<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" ?>
<modsCollection xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:slims="http://slims.web.id" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd">
<mods version="3.3" id="103928">
 <titleInfo>
  <title>PENGEMBANGAN MODEL PENGELOLAAN DAERAH SUNGAI SECARA TERINTEGRASI DENGAN METODE EKOHIDRAULIK DI SUNGAI LAE KOMBIH KOTA SUBULUSSALAM PROVINSI ACEH</title>
 </titleInfo>
 <name type="Personal Name" authority="">
  <namePart>Ziana</namePart>
  <role>
   <roleTerm type="text">Primary Author</roleTerm>
  </role>
 </name>
 <typeOfResource manuscript="no" collection="yes">mixed material</typeOfResource>
 <genre authority="marcgt">bibliography</genre>
 <originInfo>
  <place>
   <placeTerm type="text">Banda Aceh</placeTerm>
   <publisher>Fakultas Teknik</publisher>
   <dateIssued>2022</dateIssued>
  </place>
 </originInfo>
 <language>
  <languageTerm type="code">id</languageTerm>
  <languageTerm type="text">Indonesia</languageTerm>
 </language>
 <physicalDescription>
  <form authority="gmd">Dissertation</form>
  <extent></extent>
 </physicalDescription>
 <note>Sungai Lae Kombih merupakan salah satu anak sungai di DAS Alas-Singkil, dan debit limpasan Sungai Lae Kombih memberikan dampak yang besar terhadap Sungai Lae Soraya di bagian hilir. Pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa kondisi di hulu sungai curam dan di hilir sungai menyempit dan berkelok-kelok, serta tidak ada tanggul. Sungai Lae Kombih memiliki curah hujan yang tinggi yang berpengaruh terhadap erosi dan sedimentasi. Perubahan tata guna lahan yang dulunya hutan telah berubah menjadi lahan persawahan, perkebunan serta pemukiman penduduk. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model pengelolaan daerah sungai secara terintegrasi dan mengkaji penerapan model pengelolaan daerah sungai dengan metode eko-hidraulik di Sungai Lae Kombih Kota Subulussalam. Pengambilan data di lapangan dilakukan dari bulan Juni 2020 – Oktober 2020 dan pengukuran penampang sungai dilakukan pada lima jembatan di sepanjang Sungai Lae Kombih. Model pengelolaan daerah sungai dibagi ke dalam 8 sub model yaitu sub model hidrologi, sub model hidraulika, sub model analisis spatial, sub model erosi dan sedimentasi, sub model tata guna lahan, sub model beban banjir, sub model partisipasi masyarakat dan sosial ekonomi, dan sub model eko-hidraulik. Sub model hidrologi untuk menghitung debit banjir berbagai periode ulang dengan parameter intensitas hujan, hujan efektif dan debit banjir. Sub model hidraulika dibuat untuk memperoleh karakteristik hidraulika sungai yaitu kekasaran saluran, kapasitas maksimum sungai (Q) dan tinggi muka air banjir (h). Sub model analisis spatial menggunakan data DEMNAS dan pemetaan daerah banjir genangan menggunakan software ArcGIS dengan mengumpulkan, mengintegrasikan dan menganalisa data dan informasi-informasi yang didapat yang ditampilkan dalam bentuk peta. Analisa titik banjir periode ulang menggunakan HEC-RAS versi 5.0.7. Data yang diperlukan untuk analisis ini ialah penampang melintang sungai, jarak antar penampang, angka kekasaran Manning’s, debit banjir periode ulang dan kemiringan memanjang sungai (slope). Integrasi antara peta topografi, DAS  dengan tinggi muka air banjir dapat menampilkan daerah yang berpotensi terkena dampak banjir genangan, sehingga dapat dihitung batas genangan banjir dan luas genangan banjir. Sub model erosi dan sedimentasi terdiri dari sub model erosi dibuat untuk menghitung erosi lahan dengan metode USLE dan erosi tebing sungai dari pengukuran lapangan. Sub model sedimentasi dibuat untuk memperoleh karakteristik sedimen dan volume sedimen dalam bentuk sedimen melayang (suspended load) dan sedimen dasar (bed load). Sub model tata guna lahan bertujuan untuk menentukan wilayah yang memiliki potensi sempadan untuk dilakukan pengelolaan sungai secara ekohidrolik. Sub model beban banjir bertujuan untuk menilai seberapa besar ancaman banjir pada setiap selisih tinggi tanggul dengan