan Aplikasi Sains Universitas Syiah Kuala</publisher>
   <dateIssued>2022</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Dissertation</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Daun capa (Blumea balsamifera L.) merupakan tanaman obat herbal tradisional yang telah digunakan di seluruh dunia termasuk di Aceh Selatan, Indonesia. Secara empiris daun capa telah digunakan sebagai obat untuk menyembuhkan gatal dan menghentikan perdarahan pada luka. pada penelitian sebelumnya daun capa yang diambil dari dari China, Bangladesh dan beberapa wilayah lain di Indonesia telah teruji mengandung anti bakteri dan anti inflamasi. Pada penelitian ini peneliti menggunakan sampel daun capa dari Aceh Selatan kemudian mengkaji kandungan senyawa didalamnya dan memformulasikan senyawa aktif daun capa tersebut  kedalam bentuk sediaan farmasi gel. Untuk mengetahui efektifitas gel daun capa ini peneliti mengaplikasikan gel tersebut pada pada luka insisi tikus putih yang dirawat selama 14 hari. Sedian gel dipilih karena memiliki beberapa keuntungan yang sesuai dengan prinsip perawatan luka dengan mempertahankan keseimbangan kelembapan luka. keunggulan gel antara lain mampu menghantarkan obat dengan baik, mudah merata bila dioleskan pada kulit, memberikan sensasi dingin, tidak menimbulkan bekas dikulit, mempertahankan kelembapan luka dan praktis digunakan.  &#13;
Sampel daun capa dikumpulkan dari desa Gunongpulo, Aceh Selatan-Indonesia. Proses ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi sehingga menghasilkan ekstrak daun capa dan kemudian di formulasikan kedalam basis gel dengan bahan Carbopol 940, Metil paraben, TEA dan Propilen Glikol. Gel diaplikasikan selama 7 dan 14 hari pada luka insisi tikus putih, kesembuhan luka dievaluasi dengan menganalisis penurunan panjang luka, gambaran histologi jaringan kulit dan kadar Sitokin Interleukin 2 (IL-2). Percobaan menggunakan 30 ekor tikus putih yang dibagi kedalam 5 kelompok terdiri dari K0 (basis gel), K1 (gel daun capa 2,5%), K2 (gel daun capa 5%, K3 (gel daun capa 10%) dan K4 (Kontrol positif: gencamicin). &#13;
Hasil: Hasil analisis Anova menunjukkan nilai p = 0,022 pada rata rata penurunan panjang luka 7 hari dan 0,019  pada 14 hari yang berarti (p &lt; 0,05), terdapat perbedaan yang nyata dari perilaku antar kelompok. Begitu juga pada analisis histologi dan kadar sitokin IL-2. Kelompok perlakuan K3 : Gel ekstrak Daun Capa Konsentrasi 10% paling efektif menyembuhkan luka disusul kemudian K2 : Gel ekstrak daun Capa Konsentrasi 5% dan Kontrol positif gentamicin 1%. Rata rata penurunan panjang luka paling tinggi di K3 yaitu 14 mm pada hari ke 7 dan 29 mm pada hari ke 14. Analisis histologi menunjukkan pertumbuhan sel fibroblas dan angiogenesis paling tinggi di kelompok K3 dan mampu melampaui kelompok kontrol positif. Kadar Sitokin IL-2 paling tinggi berada pada K3 dengan nilai rata rata 107,7767 ng/l di hari ke 7 dan 119,1900 ng/l pada hari ke 14.&#13;
Kesimpulan : Daun capa yang berasal dari Aceh mengandung senyawa aktif yang memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi bahan baku obat luka terutama dengan dipadukan kedalam bentuk gel. Disarankan kepada peneliti selanjutnya untuk mencoba gel daun capa pada jenis luka lain dan melanjutkan tahapan penelitian uji klinis dengan relawan manusia. Masyarakat dapat membudidayakan tanaman capa karena memiliki manfaat dan berpotensi menambah pendapatan.&#13;
&#13;
Kata kunci : Daun Capa (Blumea Balsamifera L.), Gel, Penyembuhan Luka</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <subject authority="">
  <topic>MEDICINAL PLANTS</topic>
 </subject>
 <subject authority="">
  <topic>WOUNDS - MEDICINE</topic>
 </subject>
 <classification>615.321</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>104121</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2022-09-13 15:51:32</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2023-03-27 12:04:24</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>