Universitas Syiah Kuala | ELECTRONIC THESES AND DISSERTATION

Electronic Theses and Dissertation

Universitas Syiah Kuala

    SKRIPSI
Fitria Sukma, KEEFEKTIFAN EKOENZIM DALAM MENEKAN PERTUMBUHAN CENDAWAN FUSARIUM SP. PADA TANAMAN BAWANG MERAH (ALIUM CEPA) SECARA IN VIVO. Banda Aceh Fakultas Pertanian,2026

Bawang merah merupakan komoditas hortikultura bernilai ekonomi tinggi di indonesia, namun produksinya di aceh mengalami penurunan pada tahun 2024 yang salah satunya diduga disebabkan oleh serangan cendawan fusarium sp. sebagai penyebab penyakit moler, yang dapat menimbulkan kerugian hingga 50–80%. pengendalian yang umum dilakukan menggunakan fungisida kimia sintetik berpotensi menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan, sehingga diperlukan alternatif pengendalian yang lebih ramah lingkungan. ekoenzim merupakan hasil fermentasi bahan organik yang mengandung senyawa bioaktif yang telah dilaporkan mampu menekan pertumbuhan cendawan patogen. penelitian ini bertujuan untuk menguji keefektifan ekoenzim berbahan dasar kulit nanas, pepaya, jeruk, mentimun, dan semangka dalam menekan pertumbuhan fusarium sp. pada tanaman bawang merah secara in vivo. percobaan disusun menggunakan rancangan acak lengkap (ral) dengan empat perlakuan konsentrasi ekoenzim (0%, 0,2%, 0,6%, dan 1%) dan lima ulangan. aplikasi ekoenzim dilakukan melalui perendaman umbi sebelum tanam dan aplikasi lanjutan sebanyak enam kali dengan interval satu minggu, sebanyak 20 ml pertanaman setelah inokulasi fusarium sp. parameter yang diamati meliputi masa inkubasi, kejadian dan keparahan penyakit, serta jumlah umbi dan bobot umbi. data dianalisis menggunakan anova dan dilanjutkan dengan uji dmrt pada taraf 0,05% apabila berpengaruh nyata. hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi ekoenzim mampu memperlambat masa inkubasi penyakit moler pada tanaman bawang merah. masa inkubasi penyakit moler pada perlakuan tanpa ekoenzim adalah 3 hari, selanjutnya pada konsentrasi 0,2% adalah 4 hari, konsentrasi 0,6% adalah 4,6 hari dan konsentrasi 1% adalah 7 hari. pemberian ekoenzim juga berpengaruh terhadap kejadian dan keparahan penyakit moler. kejadian penyakit moler diamati pada hari ke 14 dan 21 hst. seluruh tanaman uji (100%) pada perlakuan ekoenzim 0% dan 0,2% menunjukkan gejala moler pada 14 hst. sementara kejadian penyakit 100% pada perlakuan 0,6% dan 1% ekoenzim terlihat pada 21 hst. keparahan penyakit menunjukkan variasi antarperlakuan. pada perlakuan kontrol (0%) tingkat keparahan tercatat sebesar 59%, pada konsentrasi 0,2%, 0,6% dan 1% keparahan penyakit sebesar 49,40%, 29,60%, dan 30%. selain itu, ekoenzim juga meningkatkan hasil panen tanaman bawang merah. jumlah umbi meningkat dari 4 umbi/polybag pada perlakuan tanpa ekoenzim menjadi 7,20–11,40 umbi/polybag seiring peningkatan konsentrasi ekoenzim. bobot umbi juga mengalami peningkatan dari 6,60g/polybag pada kontrol menjadi 44,49g/polybag pada konsentrasi ekoenzim 1%. ekoenzim yang diformulasikan dari kulit buah jeruk, nanas, mentimun, pepaya, dan semangka terbukti efektif dalam menekan pertumbuhan fusarium sp. pada tanaman bawang merah secara in vivo. pemberian ekoenzim pada konsentrasi 1% menunjukkan efektivitas tertinggi, yang ditunjukkan oleh masa inkubasi penyakit terpanjang, penurunan persentase keparahan penyakit yang semakin nyata seiring dengan bertambahnya waktu pengamatan, dengan tingkat penekanan penyakit mencapai 49,15%. hasil tersebut mengindikasikan bahwa ekoenzim memiliki efektivitas yang tinggi dalam mengendalikan penyakit moler pada tanaman bawang merah. selain berperan dalam pengendalian penyakit, aplikasi ekoenzim juga memberikan kontribusi positif terhadap peningkatan pertumbuhan dan hasil tanaman bawang merah.



Abstract

Shallots are a horticultural commodity with high economic value in Indonesia. However, production in Aceh experienced a decline in 2024, partly due to an attack by the fungus Fusarium sp., which causes moler disease, which can cause losses of up to 50–80%. Common control methods using synthetic chemical fungicides have the potential to negatively impact the environment, necessitating the need for more environmentally friendly control alternatives. Ecoenzymes are fermented organic materials containing bioactive compounds that have been reported to suppress the growth of pathogenic fungi. This study aimed to test the effectiveness of ecoenzymes made from pineapple, papaya, orange, cucumber, and watermelon peels in suppressing the growth of Fusarium sp. in shallot plants in vivo. The experiment was designed using a Completely Randomized Design (CRD) with four ecoenzyme concentration treatments (0%, 0.2%, 0.6%, and 1%) and five replications. Ecoenzyme application was carried out by soaking the tubers before planting and subsequent applications six times with one-week intervals, as much as 20 ml per plant after Fusarium sp. inoculation. Parameters observed included the incubation period, disease incidence and severity, as well as the number and weight of tubers. Data were analyzed using ANOVA and continued with the DMRT test at the 0.05% level if the effect was significant. The results showed that the application of ecoenzyme was able to slow the incubation period of moler disease in shallot plants. The incubation period of moler disease in the treatment without ecoenzyme was 3 days, then at a concentration of 0.2% was 4 days, a concentration of 0.6% was 4.6 days and a concentration of 1% was 7 days. The administration of ecoenzyme also affected the incidence and severity of moler disease. The incidence of moler disease was observed on days 14 and 21 HST. All test plants (100%) in the 0% and 0.2% ecoenzyme treatments showed moler symptoms at 14 HST. Meanwhile, the incidence of disease was 100% in the 0.6% and 1% ecoenzyme treatments was seen at 21 HST. The severity of the disease showed variation between treatments. In the control treatment (0%) the severity level was recorded at 59%, at concentrations of 0.2%, 0.6% and 1% the severity of the disease was 49.40%, 29.60%, and 30%. Furthermore, ecoenzymes also increased shallot yields. The number of bulbs increased from 4 bulbs per polybag in the non-ecoenzyme treatment to 7.20–11.40 bulbs per polybag as the ecoenzyme concentration increased. Bulb weight also increased from 6.60g/polybag in the control to 44.49g/polybag at a 1% ecoenzyme concentration. Ecoenzymes formulated from the peels of citrus, pineapple, cucumber, papaya, and watermelon proved effective in suppressing the growth of Fusarium sp. in shallots in vivo. Application of ecoenzymes at a 1% concentration demonstrated the highest effectiveness, as evidenced by the longest disease incubation period and a significant decrease in disease severity with increasing observation time, with a disease suppression rate reaching 49.15%. These results indicate that ecoenzymes are highly effective in controlling moler disease in shallots. In addition to its role in disease control, ecoenzyme application also positively contributed to increased shallot growth and yield.



    SERVICES DESK