muka air banjir. Sub model partisipasi masyarakat dan sosial ekonomi yaitu kajian tingkat partisipasi masyarakat dengan menggunakan metode skala penilaian komparatif yaitu membagi atas tiga kategori tingkat partisipasi yaitu tinggi, sedang dan rendah. Masyarakat yang menjadi responden adalah pemilik lahan dan pengelola lahan. Sub model eko-hidraulik terbagi atas dua tahapan yaitu menghitung analisa eko-hidraulik pada lebar sempadan eksisting dan pada lebar sempadan desain 100 m dan perhitungan tinggi genangan dan kecepatan aliran. Hasil penerapan model pengelolaan daerah sungai secara terintegrasi dengan metode eko-hidraulik didapat lebar sempadan desain 100 m kondisi sebelum dilakukan penataan sempadan tinggi genangan 0,3 – 1,13 m dan setelah dilakukan penataan sempadan  debit dapat direduksi menjadi 113,09 – 209 m3/s dan tinggi genangan menjadi 0 – 0,31 m. Berdasarkan hasil penelitian didapat bahwa penataan sempadan sungai dapat memberi manfaat pada tindakan pengendalian banjir, penataan ini merupakan dasar dalam penetapan garis sempadan sungai. Hasil penerapan model kajian pengelolaan sungai dengan metode eko-hidraulik memberikan gambaran pada umumnya semua masyarakat bersedia untuk berpartisipasi dalam pengelolaan sungai sepanjang ada manfaat yang mereka rasakan. Responden yang bersedia untuk terlibat dalam pengelolaan sempadan sungai sebanyak 20 orang (100 %), dimana pengelolaan sempadan sungai dapat melindungi aset lahan dari erosi tebing serta peningkatan kualitas panen. Hasil analisis pengaruh sosial ekonomi masyarakat terhadap partisipasinya diperoleh bahwa kerugian masyarakat akibat pengelolaan sungai dan pengetahuan metode eko-hidraulik menunjukkan pengaruh yang terbesar dibandingkan dengan faktor lain. Pengalaman dalam mengelola lahan dapat dilihat bahwa responden sudah lebih 20 tahun berpengalaman dalam mengelola sempadan sungai. Pengalaman tersebut membuat responden memahami untung ruginya jika sungai tidak dikelola secara berkelanjutan. Responden yang mengelola lahan di sempadan sungai  dalam  bentuk  kebun ada15 orang (70%).  Jika dikaitkan data pada pengelolaan lahan di sempadan sungai, maka nampak bahwa di sisi kiri sungai  terdapat  70 %  lahan kebun dan di sisi kanan terdapat 30% lahan sawah.  Jika dilihat dari kemungkinan penerapan metode eko-hidraulik berdasarkan nilai tataguna lahan, maka kebun memiliki peringkat pertama setelah tanah kosong dan sawah, dengan demikian responden mudah untuk berpartisipasi dalam pengelolaan sungai akibat tingginya nilai lahan yang dimiliki. Pemahaman masyarakat akan manfaat eko-hidraulik sangat mempengaruhi kesediaannya turut serta dalam program pengelolaan sungai. Laju beban dasar dari hulu dan tengah sungai mengalami penurunan, namun, laju bedload yang terjadi di hilir sungai semakin meningkat. Hal ini terjadi karena dipengaruhi oleh kedalaman sungai, diameter sedimen, dan konsentrasi sedimen. Banjir genangan tahun 2019 memiliki luas genangan yang sama dengan banjir Q5 = 404,53 m3/s, seluas 2.286,02 ha dengan tinggi genangan 0,45 m. Sawah merupakan daerah yang paling signifikan terkena dampak banjir di semua debit banjir periode ulang. Model pengelolaan daerah sungai dengan metode eko-hidraulik ini dapat diterapkan di anak-anak sungai, yang spesifiknya di daerah pegunungan.</note>
 <note type="statement of responsibility"></note>
 <subject authority="">
  <topic>RIVERS - HYDRAULIC ENGINEERING</topic>
 </subject>
 <classification>627.12</classification>
 <identifier type="isbn"></identifier>
 <location>
  <physicalLocation>ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION Universitas Syiah Kuala</physicalLocation>
  <shelfLocator></shelfLocator>
 </location>
 <slims:digitals/>
</mods>
<recordInfo>
 <recordIdentifier>103928</recordIdentifier>
 <recordCreationDate encoding="w3cdtf">2022-09-09 21:58:04</recordCreationDate>
 <recordChangeDate encoding="w3cdtf">2023-03-30 09:32:36</recordChangeDate>
 <recordOrigin>machine generated</recordOrigin>
</recordInfo>
</modsCollection>