Universitas Syiah Kuala | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI
ZAKIA BALQIS, PERBEDAAN STRATEGI MANAJEMEN RISIKO USAHATANI BAWANG MERAH DI ACEH: BERDASARKAN KARAKTERISTIK WILAYAH RNDAN KARAKTERISTIK PETANI. Banda Aceh Fakultas Pertanian,2026

Usahatani bawang merah merupakan salah satu komoditas hortikultura unggulan yang memiliki peran strategis dalam mendukung perekonomian petani serta pemenuhan kebutuhan pangan nasional. meskipun demikian, kegiatan usahatani bawang merah dihadapkan pada berbagai bentuk risiko, baik risiko produksi, risiko harga, maupun risiko kelembagaan, yang dapat memengaruhi tingkat pendapatan dan keberlanjutan usaha tani. risiko produksi seperti perubahan iklim, ketidakpastian curah hujan, serta serangan hama dan penyakit sering kali menjadi kendala utama, sementara fluktuasi harga dan keterbatasan akses pasar menyebabkan ketidakpastian pendapatan petani. selain itu, perbedaan kondisi agroekologi antara wilayah dataran tinggi dan dataran rendah turut memengaruhi pola budidaya serta strategi pengelolaan risiko yang diterapkan oleh petani bawang merah. oleh karena itu, diperlukan upaya manajemen risiko yang tepat dan sesuai dengan karakteristik wilayah guna meminimalkan dampak kerugian yang mungkin terjadi. berdasarkan kondisi tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan strategi manajemen risiko usahatani bawang merah serta membandingkan perbedaannya antara wilayah dataran tinggi kabupaten bener meriah dan dataran rendah kabupaten pidie, provinsi aceh. penelitian ini juga mengkaji pengaruh karakteristik demografis petani terhadap penerapan strategi manajemen risiko. metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan deskriptif dan komparatif dengan teknik purposive sampling terhadap 50 petani bawang merah, yang masing-masing terdiri dari 25 petani di kabupaten bener meriah dan 25 petani di kabupaten pidie. data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif dan menggunakan uji chi-square untuk mengetahui perbedaan penerapan strategi manajemen risiko antara kedua wilayah penelitian. hasil penelitian menunjukkan bahwa petani bawang merah cenderung lebih banyak menerapkan strategi manajemen risiko pada aspek produksi, seperti penggunaan teknologi pengairan dan rotasi tanaman, dibandingkan dengan strategi pada aspek pascapanen, pengolahan hasil, kelembagaan, serta pemasaran, yang penerapannya masih tergolong rendah. hasil uji chi-square mengindikasikan adanya perbedaan yang signifikan pada penerapan teknologi pengairan antara petani di dataran tinggi dan dataran rendah, sedangkan pada strategi manajemen risiko lainnya tidak ditemukan perbedaan yang signifikan. temuan ini menunjukkan bahwa perbedaan kondisi agroekologi berpengaruh terhadap penerapan strategi tertentu, namun keterbatasan modal, akses teknologi, dan dukungan kelembagaan masih menjadi kendala utama dalam penerapan manajemen risiko secara komprehensif. penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi petani dan pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan dan program yang mendukung peningkatan efektivitas manajemen risiko usahatani bawang merah secara berkelanjutan di provinsi aceh.



Abstract

Shallot farming is one of the superior horticultural commodities that has a strategic role in supporting the farmer's economy as well as the fulfillment of national food needs. However, shallot farming activities are faced with various forms of risk, both production risk, price risk, and institutional risk, which can affect the level of income and sustainability of the farming business. Production risks such as climate change, rainfall uncertainty, and pest and disease attacks are often the main obstacles, while price fluctuations and limited market access cause farmers' income uncertainty. In addition, the difference in agroecological conditions between highland and lowland areas also affects cultivation patterns and risk management strategies applied by shallot farmers. Therefore, appropriate risk management efforts are needed and in accordance with regional characteristics to minimize the impact of possible losses. Based on these conditions, this study aims to analyze the implementation of risk management strategies for shallot farming and compare the differences between the highland areas of Bener Meriah Regency and the lowlands of Pidie Regency, Aceh Province. This study also examines the influence of the demographic characteristics of farmers on the implementation of risk management strategies. The research method used is a descriptive and comparative approach with a purposive sampling technique for 50 shallot farmers, each consisting of 25 farmers in Bener Meriah Regency and 25 farmers in Pidie Regency. The data obtained was analyzed descriptively and used the Chi-Square test to find out the differences in the implementation of risk management strategies between the two research areas. The results of the study show that shallot farmers tend to apply more risk management strategies on the production aspect, such as the use of irrigation technology and crop rotation, compared to strategies in the post-harvest, yield processing, institutional, and marketing aspects, which are still relatively low. The results of the Chi-Square test indicate that there is a significant difference in the application of irrigation technology between farmers in the highlands and lowlands, while in other risk management strategies no significant differences were found. These findings show that differences in agroecological conditions affect the implementation of certain strategies, but capital limitations, access to technology, and institutional support are still the main obstacles in the implementation of comprehensive risk management. This research is expected to contribute to farmers and local governments in formulating policies and programs that support the improvement of risk management effectiveness of sustainable shallot farming in Aceh Province.



    SERVICES DESK